madrim troops
samedi, mai 01, 2004
Ewa, pemain biola jalanan
Oleh: Nona Surabaya Jeumpa
Kamu tahu legenda Ewa? Mungkin nggak. Karena yang tahu cerita ini hanya anak-anak dan masyarakat kelas bawah, kelas ga berumah, nomaden, gak tau sekolah. Dan kamu bukan salah satunya kan? Ewa memang legenda bawah tanah, yang menjadi cerita elit universal. Legendanya seperti legenda peniup seruling dari hamlin.
Siapa Ewa? Hm… dia adalah legenda nyata yang terlalu istimewa untuk hidup. Dia penggesek biola terhebat di dunia. Mungkin Yehudi Menuhin masih lebih hebat, tapi apa yang dilakukannya pada masyarakat bawah tanah di seluruh dunia adalah apa yang membuatnya sangat hebat.
Kalau kamu pernah menyusuri jalanan kecil kota-kota dunia, jalanan terpencil yang jarang terlihat, satu dua kali kalau beruntung kamu bisa melihat legenda itu.
Ewa adalah pemain panggung dunia, tidak hanya di gedung besar, tetapi lebih banyak di panggung jalanan kumuh rakyat dari bawah tanah. Buat apa? Entah, tapi menurut legenda, setelah ia bermain musik di tengah masyarakat bawah tanah itu, satu atau dua anak menghilang begitu saja.
Legendanya, Ewa adalah dewa harmoni, yang permainannya mampu membius semua telinga mahluk hidup, dan menipu jiwa semua mahluk hidup yang mendengarnya, sehingga mau mengikuti segala keinginan sang Dewa.
Ada yang bilang, ia sosok yang ditakuti, karena kedatangannya berarti akan adanya kehilangan dua anak, entah anak siapa, katanya untuk tumbal, untuk dimakan, untuk keindahan musiknya.
Ada yang bilang, kedatangannya berarti berkah, karena anak-anak yang diambil kebanyakan adalah anak-anak paling bandel yang keberadaannya hanya merusak ketentraman daerah-daerah slum itu.
Katanya, Ewa adalah sang Dewa yang menyusup berganti-ganti pada pemain biola manapun yang main di panggung dunia. Katanya, Ewa adalah hanya satu orang yang berganti nama lain di panggung.
Ah, begitu banyak katanya. Selayaknya Urban Legend lain.
Legenda ini aku dapat dari seorang ibu penjual kembang ziarah di Jogja.
Setelah ibu penjual kembang, entah kenapa yang bercerita kepadaku tentang legenda ini makin banyak saja. Dari tukang ojek, kakek pemulung rokok waktu aku asik ngerokok di jalanan sepi, dan dari anak-anak kecil tukang copet yang minta rokokku dan asik ngedeprok gitu aja disebelahku, dan meminta apiku. Hebat! Udah jago banget dia memainkan lintingan putih itu! Aku sendiri baru tiga tahun ini ngerokok, masih kesusahan memegangnya, sering linting putih yang kupegang ini jatuh tiba-tiba, sampai aku harus beli lagi yang baru karena kebanyakan yang terbuang sebelum habis. Keasikan ini kujalani sembunyi-sembunyi tentu saja. Kalau ketahuan, entah mama akan melakukan apalagi, mungkin pengawalan makin ketat, dengan sopir, dua bodyguard, dan satu embok emban yang harus sekamar denganku sampai aku tidur. Hah! Jangan sampe satu-satunya kenikmatan linting ini diambil juga deh!
Di saat kemudian, aku juga menemukan bahwa legenda ini tidak hanya terjadi di negeri ini. Kawan-kawanku dari LSM-LSM bawah tanah di negara-negara ketiga. Versinya memang beda-beda, namanya juga beda-beda, ada yang namanya legenda Devali di India Selatan dan Srilangka, ada yang namanya legenda chengken yang artinya sincere. Macam-macam! Tapi nyata!
Ini hari ketiga aku pindah ke kota pelajar penuh kendaraan dua roda ini. Kota ini sungguh sangat jauh berbeda dengan kotaku dulu, yang penuh keruwetan meropolitan.
Kata dokter aku depresi. Depresi abis. Sehingga aku dianjurkan pindah kuliah ke tempat yang lebih tenang, lebih dekat dengan masyarakat yang masih lebih sederhana dan tradisional.
Katanya, aku orang yang ga tahan tekanan, katanya aku terlalu baik untuk hidup di kota metropolitan. Katanya aku terlalu percaya ama orang. Katanya aku orang yang sangat gak ambisius. Katanya,katanya… entah alasan apalagi.
(Sebenarnya aku berterimakasih pada dokter, karena dalam analisa keahliannya membuat mama terbujuk juga untuk melepas aku sendiri di kota ini)
Mungkin aku memang sangat nggak ambisius. Mungkin aku memang orang yang sangat ga ber-rencana. Aku emang gak suka ama rencana, janji. Aku ga percaya masa depan. Padahal dari tes IQ waktu SMA aku termasuk lumayan cerdas, dan semua orang langsung kagum dan percaya kalo masa depanku pasti sangat cerah. Aneh! Semua orang kagum dengan semua yang aku punya. Tapi aku gak pernah ngerasa bangga ama semua yang udah kucapai. Karena aku ga pernah ngerasa punya sesuatu yang patut dikagumi. Aku punya banyak prestasi, itu wajar, karena aku mati-matian berusaha, karena ayah adalah orang sempurna di dunia. Mama juga gak pernah bilang aku sudah cukup berprestasi. Bisa dibilang, aku gak puas ama hidupku. Dan orang-orang terpenting dalam hidupku juga gak pernah puas. Puncaknya waktu aku gak tembus pilihan pertama UMPTN. Dunia runtuh! Padahal aku sangat suka pilihan keduaku itu. Sebenarnya aku bersyukur gajadi masuk FKUI. Aku lebih suka belajar Psikologi! Mendalami orang lain… tapi sangat jelas, pilihanku ga sesuai dengan harapan mama papa.
Aku anak tunggal, jadi aku gapunya role model, gapunya tempat curhat.
Teman-teman sekolah juga selalu melihatku sebagai sosok sempurna, sampai-sampai mereka takut untuk berteman denganku. Haaaaaa…. Aku capek! Aku capek hidup!
Kuliah dimulai empat hari lagi. Sekarang aku mengitari kota ini dengan kaki. Aku suka jalan kaki. Mungkin, darah pengembara kakek yang sering kujuluki eyang jipsi begitu kental dalam tubuh ini. bisa dibilang, dialah sumber kebahagiaanku selama hidup sampai saat ini. aku paling suka saat ia kembali dari perjalanan keliling dunia, kalau sudah begitu, aku langsung menantinya di teras belakang sambil membawa kue, teh hijau, dan tangan yang siap memijat. Kakek anti banget makan daging. Entah kenapa. Tapi kebiasaannya itu kutiru, karena kakek adalah pahlawanku sejak kecil. Lalu, sehabis kupijat, kakek kupaksa bercerita tentang pengembaraannya. Baru setelah beranjak dewasa aku baru tahu jelas apa pekerjaannya: arkeolog yang sekaligus fotografer berbagai media massa dunia. Kakekku, adalah indiana jones versi indonesia! Aku selalu kagum dengan cara hidupnya. Kalau bisa kuruntun, sepertinya masa-masa aku bercengkerama dengan kakek adalah masa terindah dalam hidup. Aku tertawa, bahagia, hidup, hanya saat itu. Saat-saat paling jujur dalam hidup. Sampai suatu hari di hari ulang tahunku ke duabelas tahun, kakek memberikan hadiah terakhir: Buku catatan perjalanannya yang terakhir. Kakek memang selalu memintaku untuk menjaga sepuluh lemari bukunya. Dan aku, belajar membaca dari buku catatannya.
Kakek meninggal dalam konflik dua suku masyarakat pedalaman di Irian. Katanya ada yang tidak suka dengan kehadiran kakek, karena dianggap membawa misi keagamaan yang mengancam sistem religi mereka. Katanya kakek ditusuk panah nyasar. Entah apalagi. Yang pasti, kakek meninggal.
Aku yang baru naik kelas 2 SMP, begitu hancur. Seandainya aku lebih besar mungkin aku nekat ke irian langsung. Tapi aku tak berdaya. Tubuh kakek ada di depan mataku waktu itu. Begitu hancur, sampai air mataku kering, begitu keringnya sampai aku tak bisa menangis lagi sampai saat ini. Sejak saat itu, aku tidak lagi hidup, karena mama makin memaksaku belajar,belajar, dan ngumpulin prestasi terus, dan terus.
Capek!
Cita-cita? Hm.. aku ga tauk. Dulu aku pernah pengen jadi kayak kakek. Tapi mama bilang, waktu umurku delapan taun, itu gak pantes, ketika kutanya kenapa, mama cuma bilang, kamu kan pengen jadi dokter! Jangan berubah lagi dong! Nanti nyesel kayak mama. Well, sejak saat itu kuyakinkan diri bahwa aku memang mau jadi dokter. Pasti keren. Mama juga seneng.
Mama memang ada sejarah nggak enak dengan perjalanan perkuliahannya. Mama gak bisa masuk kedokteran karena buta warna. Padahal sejak kecil ia sudah berusaha mati-matian (mungkin lebih gila dari yang kulakukan, karena ia melakukannya dengan kesadaran sendiri), mama ambisius, keras kepala, gak mau kalah. Suatu sifat yang sangat hebat, hanya saja terlalu hebat. Hingga mama pernah menipu waktu tes kesehatan, menukar data kesehatan mata dengan orang lain. Tapi ketahuan. Belum sampai satu semester, akhirnya ketahuan juga waktu ujian anatomi atau sesuatu semacam itu.(aku ga begitu tertarik untuk tau apa aja yang dipelajari. Buat aku, cukup ngeliat kodok dibetet waktu sma. Abis itu, nggak lagi deh!) Dan mama dipecat, di drop out tidak hormat. Sejak itu ia gak bisa kuliah lagi. Buat mama, kesempurnaan adalah hidup sewajarnya. Jadi nomor satu atau langsung mati aja. The best and the rest. Itu ideologi mama. Makanya, begitu jatuh, ia langsung jatuh. Susah bangkit lagi. Lalu, mama langsung nikah dengan orang yang dijodohkan oleh nenek, karena sama-sama orang Padang, katanya. Sudah cukup malu yang ditanggung karena tingkah mama, jadi mama harus menutup aib keluarga ini dengan menerima pinangan keluarga terhormat. Dan Papaku yang baru pulang belajar dari Boston dalam usia yang sudah terlalu cukup untuk punya dua anak-lah orang itu.
Lalu, enam tahun kemudian lahirlah aku. Tanpa adik tanpa kakak.
Saat ini, aku terus berjalan, jalan dan jalan. Hingga aku sampai ke suatu tempat yang namanya peziarahan Sendangsono, yang katanya dirancang oleh pengarang terbaik favoritku, Romo Mangun.
Disinilah aku bertemu legenda itu.
Begini ceritanya, waktu itu aku duduk termenung di sebuah bangku semen. Sangat sepi, dan saat itu menjelang malam, pukul tujuh malam. Aku disana sudah lima jam lebih, tak berpindah. Sambil mengisap lintingan berasap, merusak paru-paru, dan ngelamun.
Tiba-tiba saja telingaku menangkap sesuatu gelagat dan bunyi aneh, melengking, tapi sangat merdu. Tiba-tiba saja kusadari semuanya senyap. Tak ada kicau burung, tak ada derik jangkrik, bahkan udara seperti berhenti berhembus memainkan daun-daun rontok. Hanya satu suara yang terhembus, lengkingan merdu itu! Begitu penasaran, karena bunyi itu semakin tersusun menjadi harmoni, begitu bahagia… indah… mengharukan…
Aku mengelilingi tempat itu, sampai akhirnya aku menemukan sesosok tubuh yang bergoyang-goyang dibawah pohon beringin.
Aku terpana… hampir terbius, kalau bukan orang skeptis, aku mungkin sudah terbang. Tapi sekarang aku masih sadar, untuk memperhatikan bahwa aku ternyata tidak sendiri. Di sekitarku ada banyak orang yang juga menonton, dibalik persembunyiannya. Mereka takut, tapi juga ingin melihat. Bukan orang saja, ternyata burung-burung, jangkrik, angin, semuanya berkumpul disini. Bahkan burung pun terdiam tersaingi kicauannya. Jangkrik pun tak mau merusak suasana seindah itu. Hanya angin yang bekerja, mengipasi si empunya suara agar tidak kepanasan.
Semua orang terpaku. Semua kucing, anjing buduk, burung, terpaku… juga sosok-sosok tolol manusia yang ada disini.
Keremangan malam malah menerangkan suasana.
Dialah Ewa, sang legenda hidup.
Pertemuanku dengan legenda ini mempertemukan aku dengan ribuan kisah lain, kisah hidup dunia, yang membuat aku belajar hidup lebih banyak lagi.
Ini adalah kisah perjumpaanku dengan sang legenda.
Ternyata legenda hanyalah sebuah kisah biasa hidup seorang manusia biasa.
Sebuah kisah hidup biasa manusia biasa, yang membawa perubahan kehidupan manusia lain.
xxx
bocah pelintingan
“Nyuwun api, bos!” suara anak kecil itu menjawil bahuku dari belakang. Entah kenapa anak kecil maniak linting putih ini memanggilku bos, dan membuat kawan-kawan gerombolan nomadennya memanggilku dengan sebutan itu juga. Dan ini sudah hari kedua puluh dua mereka memanggilku dengan sebutan aneh itu.
Dulu, setauku di kotaku dulu sebutan ini cuma dipake para preman jalanan, tukang calo tiket jalanan, tukang palak kudisan… kupikir sebutan ini cuma ala jakarta aja. Ternyata, jalanan ya jalanan. Satu legenda jalanan aja bisa jadi legenda jalanan universal, seluruh dunia, apalagi cuma sebutan.
Anak ini langsung kusodorkan lintinganku yang masih menyala-nyala.
Aku sudah biasa dengan kebiasaan anak ini. hampir tiap malam sampai pagi aku ndhodhok alias jongkok di jalanan raya yang sangat sepi ini, ngelinting berdua, atau lebih, dengan kawan-kawannya, atau dengan rombongan pemuda jalanan sambil main gapleh atau catur.
Kadang cukup dalam diam saja, aku mengamati mereka. Kadang aku mengadu mereka gapleh atau catur, sampai mereka bosen karena penasaran, aku selalu menang. Mereka gak tau aku juga dah bosen menang terus, dengan mudah. Ingin sekali-kali aku mengalah, tapi mereka tau, dan menganggap aku licik, gak asik, gak jantan. Akhirnya, aku dengan cepat disingkirkan dari permainan. Dan kembali menjadi pengamat pasif, yang jongkok di pinggir jalan sambil ngasepin paru-paru.
Anak kecil ini yang menghibur. Walau cukup menemani dalam diam saja. Toh aku emang nyari ketenangan disini.
Awalnya aku gak peduli dengan keberadaannya. Namun setelah beberapa kali aku nongkrong berbagi lintingan plus api bersamanya, aku menemukan suatu kejutan menarik darinya. sangat menarik! Hal yang gak pernah aku duga.
Hari itu, aku pulang dari kerjaan ngajar privat biola. Dan bukannya langsung pulang ke rumah kontrakan, aku langsung main ke tongkrongan biasa. Waktu itu pukul sepuluh malam.
Begitu sampai, aku ngambil pojok yang biasa. Jongkok, lalu ngebakar batangan cengkeh, dan mulai memasukkan asapnya kedalam tubuh. Sejam kemudian jawilan itu datang. Spontan langsung kusodorkan lintingan.
“Biola to, bos?” bocah ini yang kali itu datang membawa dua bocah lain tiba-tiba bertanya.
Aku masih kaget, karena memang asik melamuni masa lalu. Kontan aja aku langsung noleh, ngeliat mereka bertiga. Dan baru kali itu kuperhatikan sosok bocah bandel ini.
Ia masih sepuluh tahunan, t-shirt lusuh, robek di beberapa tempat, dan celana sd yang tertutup t-shirt yang super XL itu.
“He-eh” dan aku masih memperhatikan mereka. “Siapa nih?” mataku menunjuk pada dua bocah ingusan lain, yang sama-sama plontos, ingusan, kira-kira 120 cm, yang satu cengar-cengir melulu, dan yang satu lagi sepertinya bocah yang agak kalem dan penakut.
“ aku bapak angkat mereka! Anak-anakku lo mereka ini!” ujarnya sangat bangga, sambil mengeplak kepala dua bocah itu.
“Ha?” hehe… kontan aku langsung ketawa, kaget! Hahaha…. Baru kali ini nih nemu yang kayak gini! Anak sepuluh taun berani-beraninya jadi bapak angkat dua bocah lain yang umurnya kira-kira sekitar lima sampai tujuh tahun. “Kok bisa? Kamu kan masih kecil banget!”
“Lha mesti bisa tho bos! Kalo nggak, bocah-bocah iki ora ono sing urus!”
“Loh, kamu sendiri? Yang ngurus siapa?”
“Aku? Ya… mas Kebo. Tapi mas kebo lagi gak disini, dia ke Jakarta, ora balik-balik.”
“Oh…”
lalu ia memperkenalkan dua ‘anaknya’: Joko dan Paijo. Ia sendiri mengaku sebagai Kasman, “tapi aku minta dipanggil Romo Ewa sama dua anakku.”
Ha? Apa dia bilang?
“Ewa?”
“Iya bos, wah bos sih dateng dari Jakarta, dadine ora ngerti Ewa.”
“Emang Ewa tuh siapa?”
“Wah, Ewa iku wong sakti, bos!”
Joko, yang kalem tiba-tiba berbicara: “Romo Ewa wong sakti, dolan rebab sing kayak gitar! Bapak kan ora sakti kayak Romo Ewa!”
“Weis! Ora sopan! Ojo nyela bapakmu!”
Sementara Paijo yang tampak bandel sebandel “bapak” -nya, dari tadi berjalan terus mengelilingi seputar jalan ini, mengganggu orang-orang yang lagi gapleh, catur, ngobrol sana-sini, gak bisa diam. Lalu ia menghampiri kami: “Romo, aku njaluk udhutte” (Bapak, aku minta rokoknya)
“Weh! Ora oleh! Iki rokok oleh kanggo wong dewasa, sing wis gede kayak romo. Kowe bocah cilik! Wes, ajak dolan adekmu iki!” (weh! Gak boleh! Ini rokok boleh buat orang dewasa, kayak bapak. Kamu anak kecil! Dah, ajak maen adikmu aja!)
“Ah, Romo pelit!”
“Heh! Tak ceples ya kupingmu!”
“Iya, iya Romo, aku tak dolan karo Joko!”
hihihi… aku nyengir-nyengir aja ngeliatnya. Yang barusan kulihat itu kayak lenong! Atau.. apa namanya? Ketoprak! (bukan toprak yang kutraktir buat tiga bocah ini)
“Ewa iku,bos..”
“eh, ntar, kenapa kamu panggil aku bos?”
“Lha, kan orang Jakarta yang gedean pasti dipanggil bos. Mas Kebo yang ngasihtau”
oh… aku merapatkan jaket jeans gede dan topiku.
“Yaudah, ewa tu siapa?”
“Dia itu bos, orang yang paling hebat deh!”
belum selesai ceritanya, tanpa sepengetahuanku, si Paijo membunyikan suatu alat musik. Bukan, bukan biolaku. Tapi rebab! Ah, rupanya di seberang kami ia menemukan kakek pengemis yang memakai rebab. Mungkin ia menawarkan diri untuk menggantikan tugas si kakek yang kini terduduk disebelahnya.
“Paijo emang jago ngerebab, bos. Tuh, si kakek yang ngajarin. Lagu-lagunya dia baru bisa tiga.”
Wah…
“Bos, boleh coba biolanya nggak?”
He? “coba aja.”
“JO! Paijo! Sini!” yang dipanggil pun langsung menghentikan kegiatannya dan berlari-lari ke tempat ini.
“Iki, coba!”
“Wah.ini,romo? Kok kayak rebabnya Romo Ewa? Tak coba ya?”
beberapa detik kemudian mengalunlah alunan harmoni macapat jawa dari biolaku. Hebat! Bocah jalanan ini bisa menguasai biolaku! Tapi kok bisa?
Penjelasan si Kasman itu kemudian menjawab semuanya. Dan aku sudah menduganya.
Jadi, kenapa?
“Dari Romo Ewa.”
Plung, lintingan berasap yang kupegang terjatuh ke selokan.
xxx
c a t a t a n e k s p e d i s i p e n e l u s u r a n k a u m j i p s i
10 Mei 1978, Mannheim, Republik Federal Jerman
peniup seruling dari hamlin
(der Rattenfanger von Hameln)
Alkisah, pada hari yohanes dan paulo tanggal 26 Juni 1284, sejumlah anak di kota Hamlin, dibawa alunan irama seruling seorang pengembara, menghilang ke arah timur.
The legend of the Pied Piper of Hamelin,
tulisan di gereja Mark…(yang bagian
ini ga jelas, udah lapuk kertasnya)
Tahun 1284, di kota hamlin muncul seorang laki-laki yang sangat tampan. Dia menyebut dirinya sebagai penangkap tikus yang terkenal.
Begitu dia meniup serulingnya, tikus-tikus dari seluruh penjuru kota berkumpul di sekelilingnya. Lalu laki-laki itu memimpin barisan besar pasukan tikus itu sampai ke sungai Weser, membuat tikus-tikus mati tenggelam.
Tetapi, penduduk kota mengingkari janjinya, mereka menolak untuk memberikan imbalan.
Tragisnya, itu terjadi pada hari Yohanes dan Paulus, yaitu tanggal 26 Juni.
Laki-laki itu datang kembali ke kota dan meniup serulingnya sehingga mengumpulkan anak laki-laki dan perempuan.
Untuk membalas dendam, dia membawa anak-anak dan menghilang ke guning Hovenberg.
Para orang tua di kota Hamelin sangat bersedih. Mereka mencari anak-anaknya. Namun tidak menemukannya.
Katanya, jumlah anak yang hilang saat itu ada 130 orang.
…………..
15 mei 1978, Heidelberg
catatan dari seorang anak buta yang berhasil lolos dari laki-laki penari seruling tersebut::
“Kalau ada yang memberitahukan tempat ini pada seseorang, tamnatlah riwayatku,” kata Laki-laki itu sambil naik ke puncak guning yang rimbun. Dia menemukan orang kedua dan orang kelima yang telah kabur.
“Kalian ingin tahu dimana ini? Disini bukan Hein yang ada di Rhein.”
……………..
21 mei 1978, Hameln, kota yang dilewati sungai Weser
Seorang penjual buku bangsa mesir di kota ini menunjukkan satu buku sangat tua,, bercerita tentang legenda-legenda Czecho-slovakia. Catatan seorang kepala biara dari Olomouc, a city in central Moravia.
Pada abad 13 warga desa menderita karena setan, tapi mereka tertolong oleh 130 malaikat.
Mereka berwajah buruk, jika dilihat dari luar, benar-benar mirip setan kecil”
(catatan sang cucu buat kakek: (yang ini ditulis di kertas lain)
buat kakek, aku nemuin cerita yang sangaaaat sama dengan catetan kakek. Beneran loh!
Ini ceritanya aku temuin di komik! Swear! Namanya, kek, komik Master Keaton, nomer lima. Katanya juga legenda ini nyata ya kek? Besok aku bacain buat kakek ya?
Dari Si cucu jipsi,
29 juni 1992)
……………………..
minggu terakhir Juni 1992 (aku masih tujuh taun), waktu itu masih pagi, jam lima subuh
Mister eyang jipsi, ceritain lagi dong yang kemarin, kan ceritanya belum selesai… ayo, katanya mau bagian yang paling seru, katanya mau cerita kalo itu cerita beneran…
Ayo dong kek…
“ Sabar anoman kecil, tuh muka kamu masih banyak pulaunya!”
huu…
“Kakek mau ketemu temen kakek, ga bisa cerita sekarang.”
“Ikut”
“dia orang Jepang, nanti kamu bingung lagi.”
“Ikut…”
“Nanti kamu bosen, pengen pulang”
“Nggak”
“Nonton kartun aja ya di rumah”
“Aku bawain dompet kakek, kutunggu di jip ya, kek” (waktu itu aku langsung lari-lari masuk jip dengan kacamata kakek, dompet, dan buku catatan kakek)
kakek gabisa nolak.
“aku bakal kalem deh kek. Suwer (swear)… janji!”
kalem? Hehe… waktu itu, awalnya sih emang kalem banget, tapi cuma sepuluh menitan. Kakiku langsung gatel, mataku gabisa diem, langsung lari-lari ngiterin rumah gede itu. Ya salah sendiri si orang jepang itu ternyata rumahnya sangat besar, banyak benda-benda aneh lagi! Lebih aneh dari yang punya kakek! Ada baju tentara yang kayak film samurai jepang. Ada dua kayu kecil, tipis, tapi yang satu ada senarnya. Katanya itu rebabnya orang Afrika. Dan banyaak benda-benda aneh lain. Sampe aku ngabisin belasan lembar di buku catatan penemuan harian yang kemudian kucatatkan malamnya sepulang dari rumah orang jepang ini.
dan untung aja, si orang Jepang gak marah dengan kelakuan si anoman cilik ini. malahan dia ngasih tau macem-macem. Huh, ternyata dia anoman juga, tapi dari Jepang.
Hehe… petakilannya sama!
Dan mau gak mau, kakek nimbrung, sambil ngejelasin tiap barang yang kutunjuk. Masalahnya si mister Jepang itu ga lancar bahasa Indonesianya.
Dan mereka nostalgia, bercerita waktu mereka mungut benda-benda aneh itu.
“O… jadi mister Jepang ini temen kerja kakek kalo ngegali tanah di mana-mana ya?”
“ya, kami.. e, sama-sama ya, waktu nelusuri legenda hamlin itu,ne.. kamu tahu, itu cerita benar ada!”
wah…
dan si mister jepang itu bercerita tentang pengalaman mereka.
--------------------------------cerita belum selesai, takut ilang kutaro sini aja------------------
Oleh: Nona Surabaya Jeumpa
Kamu tahu legenda Ewa? Mungkin nggak. Karena yang tahu cerita ini hanya anak-anak dan masyarakat kelas bawah, kelas ga berumah, nomaden, gak tau sekolah. Dan kamu bukan salah satunya kan? Ewa memang legenda bawah tanah, yang menjadi cerita elit universal. Legendanya seperti legenda peniup seruling dari hamlin.
Siapa Ewa? Hm… dia adalah legenda nyata yang terlalu istimewa untuk hidup. Dia penggesek biola terhebat di dunia. Mungkin Yehudi Menuhin masih lebih hebat, tapi apa yang dilakukannya pada masyarakat bawah tanah di seluruh dunia adalah apa yang membuatnya sangat hebat.
Kalau kamu pernah menyusuri jalanan kecil kota-kota dunia, jalanan terpencil yang jarang terlihat, satu dua kali kalau beruntung kamu bisa melihat legenda itu.
Ewa adalah pemain panggung dunia, tidak hanya di gedung besar, tetapi lebih banyak di panggung jalanan kumuh rakyat dari bawah tanah. Buat apa? Entah, tapi menurut legenda, setelah ia bermain musik di tengah masyarakat bawah tanah itu, satu atau dua anak menghilang begitu saja.
Legendanya, Ewa adalah dewa harmoni, yang permainannya mampu membius semua telinga mahluk hidup, dan menipu jiwa semua mahluk hidup yang mendengarnya, sehingga mau mengikuti segala keinginan sang Dewa.
Ada yang bilang, ia sosok yang ditakuti, karena kedatangannya berarti akan adanya kehilangan dua anak, entah anak siapa, katanya untuk tumbal, untuk dimakan, untuk keindahan musiknya.
Ada yang bilang, kedatangannya berarti berkah, karena anak-anak yang diambil kebanyakan adalah anak-anak paling bandel yang keberadaannya hanya merusak ketentraman daerah-daerah slum itu.
Katanya, Ewa adalah sang Dewa yang menyusup berganti-ganti pada pemain biola manapun yang main di panggung dunia. Katanya, Ewa adalah hanya satu orang yang berganti nama lain di panggung.
Ah, begitu banyak katanya. Selayaknya Urban Legend lain.
Legenda ini aku dapat dari seorang ibu penjual kembang ziarah di Jogja.
Setelah ibu penjual kembang, entah kenapa yang bercerita kepadaku tentang legenda ini makin banyak saja. Dari tukang ojek, kakek pemulung rokok waktu aku asik ngerokok di jalanan sepi, dan dari anak-anak kecil tukang copet yang minta rokokku dan asik ngedeprok gitu aja disebelahku, dan meminta apiku. Hebat! Udah jago banget dia memainkan lintingan putih itu! Aku sendiri baru tiga tahun ini ngerokok, masih kesusahan memegangnya, sering linting putih yang kupegang ini jatuh tiba-tiba, sampai aku harus beli lagi yang baru karena kebanyakan yang terbuang sebelum habis. Keasikan ini kujalani sembunyi-sembunyi tentu saja. Kalau ketahuan, entah mama akan melakukan apalagi, mungkin pengawalan makin ketat, dengan sopir, dua bodyguard, dan satu embok emban yang harus sekamar denganku sampai aku tidur. Hah! Jangan sampe satu-satunya kenikmatan linting ini diambil juga deh!
Di saat kemudian, aku juga menemukan bahwa legenda ini tidak hanya terjadi di negeri ini. Kawan-kawanku dari LSM-LSM bawah tanah di negara-negara ketiga. Versinya memang beda-beda, namanya juga beda-beda, ada yang namanya legenda Devali di India Selatan dan Srilangka, ada yang namanya legenda chengken yang artinya sincere. Macam-macam! Tapi nyata!
Ini hari ketiga aku pindah ke kota pelajar penuh kendaraan dua roda ini. Kota ini sungguh sangat jauh berbeda dengan kotaku dulu, yang penuh keruwetan meropolitan.
Kata dokter aku depresi. Depresi abis. Sehingga aku dianjurkan pindah kuliah ke tempat yang lebih tenang, lebih dekat dengan masyarakat yang masih lebih sederhana dan tradisional.
Katanya, aku orang yang ga tahan tekanan, katanya aku terlalu baik untuk hidup di kota metropolitan. Katanya aku terlalu percaya ama orang. Katanya aku orang yang sangat gak ambisius. Katanya,katanya… entah alasan apalagi.
(Sebenarnya aku berterimakasih pada dokter, karena dalam analisa keahliannya membuat mama terbujuk juga untuk melepas aku sendiri di kota ini)
Mungkin aku memang sangat nggak ambisius. Mungkin aku memang orang yang sangat ga ber-rencana. Aku emang gak suka ama rencana, janji. Aku ga percaya masa depan. Padahal dari tes IQ waktu SMA aku termasuk lumayan cerdas, dan semua orang langsung kagum dan percaya kalo masa depanku pasti sangat cerah. Aneh! Semua orang kagum dengan semua yang aku punya. Tapi aku gak pernah ngerasa bangga ama semua yang udah kucapai. Karena aku ga pernah ngerasa punya sesuatu yang patut dikagumi. Aku punya banyak prestasi, itu wajar, karena aku mati-matian berusaha, karena ayah adalah orang sempurna di dunia. Mama juga gak pernah bilang aku sudah cukup berprestasi. Bisa dibilang, aku gak puas ama hidupku. Dan orang-orang terpenting dalam hidupku juga gak pernah puas. Puncaknya waktu aku gak tembus pilihan pertama UMPTN. Dunia runtuh! Padahal aku sangat suka pilihan keduaku itu. Sebenarnya aku bersyukur gajadi masuk FKUI. Aku lebih suka belajar Psikologi! Mendalami orang lain… tapi sangat jelas, pilihanku ga sesuai dengan harapan mama papa.
Aku anak tunggal, jadi aku gapunya role model, gapunya tempat curhat.
Teman-teman sekolah juga selalu melihatku sebagai sosok sempurna, sampai-sampai mereka takut untuk berteman denganku. Haaaaaa…. Aku capek! Aku capek hidup!
Kuliah dimulai empat hari lagi. Sekarang aku mengitari kota ini dengan kaki. Aku suka jalan kaki. Mungkin, darah pengembara kakek yang sering kujuluki eyang jipsi begitu kental dalam tubuh ini. bisa dibilang, dialah sumber kebahagiaanku selama hidup sampai saat ini. aku paling suka saat ia kembali dari perjalanan keliling dunia, kalau sudah begitu, aku langsung menantinya di teras belakang sambil membawa kue, teh hijau, dan tangan yang siap memijat. Kakek anti banget makan daging. Entah kenapa. Tapi kebiasaannya itu kutiru, karena kakek adalah pahlawanku sejak kecil. Lalu, sehabis kupijat, kakek kupaksa bercerita tentang pengembaraannya. Baru setelah beranjak dewasa aku baru tahu jelas apa pekerjaannya: arkeolog yang sekaligus fotografer berbagai media massa dunia. Kakekku, adalah indiana jones versi indonesia! Aku selalu kagum dengan cara hidupnya. Kalau bisa kuruntun, sepertinya masa-masa aku bercengkerama dengan kakek adalah masa terindah dalam hidup. Aku tertawa, bahagia, hidup, hanya saat itu. Saat-saat paling jujur dalam hidup. Sampai suatu hari di hari ulang tahunku ke duabelas tahun, kakek memberikan hadiah terakhir: Buku catatan perjalanannya yang terakhir. Kakek memang selalu memintaku untuk menjaga sepuluh lemari bukunya. Dan aku, belajar membaca dari buku catatannya.
Kakek meninggal dalam konflik dua suku masyarakat pedalaman di Irian. Katanya ada yang tidak suka dengan kehadiran kakek, karena dianggap membawa misi keagamaan yang mengancam sistem religi mereka. Katanya kakek ditusuk panah nyasar. Entah apalagi. Yang pasti, kakek meninggal.
Aku yang baru naik kelas 2 SMP, begitu hancur. Seandainya aku lebih besar mungkin aku nekat ke irian langsung. Tapi aku tak berdaya. Tubuh kakek ada di depan mataku waktu itu. Begitu hancur, sampai air mataku kering, begitu keringnya sampai aku tak bisa menangis lagi sampai saat ini. Sejak saat itu, aku tidak lagi hidup, karena mama makin memaksaku belajar,belajar, dan ngumpulin prestasi terus, dan terus.
Capek!
Cita-cita? Hm.. aku ga tauk. Dulu aku pernah pengen jadi kayak kakek. Tapi mama bilang, waktu umurku delapan taun, itu gak pantes, ketika kutanya kenapa, mama cuma bilang, kamu kan pengen jadi dokter! Jangan berubah lagi dong! Nanti nyesel kayak mama. Well, sejak saat itu kuyakinkan diri bahwa aku memang mau jadi dokter. Pasti keren. Mama juga seneng.
Mama memang ada sejarah nggak enak dengan perjalanan perkuliahannya. Mama gak bisa masuk kedokteran karena buta warna. Padahal sejak kecil ia sudah berusaha mati-matian (mungkin lebih gila dari yang kulakukan, karena ia melakukannya dengan kesadaran sendiri), mama ambisius, keras kepala, gak mau kalah. Suatu sifat yang sangat hebat, hanya saja terlalu hebat. Hingga mama pernah menipu waktu tes kesehatan, menukar data kesehatan mata dengan orang lain. Tapi ketahuan. Belum sampai satu semester, akhirnya ketahuan juga waktu ujian anatomi atau sesuatu semacam itu.(aku ga begitu tertarik untuk tau apa aja yang dipelajari. Buat aku, cukup ngeliat kodok dibetet waktu sma. Abis itu, nggak lagi deh!) Dan mama dipecat, di drop out tidak hormat. Sejak itu ia gak bisa kuliah lagi. Buat mama, kesempurnaan adalah hidup sewajarnya. Jadi nomor satu atau langsung mati aja. The best and the rest. Itu ideologi mama. Makanya, begitu jatuh, ia langsung jatuh. Susah bangkit lagi. Lalu, mama langsung nikah dengan orang yang dijodohkan oleh nenek, karena sama-sama orang Padang, katanya. Sudah cukup malu yang ditanggung karena tingkah mama, jadi mama harus menutup aib keluarga ini dengan menerima pinangan keluarga terhormat. Dan Papaku yang baru pulang belajar dari Boston dalam usia yang sudah terlalu cukup untuk punya dua anak-lah orang itu.
Lalu, enam tahun kemudian lahirlah aku. Tanpa adik tanpa kakak.
Saat ini, aku terus berjalan, jalan dan jalan. Hingga aku sampai ke suatu tempat yang namanya peziarahan Sendangsono, yang katanya dirancang oleh pengarang terbaik favoritku, Romo Mangun.
Disinilah aku bertemu legenda itu.
Begini ceritanya, waktu itu aku duduk termenung di sebuah bangku semen. Sangat sepi, dan saat itu menjelang malam, pukul tujuh malam. Aku disana sudah lima jam lebih, tak berpindah. Sambil mengisap lintingan berasap, merusak paru-paru, dan ngelamun.
Tiba-tiba saja telingaku menangkap sesuatu gelagat dan bunyi aneh, melengking, tapi sangat merdu. Tiba-tiba saja kusadari semuanya senyap. Tak ada kicau burung, tak ada derik jangkrik, bahkan udara seperti berhenti berhembus memainkan daun-daun rontok. Hanya satu suara yang terhembus, lengkingan merdu itu! Begitu penasaran, karena bunyi itu semakin tersusun menjadi harmoni, begitu bahagia… indah… mengharukan…
Aku mengelilingi tempat itu, sampai akhirnya aku menemukan sesosok tubuh yang bergoyang-goyang dibawah pohon beringin.
Aku terpana… hampir terbius, kalau bukan orang skeptis, aku mungkin sudah terbang. Tapi sekarang aku masih sadar, untuk memperhatikan bahwa aku ternyata tidak sendiri. Di sekitarku ada banyak orang yang juga menonton, dibalik persembunyiannya. Mereka takut, tapi juga ingin melihat. Bukan orang saja, ternyata burung-burung, jangkrik, angin, semuanya berkumpul disini. Bahkan burung pun terdiam tersaingi kicauannya. Jangkrik pun tak mau merusak suasana seindah itu. Hanya angin yang bekerja, mengipasi si empunya suara agar tidak kepanasan.
Semua orang terpaku. Semua kucing, anjing buduk, burung, terpaku… juga sosok-sosok tolol manusia yang ada disini.
Keremangan malam malah menerangkan suasana.
Dialah Ewa, sang legenda hidup.
Pertemuanku dengan legenda ini mempertemukan aku dengan ribuan kisah lain, kisah hidup dunia, yang membuat aku belajar hidup lebih banyak lagi.
Ini adalah kisah perjumpaanku dengan sang legenda.
Ternyata legenda hanyalah sebuah kisah biasa hidup seorang manusia biasa.
Sebuah kisah hidup biasa manusia biasa, yang membawa perubahan kehidupan manusia lain.
xxx
bocah pelintingan
“Nyuwun api, bos!” suara anak kecil itu menjawil bahuku dari belakang. Entah kenapa anak kecil maniak linting putih ini memanggilku bos, dan membuat kawan-kawan gerombolan nomadennya memanggilku dengan sebutan itu juga. Dan ini sudah hari kedua puluh dua mereka memanggilku dengan sebutan aneh itu.
Dulu, setauku di kotaku dulu sebutan ini cuma dipake para preman jalanan, tukang calo tiket jalanan, tukang palak kudisan… kupikir sebutan ini cuma ala jakarta aja. Ternyata, jalanan ya jalanan. Satu legenda jalanan aja bisa jadi legenda jalanan universal, seluruh dunia, apalagi cuma sebutan.
Anak ini langsung kusodorkan lintinganku yang masih menyala-nyala.
Aku sudah biasa dengan kebiasaan anak ini. hampir tiap malam sampai pagi aku ndhodhok alias jongkok di jalanan raya yang sangat sepi ini, ngelinting berdua, atau lebih, dengan kawan-kawannya, atau dengan rombongan pemuda jalanan sambil main gapleh atau catur.
Kadang cukup dalam diam saja, aku mengamati mereka. Kadang aku mengadu mereka gapleh atau catur, sampai mereka bosen karena penasaran, aku selalu menang. Mereka gak tau aku juga dah bosen menang terus, dengan mudah. Ingin sekali-kali aku mengalah, tapi mereka tau, dan menganggap aku licik, gak asik, gak jantan. Akhirnya, aku dengan cepat disingkirkan dari permainan. Dan kembali menjadi pengamat pasif, yang jongkok di pinggir jalan sambil ngasepin paru-paru.
Anak kecil ini yang menghibur. Walau cukup menemani dalam diam saja. Toh aku emang nyari ketenangan disini.
Awalnya aku gak peduli dengan keberadaannya. Namun setelah beberapa kali aku nongkrong berbagi lintingan plus api bersamanya, aku menemukan suatu kejutan menarik darinya. sangat menarik! Hal yang gak pernah aku duga.
Hari itu, aku pulang dari kerjaan ngajar privat biola. Dan bukannya langsung pulang ke rumah kontrakan, aku langsung main ke tongkrongan biasa. Waktu itu pukul sepuluh malam.
Begitu sampai, aku ngambil pojok yang biasa. Jongkok, lalu ngebakar batangan cengkeh, dan mulai memasukkan asapnya kedalam tubuh. Sejam kemudian jawilan itu datang. Spontan langsung kusodorkan lintingan.
“Biola to, bos?” bocah ini yang kali itu datang membawa dua bocah lain tiba-tiba bertanya.
Aku masih kaget, karena memang asik melamuni masa lalu. Kontan aja aku langsung noleh, ngeliat mereka bertiga. Dan baru kali itu kuperhatikan sosok bocah bandel ini.
Ia masih sepuluh tahunan, t-shirt lusuh, robek di beberapa tempat, dan celana sd yang tertutup t-shirt yang super XL itu.
“He-eh” dan aku masih memperhatikan mereka. “Siapa nih?” mataku menunjuk pada dua bocah ingusan lain, yang sama-sama plontos, ingusan, kira-kira 120 cm, yang satu cengar-cengir melulu, dan yang satu lagi sepertinya bocah yang agak kalem dan penakut.
“ aku bapak angkat mereka! Anak-anakku lo mereka ini!” ujarnya sangat bangga, sambil mengeplak kepala dua bocah itu.
“Ha?” hehe… kontan aku langsung ketawa, kaget! Hahaha…. Baru kali ini nih nemu yang kayak gini! Anak sepuluh taun berani-beraninya jadi bapak angkat dua bocah lain yang umurnya kira-kira sekitar lima sampai tujuh tahun. “Kok bisa? Kamu kan masih kecil banget!”
“Lha mesti bisa tho bos! Kalo nggak, bocah-bocah iki ora ono sing urus!”
“Loh, kamu sendiri? Yang ngurus siapa?”
“Aku? Ya… mas Kebo. Tapi mas kebo lagi gak disini, dia ke Jakarta, ora balik-balik.”
“Oh…”
lalu ia memperkenalkan dua ‘anaknya’: Joko dan Paijo. Ia sendiri mengaku sebagai Kasman, “tapi aku minta dipanggil Romo Ewa sama dua anakku.”
Ha? Apa dia bilang?
“Ewa?”
“Iya bos, wah bos sih dateng dari Jakarta, dadine ora ngerti Ewa.”
“Emang Ewa tuh siapa?”
“Wah, Ewa iku wong sakti, bos!”
Joko, yang kalem tiba-tiba berbicara: “Romo Ewa wong sakti, dolan rebab sing kayak gitar! Bapak kan ora sakti kayak Romo Ewa!”
“Weis! Ora sopan! Ojo nyela bapakmu!”
Sementara Paijo yang tampak bandel sebandel “bapak” -nya, dari tadi berjalan terus mengelilingi seputar jalan ini, mengganggu orang-orang yang lagi gapleh, catur, ngobrol sana-sini, gak bisa diam. Lalu ia menghampiri kami: “Romo, aku njaluk udhutte” (Bapak, aku minta rokoknya)
“Weh! Ora oleh! Iki rokok oleh kanggo wong dewasa, sing wis gede kayak romo. Kowe bocah cilik! Wes, ajak dolan adekmu iki!” (weh! Gak boleh! Ini rokok boleh buat orang dewasa, kayak bapak. Kamu anak kecil! Dah, ajak maen adikmu aja!)
“Ah, Romo pelit!”
“Heh! Tak ceples ya kupingmu!”
“Iya, iya Romo, aku tak dolan karo Joko!”
hihihi… aku nyengir-nyengir aja ngeliatnya. Yang barusan kulihat itu kayak lenong! Atau.. apa namanya? Ketoprak! (bukan toprak yang kutraktir buat tiga bocah ini)
“Ewa iku,bos..”
“eh, ntar, kenapa kamu panggil aku bos?”
“Lha, kan orang Jakarta yang gedean pasti dipanggil bos. Mas Kebo yang ngasihtau”
oh… aku merapatkan jaket jeans gede dan topiku.
“Yaudah, ewa tu siapa?”
“Dia itu bos, orang yang paling hebat deh!”
belum selesai ceritanya, tanpa sepengetahuanku, si Paijo membunyikan suatu alat musik. Bukan, bukan biolaku. Tapi rebab! Ah, rupanya di seberang kami ia menemukan kakek pengemis yang memakai rebab. Mungkin ia menawarkan diri untuk menggantikan tugas si kakek yang kini terduduk disebelahnya.
“Paijo emang jago ngerebab, bos. Tuh, si kakek yang ngajarin. Lagu-lagunya dia baru bisa tiga.”
Wah…
“Bos, boleh coba biolanya nggak?”
He? “coba aja.”
“JO! Paijo! Sini!” yang dipanggil pun langsung menghentikan kegiatannya dan berlari-lari ke tempat ini.
“Iki, coba!”
“Wah.ini,romo? Kok kayak rebabnya Romo Ewa? Tak coba ya?”
beberapa detik kemudian mengalunlah alunan harmoni macapat jawa dari biolaku. Hebat! Bocah jalanan ini bisa menguasai biolaku! Tapi kok bisa?
Penjelasan si Kasman itu kemudian menjawab semuanya. Dan aku sudah menduganya.
Jadi, kenapa?
“Dari Romo Ewa.”
Plung, lintingan berasap yang kupegang terjatuh ke selokan.
xxx
c a t a t a n e k s p e d i s i p e n e l u s u r a n k a u m j i p s i
10 Mei 1978, Mannheim, Republik Federal Jerman
peniup seruling dari hamlin
(der Rattenfanger von Hameln)
Alkisah, pada hari yohanes dan paulo tanggal 26 Juni 1284, sejumlah anak di kota Hamlin, dibawa alunan irama seruling seorang pengembara, menghilang ke arah timur.
The legend of the Pied Piper of Hamelin,
tulisan di gereja Mark…(yang bagian
ini ga jelas, udah lapuk kertasnya)
Tahun 1284, di kota hamlin muncul seorang laki-laki yang sangat tampan. Dia menyebut dirinya sebagai penangkap tikus yang terkenal.
Begitu dia meniup serulingnya, tikus-tikus dari seluruh penjuru kota berkumpul di sekelilingnya. Lalu laki-laki itu memimpin barisan besar pasukan tikus itu sampai ke sungai Weser, membuat tikus-tikus mati tenggelam.
Tetapi, penduduk kota mengingkari janjinya, mereka menolak untuk memberikan imbalan.
Tragisnya, itu terjadi pada hari Yohanes dan Paulus, yaitu tanggal 26 Juni.
Laki-laki itu datang kembali ke kota dan meniup serulingnya sehingga mengumpulkan anak laki-laki dan perempuan.
Untuk membalas dendam, dia membawa anak-anak dan menghilang ke guning Hovenberg.
Para orang tua di kota Hamelin sangat bersedih. Mereka mencari anak-anaknya. Namun tidak menemukannya.
Katanya, jumlah anak yang hilang saat itu ada 130 orang.
…………..
15 mei 1978, Heidelberg
catatan dari seorang anak buta yang berhasil lolos dari laki-laki penari seruling tersebut::
“Kalau ada yang memberitahukan tempat ini pada seseorang, tamnatlah riwayatku,” kata Laki-laki itu sambil naik ke puncak guning yang rimbun. Dia menemukan orang kedua dan orang kelima yang telah kabur.
“Kalian ingin tahu dimana ini? Disini bukan Hein yang ada di Rhein.”
……………..
21 mei 1978, Hameln, kota yang dilewati sungai Weser
Seorang penjual buku bangsa mesir di kota ini menunjukkan satu buku sangat tua,, bercerita tentang legenda-legenda Czecho-slovakia. Catatan seorang kepala biara dari Olomouc, a city in central Moravia.
Pada abad 13 warga desa menderita karena setan, tapi mereka tertolong oleh 130 malaikat.
Mereka berwajah buruk, jika dilihat dari luar, benar-benar mirip setan kecil”
(catatan sang cucu buat kakek: (yang ini ditulis di kertas lain)
buat kakek, aku nemuin cerita yang sangaaaat sama dengan catetan kakek. Beneran loh!
Ini ceritanya aku temuin di komik! Swear! Namanya, kek, komik Master Keaton, nomer lima. Katanya juga legenda ini nyata ya kek? Besok aku bacain buat kakek ya?
Dari Si cucu jipsi,
29 juni 1992)
……………………..
minggu terakhir Juni 1992 (aku masih tujuh taun), waktu itu masih pagi, jam lima subuh
Mister eyang jipsi, ceritain lagi dong yang kemarin, kan ceritanya belum selesai… ayo, katanya mau bagian yang paling seru, katanya mau cerita kalo itu cerita beneran…
Ayo dong kek…
“ Sabar anoman kecil, tuh muka kamu masih banyak pulaunya!”
huu…
“Kakek mau ketemu temen kakek, ga bisa cerita sekarang.”
“Ikut”
“dia orang Jepang, nanti kamu bingung lagi.”
“Ikut…”
“Nanti kamu bosen, pengen pulang”
“Nggak”
“Nonton kartun aja ya di rumah”
“Aku bawain dompet kakek, kutunggu di jip ya, kek” (waktu itu aku langsung lari-lari masuk jip dengan kacamata kakek, dompet, dan buku catatan kakek)
kakek gabisa nolak.
“aku bakal kalem deh kek. Suwer (swear)… janji!”
kalem? Hehe… waktu itu, awalnya sih emang kalem banget, tapi cuma sepuluh menitan. Kakiku langsung gatel, mataku gabisa diem, langsung lari-lari ngiterin rumah gede itu. Ya salah sendiri si orang jepang itu ternyata rumahnya sangat besar, banyak benda-benda aneh lagi! Lebih aneh dari yang punya kakek! Ada baju tentara yang kayak film samurai jepang. Ada dua kayu kecil, tipis, tapi yang satu ada senarnya. Katanya itu rebabnya orang Afrika. Dan banyaak benda-benda aneh lain. Sampe aku ngabisin belasan lembar di buku catatan penemuan harian yang kemudian kucatatkan malamnya sepulang dari rumah orang jepang ini.
dan untung aja, si orang Jepang gak marah dengan kelakuan si anoman cilik ini. malahan dia ngasih tau macem-macem. Huh, ternyata dia anoman juga, tapi dari Jepang.
Hehe… petakilannya sama!
Dan mau gak mau, kakek nimbrung, sambil ngejelasin tiap barang yang kutunjuk. Masalahnya si mister Jepang itu ga lancar bahasa Indonesianya.
Dan mereka nostalgia, bercerita waktu mereka mungut benda-benda aneh itu.
“O… jadi mister Jepang ini temen kerja kakek kalo ngegali tanah di mana-mana ya?”
“ya, kami.. e, sama-sama ya, waktu nelusuri legenda hamlin itu,ne.. kamu tahu, itu cerita benar ada!”
wah…
dan si mister jepang itu bercerita tentang pengalaman mereka.
--------------------------------cerita belum selesai, takut ilang kutaro sini aja------------------

0 Comments:
Enregistrer un commentaire
<< Home