madrim troops
jeudi, juillet 15, 2004
vegetarian?
VEGETARIAN, REBEL’S IDEOLOGY/ IDEOLOGI PARA PEMBERONTAK
Perut itu seperti kotak alat musik berdawai. Apabila penuh, maka dawai yang dipetik tak akan berbunyi nyaring dan indah. Apabila kotak itu kosong, ketika dawai dipetik, menghasilkan bunyi nyaring yang indah.
-orang bijak-
(dari sebuah buku tentang meditasi)
Beberapa saat yang lalu, saya menerima sms dari seorang teman lama yang saya gak tau siapa. Isinya: ‘boycott all US product’ karena amerika menyerang irak, tanpa resolusi PBB lagi! Tunjukkan solidaritas pada saudara di irak sana. Ada kejahatan kemanusiaan! Pelanggaran HAM! Begitulah intinya! Dan belum selesai, sms itu juga meminta kita memforward pada 12 nomor ponsel lain untuk menunjukkan dan menyebarkan solidaritas anti perang (atau lebih tepatnya: anti USA).
Saya cuma bisa tersenyum miris membacanya. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala. Di kepala saya waktu itu ada banyak gambar sekilas-sekilas berganti cepat seperti film Moulin Rouge. Ada McD, teman-teman saya makan di KFC, menyantap spicy chicken, Pizza Hut, sang koki, orang bule, tank di padang pasir lagi nembak, muka Bush, 21, gangs of new york, diCaprio, barang-barang lucu, kelakuan, budaya kecil impor dari barat, sampai gambar inul di halaman 52 majalah time paling baru… hm… yang seperti itu mau bilang ayo boycott? Lalu di atas angkot 112 sambil meringis kesakitan habis cabut gigi, jari saya gatal untuk langsung me-reply. saya tulis: ‘Mau rebel? Kalo mau beneran rebel, jadilah vegetarian dan petani! Be a vegetarian and a farmer! Dijamin ga bakal tergantung ama kapitalisme global!’ saya kirim, dan tak ada balasan. Padahal saya sangat menanti jawaban dari orang yang tidak saya tau itu. Berharap bisa berdiskusi.
Hm.. dengan kebiasaan hidup orang-orang indonesia (terutama yang tinggal di kota besar), asia dan dunia saat ini, mana mungkin bisa memboycott suatu produk buatan luar negeri. Apalagi buatan wong londo kayak amerika dan inggris. Gak usah makanan dulu, at least, film-nya deh! Bahkan lampu bohlam aja masih tergantung mereka. Bagaimana bangsa indonesia yang sangat sedikit produktif ini bisa bilang ayo boycott? What a hypocrisy! Betapa munafik! It’s a global world. Semua bangsa makin saling tergantung. Asas resiprositas atau berbalasan sangat ada dan berpengaruh dalam hubungan bangsa-bangsa. kita memboycott produk impor, maka buatan kita juga bakal diboycott-kalau keterlaluan dampaknya-. Nggak, bukan berarti saya tidak setuju boycott, cuma boycott banget all USA product, rasanya bukan a clever solution. Tapi menurut saya, lebih merupakan emotional statement resolution, suatu pernyataan yang gak dipikir panjang. Well, may be, clever enough, but not smart! Hehe..
Kenapa gak clever? Karena menurut saya boycott cuma bisa dilakuin dalam suatu komunitas kecil yang penanganan sistemnya dari the most powerful man sampai yang paling bayi bisa ditangani semua. Suatu paguyuban, dimana satu sama lain saling mengenal. Cukup clever untuk boycott secara nasional, tapi cuma untuk rakyat indonesia waktu jaman bambu runcing, karena belum tergantung banget sama keberadaan bangsa lain. Yang pasti, nggak sekarang, kecuali indonesia berubah menjadi negara kuat yang gak manja, jujur, hard worker dan independen. Gak belajar tinggi-tinggi juga gak apa-apa deh, asal mau kerja keras, jujur dan independen dan belajar dari mana saja. Toh pelajaran sesungguhnya bukan dari dunia kampus, tapi dari dunia nyata (ini juga yang terjadi di orang-orang amerika, gak banyak kok dari mereka yang melanjutkan pendidikan ke tingkat perkuliahan. Prinsip mereka, toh tanpa belajar, asal terampil dan mau kerja, bisa kaya). Dan sesungguhnya jenjang pendidikan yang makin tinggi dan tinggi itu juga menjadi salah satu produk barat yang membius dan menjadi candu ketergantungan produk barat. Harvard, Yale, Cambridge, belajar di tempat itu menjadi impian banyak mahasiswa Indonesia. Biar makin pinter, untuk indonesia yang lebih baik, menjadi orang pilihan, apalah alasannya. Dan produk USA yang seperti itu juga, harus di boycott? Mana bisa, sayang..
Orang indonesia terutama anak kotanya sudah begitu ter-amazed sama yang namanya kebudayaan asing. Yang cukup untuk bikin lupa kekayaan bangsa sendiri. Lupa sama sawah-sawah yang bisa bikin kaya satu negara sebesar cina. Lupa akan kangkung, bayam, cabe, padi, merica, semangka, pepaya, yang bisa ditanam di kebun belakang, atau di sawah eyang, sedangkan di eropa dan amerika sana makanan ini merupakan santapan mahal, impor, dan langka. Anak muda perkotaan di Indonesia sekarang lebih suka dan merasa nyaman, sangat makanan rumah, dengan yang namanya Mcd’s fries, kentang goreng biasa, yang jadi luar biasa karena kentangnya dari luar negeri. Ayam impor, sapi impor, jagung impor, bahkan sampai beras impor. Semua yang sebenarnya bisa diproduksi oleh tanah sendiri.
Orang indonesia tidak terbiasa menjadi produsen rupanya (walau produksi prostitusi makin memaraki desa-desa kecil seperti sebuah desa di Tasikmalaya yang akhirnya tergantung pada pendapatan prostitusi).
Nggak bisa disalahin juga sih kalau anak-anak muda indonesia jadi tergilai oleh produk impor, karena buatan impor biasanya emang bagus kualitasnya, dan dalam segi makanan kayak McD, emang sangat nagihin. Very finger-licking good! Semua ke-enakan impor itu bisa bikin lupa ama kekayaan sendiri. Padahal, hwarakadah, Indonesia ini kuaya buanget! Dan untuk tau seberapa kayanya indonesia, gak perlu saya ungkapin satu-satu, karena kita sendiri sebagai orang indonesia pasti dah tau, cuma sering lupanya. Sejak bisa baca, semua anak indonesia pasti dah pernah dicekoki kata-kata seerti ini: Indonesia itu kaya! Gak cuma hasil buminya di laut, ladang, gunung, tapi juga kebudayaannya! Bahasa, tarian, pakaian, musik, cerita, KAYA deh! Dan ketika menginjak pubertas, makin sadar bahwa indonesia kaya akan orang cakepnya. Makin dewasa lagi, sadar akan banyaknya ideologi, banyaknya cara menerjemahkan Tuhan, banyaknya dukun, mak er… (sensor!)
Tapi orang-orang pada lupa! Karena standar nilai kesenangan dan kekayaan pun berubah. Tidak lagi bangsa indonesia yang sederhana, makan hasil bumi sendiri, jujur dan kerja keras. Pokoknya, standar nilai pun jadi tergantung ama standar nilai impor deh!
Ya, emang gak separah itu sih ketergantungan sama impornya bangsa indonesia, cuma.. lumayan parah!
Lalu bagaimana caranya melepaskan diri bangsa ini dari lingkaran setan ketergantungan globalistik ini? Gak mungkin juga kan kalau menutup diri dari dunia luar seketat-ketatnya kayak Jepang jaman dulu (walaupun saya sangat menyukai dan berharap banyak dari ide isolasi ini).
Pasti banyak ide yang terlintas, sekecil apapun tetap berarti untuk indonesia yang lebih baik! Asal beneran dilakuin. Dan satu ide ini, mungkin terdengar klise. Tapi, menurut saya, apapun caranya, yang paling penting adalah ‘menyembuhkan’ mental bangsa dahulu. Mental konsumeristis, manja, dan tergantung ama yang didatengin dari luar. Bukan menikmati hasil produksi tangan sendiri, di atas tanah sendiri. Mental seperti itu, harus diubah menjadi mental Bangga akan kerja keras tangan sendiri.mental produsen yang produktif dan bersungguh-sungguh!
Mau memboycott produk impor? Mau memberontak? Itulah cara yang paling efektif! Melepaskan diri dari mental konsumerisme manja bangsa kita saat ini. Sadari kekayaan sendiri! Mulailah menanami tanah bangsa. jadilah petani lagi! Karena kekuatan dan kekayaan negara panas suam-suam kuku seperti negara indonesia ini ya pertanian. Tidak perlu total menerjuni pertanian dan melupakan kebisaan lain seperti produksi hi-tech, namun apapun pekerjaan dan keahlian kita, buatlah menjadi pendukung produksi hasil bumi indonesia oleh orang-orang indonesia sendiri.
Lalu apa hubungannya dengan vegetarian? Wah, erat sekali! Vegetarian, atau pemakan sayuran, adalah suatu cara hidup yang mendidik penganutnya untuk menghargai (dengan amat sangat) hasil bumi. Menghormati hak hidup dan menikmati kehidupan -sampai mesin tubuh berhenti bekerja karena tua- dari segala mahluk hidup berhidung maupun tidak yang pernah ada di alam semesta tak peduli siapapun penciptanya, sama ataupun tidak. Menghargai alam seperti menghargai diri sendiri. Suatu cara hidup mulia, sulit tapi menyenangkan. Beberapa orang mencibir dan merengut. menilai kaum vegetarian yang tersebar tanpa komunitas yang pasti seperti kaum gypsy, ketakutan karena ketidaktahuan. Orang pikir, buat apa sih susah-susah menggeluti dunia yang menolak kenikmatan daging ayam panggang, kambing guling, kripik kentang rasa sapi BBQ, kepiting rebus, sushi (ada beberapa vegetarian yang masih mengkonsumsi makanan laut dan telur, asal bukan daging merah). Bukankah hasil bumi ada untuk dinikmati manusia? Kufur nikmat banget! Pengkhianat nikmat tuhan sekali!
Padahal, hampir semua agama, atau sistem kepercayaan, mengatakan bahwa segalanya bermula dari makanan, dari perut. Apa yang kita makan, seperti itulah kita. Makanan kotor, panas dan haram, menghasilkan darah yang panas dan tingkah laku yang panas juga. Hampir semua agama mendidik umatnya untuk menjaga dan menyaring apa yang akan dikunyah oleh mulut dan masuk ke perut. Jangan jadikan perut menjadi kuburan. Karena mesin tubuh tak akan berfungsi lancar dengan tumpukan mayat di dalamnya. Sama dengan cara hidup vegetarian yang sangat menjaga dan memperhatikan setiap detil makanan yang masuk ke dalam tubuh agar bebas dari unsur hewaninya.
Pola hidup vegetarian.. bermula dari makanan. Menolak memakan ayam berarti menolak McD, KFC, kripik berasa daging, sampai kaldu sop di warteg. Yang kemudian berlanjut pada menolak jaket kulit, wol, dan segala benda yang mengandung sedikit saja unsur hewani. Yang berarti au revoir Chanel, YSL, bola kulit, tas kulit, sepatu kulit rusa, sabuk kulit ular, selamat tinggal kemewahan. Belum selesai, juga menolak yang namanya eksploitasi binatang, perusakan alam, pengeboman tak guna, dan seterusnya.
Ketika menjadi vegetarian, walau pada awalnya hanya menolak makan sapi, pada akhirnya you’ll be amazed betapa .panjangnya daftar pantangan di tangan, ditambah betapa keras kepalanya kita kemudian. Itulah sebabnya, vegetarian adalah suatu ideologi pemberontakan. Karena vegetarian memberontak nilai yang ada dengan menolak dan menolak segala apa yang telah dihidangkan dengan begitu indahnya di depan mata.
Buddha, Punk, dua ideologi pemberontakan ini contoh dari penganut vegetarian. Gandhi dan Hitler, keduanya pemimpin pemberontakan keras kepala, vegetarian. Walau yang satu penuh damai, yang lain sadis banget.
Bisa dibilang, pemberontak yang paling berpengaruh adalah pemberontak yang vegetarian. Vegetarian mewakili semua yang berbau penolakan, pemberontakan.
Menolak segala unsur hewani, membuat seorang vegetarian harus mencari cara untuk menghidupi diri sendiri dengan cara swasembada pangan. Setidaknya, bersusah-susah jalan kaki sejauh minimal 14 menit hanya untuk bisa dapetin semangka potong setiap pagi dan petang. Akhirnya, sosok vegetarian menjadi sosok mandiri, keras kepala, independen, dan jujur. Yang hanya percaya pada tangan sendiri. Sosok-sosok Gandhi dan Hitler banget, kan?
Perut itu seperti kotak alat musik berdawai. Apabila penuh, maka dawai yang dipetik tak akan berbunyi nyaring dan indah. Apabila kotak itu kosong, ketika dawai dipetik, menghasilkan bunyi nyaring yang indah.
-orang bijak-
(dari sebuah buku tentang meditasi)
Beberapa saat yang lalu, saya menerima sms dari seorang teman lama yang saya gak tau siapa. Isinya: ‘boycott all US product’ karena amerika menyerang irak, tanpa resolusi PBB lagi! Tunjukkan solidaritas pada saudara di irak sana. Ada kejahatan kemanusiaan! Pelanggaran HAM! Begitulah intinya! Dan belum selesai, sms itu juga meminta kita memforward pada 12 nomor ponsel lain untuk menunjukkan dan menyebarkan solidaritas anti perang (atau lebih tepatnya: anti USA).
Saya cuma bisa tersenyum miris membacanya. Berbagai pikiran berkecamuk di kepala. Di kepala saya waktu itu ada banyak gambar sekilas-sekilas berganti cepat seperti film Moulin Rouge. Ada McD, teman-teman saya makan di KFC, menyantap spicy chicken, Pizza Hut, sang koki, orang bule, tank di padang pasir lagi nembak, muka Bush, 21, gangs of new york, diCaprio, barang-barang lucu, kelakuan, budaya kecil impor dari barat, sampai gambar inul di halaman 52 majalah time paling baru… hm… yang seperti itu mau bilang ayo boycott? Lalu di atas angkot 112 sambil meringis kesakitan habis cabut gigi, jari saya gatal untuk langsung me-reply. saya tulis: ‘Mau rebel? Kalo mau beneran rebel, jadilah vegetarian dan petani! Be a vegetarian and a farmer! Dijamin ga bakal tergantung ama kapitalisme global!’ saya kirim, dan tak ada balasan. Padahal saya sangat menanti jawaban dari orang yang tidak saya tau itu. Berharap bisa berdiskusi.
Hm.. dengan kebiasaan hidup orang-orang indonesia (terutama yang tinggal di kota besar), asia dan dunia saat ini, mana mungkin bisa memboycott suatu produk buatan luar negeri. Apalagi buatan wong londo kayak amerika dan inggris. Gak usah makanan dulu, at least, film-nya deh! Bahkan lampu bohlam aja masih tergantung mereka. Bagaimana bangsa indonesia yang sangat sedikit produktif ini bisa bilang ayo boycott? What a hypocrisy! Betapa munafik! It’s a global world. Semua bangsa makin saling tergantung. Asas resiprositas atau berbalasan sangat ada dan berpengaruh dalam hubungan bangsa-bangsa. kita memboycott produk impor, maka buatan kita juga bakal diboycott-kalau keterlaluan dampaknya-. Nggak, bukan berarti saya tidak setuju boycott, cuma boycott banget all USA product, rasanya bukan a clever solution. Tapi menurut saya, lebih merupakan emotional statement resolution, suatu pernyataan yang gak dipikir panjang. Well, may be, clever enough, but not smart! Hehe..
Kenapa gak clever? Karena menurut saya boycott cuma bisa dilakuin dalam suatu komunitas kecil yang penanganan sistemnya dari the most powerful man sampai yang paling bayi bisa ditangani semua. Suatu paguyuban, dimana satu sama lain saling mengenal. Cukup clever untuk boycott secara nasional, tapi cuma untuk rakyat indonesia waktu jaman bambu runcing, karena belum tergantung banget sama keberadaan bangsa lain. Yang pasti, nggak sekarang, kecuali indonesia berubah menjadi negara kuat yang gak manja, jujur, hard worker dan independen. Gak belajar tinggi-tinggi juga gak apa-apa deh, asal mau kerja keras, jujur dan independen dan belajar dari mana saja. Toh pelajaran sesungguhnya bukan dari dunia kampus, tapi dari dunia nyata (ini juga yang terjadi di orang-orang amerika, gak banyak kok dari mereka yang melanjutkan pendidikan ke tingkat perkuliahan. Prinsip mereka, toh tanpa belajar, asal terampil dan mau kerja, bisa kaya). Dan sesungguhnya jenjang pendidikan yang makin tinggi dan tinggi itu juga menjadi salah satu produk barat yang membius dan menjadi candu ketergantungan produk barat. Harvard, Yale, Cambridge, belajar di tempat itu menjadi impian banyak mahasiswa Indonesia. Biar makin pinter, untuk indonesia yang lebih baik, menjadi orang pilihan, apalah alasannya. Dan produk USA yang seperti itu juga, harus di boycott? Mana bisa, sayang..
Orang indonesia terutama anak kotanya sudah begitu ter-amazed sama yang namanya kebudayaan asing. Yang cukup untuk bikin lupa kekayaan bangsa sendiri. Lupa sama sawah-sawah yang bisa bikin kaya satu negara sebesar cina. Lupa akan kangkung, bayam, cabe, padi, merica, semangka, pepaya, yang bisa ditanam di kebun belakang, atau di sawah eyang, sedangkan di eropa dan amerika sana makanan ini merupakan santapan mahal, impor, dan langka. Anak muda perkotaan di Indonesia sekarang lebih suka dan merasa nyaman, sangat makanan rumah, dengan yang namanya Mcd’s fries, kentang goreng biasa, yang jadi luar biasa karena kentangnya dari luar negeri. Ayam impor, sapi impor, jagung impor, bahkan sampai beras impor. Semua yang sebenarnya bisa diproduksi oleh tanah sendiri.
Orang indonesia tidak terbiasa menjadi produsen rupanya (walau produksi prostitusi makin memaraki desa-desa kecil seperti sebuah desa di Tasikmalaya yang akhirnya tergantung pada pendapatan prostitusi).
Nggak bisa disalahin juga sih kalau anak-anak muda indonesia jadi tergilai oleh produk impor, karena buatan impor biasanya emang bagus kualitasnya, dan dalam segi makanan kayak McD, emang sangat nagihin. Very finger-licking good! Semua ke-enakan impor itu bisa bikin lupa ama kekayaan sendiri. Padahal, hwarakadah, Indonesia ini kuaya buanget! Dan untuk tau seberapa kayanya indonesia, gak perlu saya ungkapin satu-satu, karena kita sendiri sebagai orang indonesia pasti dah tau, cuma sering lupanya. Sejak bisa baca, semua anak indonesia pasti dah pernah dicekoki kata-kata seerti ini: Indonesia itu kaya! Gak cuma hasil buminya di laut, ladang, gunung, tapi juga kebudayaannya! Bahasa, tarian, pakaian, musik, cerita, KAYA deh! Dan ketika menginjak pubertas, makin sadar bahwa indonesia kaya akan orang cakepnya. Makin dewasa lagi, sadar akan banyaknya ideologi, banyaknya cara menerjemahkan Tuhan, banyaknya dukun, mak er… (sensor!)
Tapi orang-orang pada lupa! Karena standar nilai kesenangan dan kekayaan pun berubah. Tidak lagi bangsa indonesia yang sederhana, makan hasil bumi sendiri, jujur dan kerja keras. Pokoknya, standar nilai pun jadi tergantung ama standar nilai impor deh!
Ya, emang gak separah itu sih ketergantungan sama impornya bangsa indonesia, cuma.. lumayan parah!
Lalu bagaimana caranya melepaskan diri bangsa ini dari lingkaran setan ketergantungan globalistik ini? Gak mungkin juga kan kalau menutup diri dari dunia luar seketat-ketatnya kayak Jepang jaman dulu (walaupun saya sangat menyukai dan berharap banyak dari ide isolasi ini).
Pasti banyak ide yang terlintas, sekecil apapun tetap berarti untuk indonesia yang lebih baik! Asal beneran dilakuin. Dan satu ide ini, mungkin terdengar klise. Tapi, menurut saya, apapun caranya, yang paling penting adalah ‘menyembuhkan’ mental bangsa dahulu. Mental konsumeristis, manja, dan tergantung ama yang didatengin dari luar. Bukan menikmati hasil produksi tangan sendiri, di atas tanah sendiri. Mental seperti itu, harus diubah menjadi mental Bangga akan kerja keras tangan sendiri.mental produsen yang produktif dan bersungguh-sungguh!
Mau memboycott produk impor? Mau memberontak? Itulah cara yang paling efektif! Melepaskan diri dari mental konsumerisme manja bangsa kita saat ini. Sadari kekayaan sendiri! Mulailah menanami tanah bangsa. jadilah petani lagi! Karena kekuatan dan kekayaan negara panas suam-suam kuku seperti negara indonesia ini ya pertanian. Tidak perlu total menerjuni pertanian dan melupakan kebisaan lain seperti produksi hi-tech, namun apapun pekerjaan dan keahlian kita, buatlah menjadi pendukung produksi hasil bumi indonesia oleh orang-orang indonesia sendiri.
Lalu apa hubungannya dengan vegetarian? Wah, erat sekali! Vegetarian, atau pemakan sayuran, adalah suatu cara hidup yang mendidik penganutnya untuk menghargai (dengan amat sangat) hasil bumi. Menghormati hak hidup dan menikmati kehidupan -sampai mesin tubuh berhenti bekerja karena tua- dari segala mahluk hidup berhidung maupun tidak yang pernah ada di alam semesta tak peduli siapapun penciptanya, sama ataupun tidak. Menghargai alam seperti menghargai diri sendiri. Suatu cara hidup mulia, sulit tapi menyenangkan. Beberapa orang mencibir dan merengut. menilai kaum vegetarian yang tersebar tanpa komunitas yang pasti seperti kaum gypsy, ketakutan karena ketidaktahuan. Orang pikir, buat apa sih susah-susah menggeluti dunia yang menolak kenikmatan daging ayam panggang, kambing guling, kripik kentang rasa sapi BBQ, kepiting rebus, sushi (ada beberapa vegetarian yang masih mengkonsumsi makanan laut dan telur, asal bukan daging merah). Bukankah hasil bumi ada untuk dinikmati manusia? Kufur nikmat banget! Pengkhianat nikmat tuhan sekali!
Padahal, hampir semua agama, atau sistem kepercayaan, mengatakan bahwa segalanya bermula dari makanan, dari perut. Apa yang kita makan, seperti itulah kita. Makanan kotor, panas dan haram, menghasilkan darah yang panas dan tingkah laku yang panas juga. Hampir semua agama mendidik umatnya untuk menjaga dan menyaring apa yang akan dikunyah oleh mulut dan masuk ke perut. Jangan jadikan perut menjadi kuburan. Karena mesin tubuh tak akan berfungsi lancar dengan tumpukan mayat di dalamnya. Sama dengan cara hidup vegetarian yang sangat menjaga dan memperhatikan setiap detil makanan yang masuk ke dalam tubuh agar bebas dari unsur hewaninya.
Pola hidup vegetarian.. bermula dari makanan. Menolak memakan ayam berarti menolak McD, KFC, kripik berasa daging, sampai kaldu sop di warteg. Yang kemudian berlanjut pada menolak jaket kulit, wol, dan segala benda yang mengandung sedikit saja unsur hewani. Yang berarti au revoir Chanel, YSL, bola kulit, tas kulit, sepatu kulit rusa, sabuk kulit ular, selamat tinggal kemewahan. Belum selesai, juga menolak yang namanya eksploitasi binatang, perusakan alam, pengeboman tak guna, dan seterusnya.
Ketika menjadi vegetarian, walau pada awalnya hanya menolak makan sapi, pada akhirnya you’ll be amazed betapa .panjangnya daftar pantangan di tangan, ditambah betapa keras kepalanya kita kemudian. Itulah sebabnya, vegetarian adalah suatu ideologi pemberontakan. Karena vegetarian memberontak nilai yang ada dengan menolak dan menolak segala apa yang telah dihidangkan dengan begitu indahnya di depan mata.
Buddha, Punk, dua ideologi pemberontakan ini contoh dari penganut vegetarian. Gandhi dan Hitler, keduanya pemimpin pemberontakan keras kepala, vegetarian. Walau yang satu penuh damai, yang lain sadis banget.
Bisa dibilang, pemberontak yang paling berpengaruh adalah pemberontak yang vegetarian. Vegetarian mewakili semua yang berbau penolakan, pemberontakan.
Menolak segala unsur hewani, membuat seorang vegetarian harus mencari cara untuk menghidupi diri sendiri dengan cara swasembada pangan. Setidaknya, bersusah-susah jalan kaki sejauh minimal 14 menit hanya untuk bisa dapetin semangka potong setiap pagi dan petang. Akhirnya, sosok vegetarian menjadi sosok mandiri, keras kepala, independen, dan jujur. Yang hanya percaya pada tangan sendiri. Sosok-sosok Gandhi dan Hitler banget, kan?
