madrim troops
samedi, mai 01, 2004
Ewa, pemain biola jalanan
Oleh: Nona Surabaya Jeumpa
Kamu tahu legenda Ewa? Mungkin nggak. Karena yang tahu cerita ini hanya anak-anak dan masyarakat kelas bawah, kelas ga berumah, nomaden, gak tau sekolah. Dan kamu bukan salah satunya kan? Ewa memang legenda bawah tanah, yang menjadi cerita elit universal. Legendanya seperti legenda peniup seruling dari hamlin.
Siapa Ewa? Hm… dia adalah legenda nyata yang terlalu istimewa untuk hidup. Dia penggesek biola terhebat di dunia. Mungkin Yehudi Menuhin masih lebih hebat, tapi apa yang dilakukannya pada masyarakat bawah tanah di seluruh dunia adalah apa yang membuatnya sangat hebat.
Kalau kamu pernah menyusuri jalanan kecil kota-kota dunia, jalanan terpencil yang jarang terlihat, satu dua kali kalau beruntung kamu bisa melihat legenda itu.
Ewa adalah pemain panggung dunia, tidak hanya di gedung besar, tetapi lebih banyak di panggung jalanan kumuh rakyat dari bawah tanah. Buat apa? Entah, tapi menurut legenda, setelah ia bermain musik di tengah masyarakat bawah tanah itu, satu atau dua anak menghilang begitu saja.
Legendanya, Ewa adalah dewa harmoni, yang permainannya mampu membius semua telinga mahluk hidup, dan menipu jiwa semua mahluk hidup yang mendengarnya, sehingga mau mengikuti segala keinginan sang Dewa.
Ada yang bilang, ia sosok yang ditakuti, karena kedatangannya berarti akan adanya kehilangan dua anak, entah anak siapa, katanya untuk tumbal, untuk dimakan, untuk keindahan musiknya.
Ada yang bilang, kedatangannya berarti berkah, karena anak-anak yang diambil kebanyakan adalah anak-anak paling bandel yang keberadaannya hanya merusak ketentraman daerah-daerah slum itu.
Katanya, Ewa adalah sang Dewa yang menyusup berganti-ganti pada pemain biola manapun yang main di panggung dunia. Katanya, Ewa adalah hanya satu orang yang berganti nama lain di panggung.
Ah, begitu banyak katanya. Selayaknya Urban Legend lain.
Legenda ini aku dapat dari seorang ibu penjual kembang ziarah di Jogja.
Setelah ibu penjual kembang, entah kenapa yang bercerita kepadaku tentang legenda ini makin banyak saja. Dari tukang ojek, kakek pemulung rokok waktu aku asik ngerokok di jalanan sepi, dan dari anak-anak kecil tukang copet yang minta rokokku dan asik ngedeprok gitu aja disebelahku, dan meminta apiku. Hebat! Udah jago banget dia memainkan lintingan putih itu! Aku sendiri baru tiga tahun ini ngerokok, masih kesusahan memegangnya, sering linting putih yang kupegang ini jatuh tiba-tiba, sampai aku harus beli lagi yang baru karena kebanyakan yang terbuang sebelum habis. Keasikan ini kujalani sembunyi-sembunyi tentu saja. Kalau ketahuan, entah mama akan melakukan apalagi, mungkin pengawalan makin ketat, dengan sopir, dua bodyguard, dan satu embok emban yang harus sekamar denganku sampai aku tidur. Hah! Jangan sampe satu-satunya kenikmatan linting ini diambil juga deh!
Di saat kemudian, aku juga menemukan bahwa legenda ini tidak hanya terjadi di negeri ini. Kawan-kawanku dari LSM-LSM bawah tanah di negara-negara ketiga. Versinya memang beda-beda, namanya juga beda-beda, ada yang namanya legenda Devali di India Selatan dan Srilangka, ada yang namanya legenda chengken yang artinya sincere. Macam-macam! Tapi nyata!
Ini hari ketiga aku pindah ke kota pelajar penuh kendaraan dua roda ini. Kota ini sungguh sangat jauh berbeda dengan kotaku dulu, yang penuh keruwetan meropolitan.
Kata dokter aku depresi. Depresi abis. Sehingga aku dianjurkan pindah kuliah ke tempat yang lebih tenang, lebih dekat dengan masyarakat yang masih lebih sederhana dan tradisional.
Katanya, aku orang yang ga tahan tekanan, katanya aku terlalu baik untuk hidup di kota metropolitan. Katanya aku terlalu percaya ama orang. Katanya aku orang yang sangat gak ambisius. Katanya,katanya… entah alasan apalagi.
(Sebenarnya aku berterimakasih pada dokter, karena dalam analisa keahliannya membuat mama terbujuk juga untuk melepas aku sendiri di kota ini)
Mungkin aku memang sangat nggak ambisius. Mungkin aku memang orang yang sangat ga ber-rencana. Aku emang gak suka ama rencana, janji. Aku ga percaya masa depan. Padahal dari tes IQ waktu SMA aku termasuk lumayan cerdas, dan semua orang langsung kagum dan percaya kalo masa depanku pasti sangat cerah. Aneh! Semua orang kagum dengan semua yang aku punya. Tapi aku gak pernah ngerasa bangga ama semua yang udah kucapai. Karena aku ga pernah ngerasa punya sesuatu yang patut dikagumi. Aku punya banyak prestasi, itu wajar, karena aku mati-matian berusaha, karena ayah adalah orang sempurna di dunia. Mama juga gak pernah bilang aku sudah cukup berprestasi. Bisa dibilang, aku gak puas ama hidupku. Dan orang-orang terpenting dalam hidupku juga gak pernah puas. Puncaknya waktu aku gak tembus pilihan pertama UMPTN. Dunia runtuh! Padahal aku sangat suka pilihan keduaku itu. Sebenarnya aku bersyukur gajadi masuk FKUI. Aku lebih suka belajar Psikologi! Mendalami orang lain… tapi sangat jelas, pilihanku ga sesuai dengan harapan mama papa.
Aku anak tunggal, jadi aku gapunya role model, gapunya tempat curhat.
Teman-teman sekolah juga selalu melihatku sebagai sosok sempurna, sampai-sampai mereka takut untuk berteman denganku. Haaaaaa…. Aku capek! Aku capek hidup!
Kuliah dimulai empat hari lagi. Sekarang aku mengitari kota ini dengan kaki. Aku suka jalan kaki. Mungkin, darah pengembara kakek yang sering kujuluki eyang jipsi begitu kental dalam tubuh ini. bisa dibilang, dialah sumber kebahagiaanku selama hidup sampai saat ini. aku paling suka saat ia kembali dari perjalanan keliling dunia, kalau sudah begitu, aku langsung menantinya di teras belakang sambil membawa kue, teh hijau, dan tangan yang siap memijat. Kakek anti banget makan daging. Entah kenapa. Tapi kebiasaannya itu kutiru, karena kakek adalah pahlawanku sejak kecil. Lalu, sehabis kupijat, kakek kupaksa bercerita tentang pengembaraannya. Baru setelah beranjak dewasa aku baru tahu jelas apa pekerjaannya: arkeolog yang sekaligus fotografer berbagai media massa dunia. Kakekku, adalah indiana jones versi indonesia! Aku selalu kagum dengan cara hidupnya. Kalau bisa kuruntun, sepertinya masa-masa aku bercengkerama dengan kakek adalah masa terindah dalam hidup. Aku tertawa, bahagia, hidup, hanya saat itu. Saat-saat paling jujur dalam hidup. Sampai suatu hari di hari ulang tahunku ke duabelas tahun, kakek memberikan hadiah terakhir: Buku catatan perjalanannya yang terakhir. Kakek memang selalu memintaku untuk menjaga sepuluh lemari bukunya. Dan aku, belajar membaca dari buku catatannya.
Kakek meninggal dalam konflik dua suku masyarakat pedalaman di Irian. Katanya ada yang tidak suka dengan kehadiran kakek, karena dianggap membawa misi keagamaan yang mengancam sistem religi mereka. Katanya kakek ditusuk panah nyasar. Entah apalagi. Yang pasti, kakek meninggal.
Aku yang baru naik kelas 2 SMP, begitu hancur. Seandainya aku lebih besar mungkin aku nekat ke irian langsung. Tapi aku tak berdaya. Tubuh kakek ada di depan mataku waktu itu. Begitu hancur, sampai air mataku kering, begitu keringnya sampai aku tak bisa menangis lagi sampai saat ini. Sejak saat itu, aku tidak lagi hidup, karena mama makin memaksaku belajar,belajar, dan ngumpulin prestasi terus, dan terus.
Capek!
Cita-cita? Hm.. aku ga tauk. Dulu aku pernah pengen jadi kayak kakek. Tapi mama bilang, waktu umurku delapan taun, itu gak pantes, ketika kutanya kenapa, mama cuma bilang, kamu kan pengen jadi dokter! Jangan berubah lagi dong! Nanti nyesel kayak mama. Well, sejak saat itu kuyakinkan diri bahwa aku memang mau jadi dokter. Pasti keren. Mama juga seneng.
Mama memang ada sejarah nggak enak dengan perjalanan perkuliahannya. Mama gak bisa masuk kedokteran karena buta warna. Padahal sejak kecil ia sudah berusaha mati-matian (mungkin lebih gila dari yang kulakukan, karena ia melakukannya dengan kesadaran sendiri), mama ambisius, keras kepala, gak mau kalah. Suatu sifat yang sangat hebat, hanya saja terlalu hebat. Hingga mama pernah menipu waktu tes kesehatan, menukar data kesehatan mata dengan orang lain. Tapi ketahuan. Belum sampai satu semester, akhirnya ketahuan juga waktu ujian anatomi atau sesuatu semacam itu.(aku ga begitu tertarik untuk tau apa aja yang dipelajari. Buat aku, cukup ngeliat kodok dibetet waktu sma. Abis itu, nggak lagi deh!) Dan mama dipecat, di drop out tidak hormat. Sejak itu ia gak bisa kuliah lagi. Buat mama, kesempurnaan adalah hidup sewajarnya. Jadi nomor satu atau langsung mati aja. The best and the rest. Itu ideologi mama. Makanya, begitu jatuh, ia langsung jatuh. Susah bangkit lagi. Lalu, mama langsung nikah dengan orang yang dijodohkan oleh nenek, karena sama-sama orang Padang, katanya. Sudah cukup malu yang ditanggung karena tingkah mama, jadi mama harus menutup aib keluarga ini dengan menerima pinangan keluarga terhormat. Dan Papaku yang baru pulang belajar dari Boston dalam usia yang sudah terlalu cukup untuk punya dua anak-lah orang itu.
Lalu, enam tahun kemudian lahirlah aku. Tanpa adik tanpa kakak.
Saat ini, aku terus berjalan, jalan dan jalan. Hingga aku sampai ke suatu tempat yang namanya peziarahan Sendangsono, yang katanya dirancang oleh pengarang terbaik favoritku, Romo Mangun.
Disinilah aku bertemu legenda itu.
Begini ceritanya, waktu itu aku duduk termenung di sebuah bangku semen. Sangat sepi, dan saat itu menjelang malam, pukul tujuh malam. Aku disana sudah lima jam lebih, tak berpindah. Sambil mengisap lintingan berasap, merusak paru-paru, dan ngelamun.
Tiba-tiba saja telingaku menangkap sesuatu gelagat dan bunyi aneh, melengking, tapi sangat merdu. Tiba-tiba saja kusadari semuanya senyap. Tak ada kicau burung, tak ada derik jangkrik, bahkan udara seperti berhenti berhembus memainkan daun-daun rontok. Hanya satu suara yang terhembus, lengkingan merdu itu! Begitu penasaran, karena bunyi itu semakin tersusun menjadi harmoni, begitu bahagia… indah… mengharukan…
Aku mengelilingi tempat itu, sampai akhirnya aku menemukan sesosok tubuh yang bergoyang-goyang dibawah pohon beringin.
Aku terpana… hampir terbius, kalau bukan orang skeptis, aku mungkin sudah terbang. Tapi sekarang aku masih sadar, untuk memperhatikan bahwa aku ternyata tidak sendiri. Di sekitarku ada banyak orang yang juga menonton, dibalik persembunyiannya. Mereka takut, tapi juga ingin melihat. Bukan orang saja, ternyata burung-burung, jangkrik, angin, semuanya berkumpul disini. Bahkan burung pun terdiam tersaingi kicauannya. Jangkrik pun tak mau merusak suasana seindah itu. Hanya angin yang bekerja, mengipasi si empunya suara agar tidak kepanasan.
Semua orang terpaku. Semua kucing, anjing buduk, burung, terpaku… juga sosok-sosok tolol manusia yang ada disini.
Keremangan malam malah menerangkan suasana.
Dialah Ewa, sang legenda hidup.
Pertemuanku dengan legenda ini mempertemukan aku dengan ribuan kisah lain, kisah hidup dunia, yang membuat aku belajar hidup lebih banyak lagi.
Ini adalah kisah perjumpaanku dengan sang legenda.
Ternyata legenda hanyalah sebuah kisah biasa hidup seorang manusia biasa.
Sebuah kisah hidup biasa manusia biasa, yang membawa perubahan kehidupan manusia lain.
xxx
bocah pelintingan
“Nyuwun api, bos!” suara anak kecil itu menjawil bahuku dari belakang. Entah kenapa anak kecil maniak linting putih ini memanggilku bos, dan membuat kawan-kawan gerombolan nomadennya memanggilku dengan sebutan itu juga. Dan ini sudah hari kedua puluh dua mereka memanggilku dengan sebutan aneh itu.
Dulu, setauku di kotaku dulu sebutan ini cuma dipake para preman jalanan, tukang calo tiket jalanan, tukang palak kudisan… kupikir sebutan ini cuma ala jakarta aja. Ternyata, jalanan ya jalanan. Satu legenda jalanan aja bisa jadi legenda jalanan universal, seluruh dunia, apalagi cuma sebutan.
Anak ini langsung kusodorkan lintinganku yang masih menyala-nyala.
Aku sudah biasa dengan kebiasaan anak ini. hampir tiap malam sampai pagi aku ndhodhok alias jongkok di jalanan raya yang sangat sepi ini, ngelinting berdua, atau lebih, dengan kawan-kawannya, atau dengan rombongan pemuda jalanan sambil main gapleh atau catur.
Kadang cukup dalam diam saja, aku mengamati mereka. Kadang aku mengadu mereka gapleh atau catur, sampai mereka bosen karena penasaran, aku selalu menang. Mereka gak tau aku juga dah bosen menang terus, dengan mudah. Ingin sekali-kali aku mengalah, tapi mereka tau, dan menganggap aku licik, gak asik, gak jantan. Akhirnya, aku dengan cepat disingkirkan dari permainan. Dan kembali menjadi pengamat pasif, yang jongkok di pinggir jalan sambil ngasepin paru-paru.
Anak kecil ini yang menghibur. Walau cukup menemani dalam diam saja. Toh aku emang nyari ketenangan disini.
Awalnya aku gak peduli dengan keberadaannya. Namun setelah beberapa kali aku nongkrong berbagi lintingan plus api bersamanya, aku menemukan suatu kejutan menarik darinya. sangat menarik! Hal yang gak pernah aku duga.
Hari itu, aku pulang dari kerjaan ngajar privat biola. Dan bukannya langsung pulang ke rumah kontrakan, aku langsung main ke tongkrongan biasa. Waktu itu pukul sepuluh malam.
Begitu sampai, aku ngambil pojok yang biasa. Jongkok, lalu ngebakar batangan cengkeh, dan mulai memasukkan asapnya kedalam tubuh. Sejam kemudian jawilan itu datang. Spontan langsung kusodorkan lintingan.
“Biola to, bos?” bocah ini yang kali itu datang membawa dua bocah lain tiba-tiba bertanya.
Aku masih kaget, karena memang asik melamuni masa lalu. Kontan aja aku langsung noleh, ngeliat mereka bertiga. Dan baru kali itu kuperhatikan sosok bocah bandel ini.
Ia masih sepuluh tahunan, t-shirt lusuh, robek di beberapa tempat, dan celana sd yang tertutup t-shirt yang super XL itu.
“He-eh” dan aku masih memperhatikan mereka. “Siapa nih?” mataku menunjuk pada dua bocah ingusan lain, yang sama-sama plontos, ingusan, kira-kira 120 cm, yang satu cengar-cengir melulu, dan yang satu lagi sepertinya bocah yang agak kalem dan penakut.
“ aku bapak angkat mereka! Anak-anakku lo mereka ini!” ujarnya sangat bangga, sambil mengeplak kepala dua bocah itu.
“Ha?” hehe… kontan aku langsung ketawa, kaget! Hahaha…. Baru kali ini nih nemu yang kayak gini! Anak sepuluh taun berani-beraninya jadi bapak angkat dua bocah lain yang umurnya kira-kira sekitar lima sampai tujuh tahun. “Kok bisa? Kamu kan masih kecil banget!”
“Lha mesti bisa tho bos! Kalo nggak, bocah-bocah iki ora ono sing urus!”
“Loh, kamu sendiri? Yang ngurus siapa?”
“Aku? Ya… mas Kebo. Tapi mas kebo lagi gak disini, dia ke Jakarta, ora balik-balik.”
“Oh…”
lalu ia memperkenalkan dua ‘anaknya’: Joko dan Paijo. Ia sendiri mengaku sebagai Kasman, “tapi aku minta dipanggil Romo Ewa sama dua anakku.”
Ha? Apa dia bilang?
“Ewa?”
“Iya bos, wah bos sih dateng dari Jakarta, dadine ora ngerti Ewa.”
“Emang Ewa tuh siapa?”
“Wah, Ewa iku wong sakti, bos!”
Joko, yang kalem tiba-tiba berbicara: “Romo Ewa wong sakti, dolan rebab sing kayak gitar! Bapak kan ora sakti kayak Romo Ewa!”
“Weis! Ora sopan! Ojo nyela bapakmu!”
Sementara Paijo yang tampak bandel sebandel “bapak” -nya, dari tadi berjalan terus mengelilingi seputar jalan ini, mengganggu orang-orang yang lagi gapleh, catur, ngobrol sana-sini, gak bisa diam. Lalu ia menghampiri kami: “Romo, aku njaluk udhutte” (Bapak, aku minta rokoknya)
“Weh! Ora oleh! Iki rokok oleh kanggo wong dewasa, sing wis gede kayak romo. Kowe bocah cilik! Wes, ajak dolan adekmu iki!” (weh! Gak boleh! Ini rokok boleh buat orang dewasa, kayak bapak. Kamu anak kecil! Dah, ajak maen adikmu aja!)
“Ah, Romo pelit!”
“Heh! Tak ceples ya kupingmu!”
“Iya, iya Romo, aku tak dolan karo Joko!”
hihihi… aku nyengir-nyengir aja ngeliatnya. Yang barusan kulihat itu kayak lenong! Atau.. apa namanya? Ketoprak! (bukan toprak yang kutraktir buat tiga bocah ini)
“Ewa iku,bos..”
“eh, ntar, kenapa kamu panggil aku bos?”
“Lha, kan orang Jakarta yang gedean pasti dipanggil bos. Mas Kebo yang ngasihtau”
oh… aku merapatkan jaket jeans gede dan topiku.
“Yaudah, ewa tu siapa?”
“Dia itu bos, orang yang paling hebat deh!”
belum selesai ceritanya, tanpa sepengetahuanku, si Paijo membunyikan suatu alat musik. Bukan, bukan biolaku. Tapi rebab! Ah, rupanya di seberang kami ia menemukan kakek pengemis yang memakai rebab. Mungkin ia menawarkan diri untuk menggantikan tugas si kakek yang kini terduduk disebelahnya.
“Paijo emang jago ngerebab, bos. Tuh, si kakek yang ngajarin. Lagu-lagunya dia baru bisa tiga.”
Wah…
“Bos, boleh coba biolanya nggak?”
He? “coba aja.”
“JO! Paijo! Sini!” yang dipanggil pun langsung menghentikan kegiatannya dan berlari-lari ke tempat ini.
“Iki, coba!”
“Wah.ini,romo? Kok kayak rebabnya Romo Ewa? Tak coba ya?”
beberapa detik kemudian mengalunlah alunan harmoni macapat jawa dari biolaku. Hebat! Bocah jalanan ini bisa menguasai biolaku! Tapi kok bisa?
Penjelasan si Kasman itu kemudian menjawab semuanya. Dan aku sudah menduganya.
Jadi, kenapa?
“Dari Romo Ewa.”
Plung, lintingan berasap yang kupegang terjatuh ke selokan.
xxx
c a t a t a n e k s p e d i s i p e n e l u s u r a n k a u m j i p s i
10 Mei 1978, Mannheim, Republik Federal Jerman
peniup seruling dari hamlin
(der Rattenfanger von Hameln)
Alkisah, pada hari yohanes dan paulo tanggal 26 Juni 1284, sejumlah anak di kota Hamlin, dibawa alunan irama seruling seorang pengembara, menghilang ke arah timur.
The legend of the Pied Piper of Hamelin,
tulisan di gereja Mark…(yang bagian
ini ga jelas, udah lapuk kertasnya)
Tahun 1284, di kota hamlin muncul seorang laki-laki yang sangat tampan. Dia menyebut dirinya sebagai penangkap tikus yang terkenal.
Begitu dia meniup serulingnya, tikus-tikus dari seluruh penjuru kota berkumpul di sekelilingnya. Lalu laki-laki itu memimpin barisan besar pasukan tikus itu sampai ke sungai Weser, membuat tikus-tikus mati tenggelam.
Tetapi, penduduk kota mengingkari janjinya, mereka menolak untuk memberikan imbalan.
Tragisnya, itu terjadi pada hari Yohanes dan Paulus, yaitu tanggal 26 Juni.
Laki-laki itu datang kembali ke kota dan meniup serulingnya sehingga mengumpulkan anak laki-laki dan perempuan.
Untuk membalas dendam, dia membawa anak-anak dan menghilang ke guning Hovenberg.
Para orang tua di kota Hamelin sangat bersedih. Mereka mencari anak-anaknya. Namun tidak menemukannya.
Katanya, jumlah anak yang hilang saat itu ada 130 orang.
…………..
15 mei 1978, Heidelberg
catatan dari seorang anak buta yang berhasil lolos dari laki-laki penari seruling tersebut::
“Kalau ada yang memberitahukan tempat ini pada seseorang, tamnatlah riwayatku,” kata Laki-laki itu sambil naik ke puncak guning yang rimbun. Dia menemukan orang kedua dan orang kelima yang telah kabur.
“Kalian ingin tahu dimana ini? Disini bukan Hein yang ada di Rhein.”
……………..
21 mei 1978, Hameln, kota yang dilewati sungai Weser
Seorang penjual buku bangsa mesir di kota ini menunjukkan satu buku sangat tua,, bercerita tentang legenda-legenda Czecho-slovakia. Catatan seorang kepala biara dari Olomouc, a city in central Moravia.
Pada abad 13 warga desa menderita karena setan, tapi mereka tertolong oleh 130 malaikat.
Mereka berwajah buruk, jika dilihat dari luar, benar-benar mirip setan kecil”
(catatan sang cucu buat kakek: (yang ini ditulis di kertas lain)
buat kakek, aku nemuin cerita yang sangaaaat sama dengan catetan kakek. Beneran loh!
Ini ceritanya aku temuin di komik! Swear! Namanya, kek, komik Master Keaton, nomer lima. Katanya juga legenda ini nyata ya kek? Besok aku bacain buat kakek ya?
Dari Si cucu jipsi,
29 juni 1992)
……………………..
minggu terakhir Juni 1992 (aku masih tujuh taun), waktu itu masih pagi, jam lima subuh
Mister eyang jipsi, ceritain lagi dong yang kemarin, kan ceritanya belum selesai… ayo, katanya mau bagian yang paling seru, katanya mau cerita kalo itu cerita beneran…
Ayo dong kek…
“ Sabar anoman kecil, tuh muka kamu masih banyak pulaunya!”
huu…
“Kakek mau ketemu temen kakek, ga bisa cerita sekarang.”
“Ikut”
“dia orang Jepang, nanti kamu bingung lagi.”
“Ikut…”
“Nanti kamu bosen, pengen pulang”
“Nggak”
“Nonton kartun aja ya di rumah”
“Aku bawain dompet kakek, kutunggu di jip ya, kek” (waktu itu aku langsung lari-lari masuk jip dengan kacamata kakek, dompet, dan buku catatan kakek)
kakek gabisa nolak.
“aku bakal kalem deh kek. Suwer (swear)… janji!”
kalem? Hehe… waktu itu, awalnya sih emang kalem banget, tapi cuma sepuluh menitan. Kakiku langsung gatel, mataku gabisa diem, langsung lari-lari ngiterin rumah gede itu. Ya salah sendiri si orang jepang itu ternyata rumahnya sangat besar, banyak benda-benda aneh lagi! Lebih aneh dari yang punya kakek! Ada baju tentara yang kayak film samurai jepang. Ada dua kayu kecil, tipis, tapi yang satu ada senarnya. Katanya itu rebabnya orang Afrika. Dan banyaak benda-benda aneh lain. Sampe aku ngabisin belasan lembar di buku catatan penemuan harian yang kemudian kucatatkan malamnya sepulang dari rumah orang jepang ini.
dan untung aja, si orang Jepang gak marah dengan kelakuan si anoman cilik ini. malahan dia ngasih tau macem-macem. Huh, ternyata dia anoman juga, tapi dari Jepang.
Hehe… petakilannya sama!
Dan mau gak mau, kakek nimbrung, sambil ngejelasin tiap barang yang kutunjuk. Masalahnya si mister Jepang itu ga lancar bahasa Indonesianya.
Dan mereka nostalgia, bercerita waktu mereka mungut benda-benda aneh itu.
“O… jadi mister Jepang ini temen kerja kakek kalo ngegali tanah di mana-mana ya?”
“ya, kami.. e, sama-sama ya, waktu nelusuri legenda hamlin itu,ne.. kamu tahu, itu cerita benar ada!”
wah…
dan si mister jepang itu bercerita tentang pengalaman mereka.
--------------------------------cerita belum selesai, takut ilang kutaro sini aja------------------
Oleh: Nona Surabaya Jeumpa
Kamu tahu legenda Ewa? Mungkin nggak. Karena yang tahu cerita ini hanya anak-anak dan masyarakat kelas bawah, kelas ga berumah, nomaden, gak tau sekolah. Dan kamu bukan salah satunya kan? Ewa memang legenda bawah tanah, yang menjadi cerita elit universal. Legendanya seperti legenda peniup seruling dari hamlin.
Siapa Ewa? Hm… dia adalah legenda nyata yang terlalu istimewa untuk hidup. Dia penggesek biola terhebat di dunia. Mungkin Yehudi Menuhin masih lebih hebat, tapi apa yang dilakukannya pada masyarakat bawah tanah di seluruh dunia adalah apa yang membuatnya sangat hebat.
Kalau kamu pernah menyusuri jalanan kecil kota-kota dunia, jalanan terpencil yang jarang terlihat, satu dua kali kalau beruntung kamu bisa melihat legenda itu.
Ewa adalah pemain panggung dunia, tidak hanya di gedung besar, tetapi lebih banyak di panggung jalanan kumuh rakyat dari bawah tanah. Buat apa? Entah, tapi menurut legenda, setelah ia bermain musik di tengah masyarakat bawah tanah itu, satu atau dua anak menghilang begitu saja.
Legendanya, Ewa adalah dewa harmoni, yang permainannya mampu membius semua telinga mahluk hidup, dan menipu jiwa semua mahluk hidup yang mendengarnya, sehingga mau mengikuti segala keinginan sang Dewa.
Ada yang bilang, ia sosok yang ditakuti, karena kedatangannya berarti akan adanya kehilangan dua anak, entah anak siapa, katanya untuk tumbal, untuk dimakan, untuk keindahan musiknya.
Ada yang bilang, kedatangannya berarti berkah, karena anak-anak yang diambil kebanyakan adalah anak-anak paling bandel yang keberadaannya hanya merusak ketentraman daerah-daerah slum itu.
Katanya, Ewa adalah sang Dewa yang menyusup berganti-ganti pada pemain biola manapun yang main di panggung dunia. Katanya, Ewa adalah hanya satu orang yang berganti nama lain di panggung.
Ah, begitu banyak katanya. Selayaknya Urban Legend lain.
Legenda ini aku dapat dari seorang ibu penjual kembang ziarah di Jogja.
Setelah ibu penjual kembang, entah kenapa yang bercerita kepadaku tentang legenda ini makin banyak saja. Dari tukang ojek, kakek pemulung rokok waktu aku asik ngerokok di jalanan sepi, dan dari anak-anak kecil tukang copet yang minta rokokku dan asik ngedeprok gitu aja disebelahku, dan meminta apiku. Hebat! Udah jago banget dia memainkan lintingan putih itu! Aku sendiri baru tiga tahun ini ngerokok, masih kesusahan memegangnya, sering linting putih yang kupegang ini jatuh tiba-tiba, sampai aku harus beli lagi yang baru karena kebanyakan yang terbuang sebelum habis. Keasikan ini kujalani sembunyi-sembunyi tentu saja. Kalau ketahuan, entah mama akan melakukan apalagi, mungkin pengawalan makin ketat, dengan sopir, dua bodyguard, dan satu embok emban yang harus sekamar denganku sampai aku tidur. Hah! Jangan sampe satu-satunya kenikmatan linting ini diambil juga deh!
Di saat kemudian, aku juga menemukan bahwa legenda ini tidak hanya terjadi di negeri ini. Kawan-kawanku dari LSM-LSM bawah tanah di negara-negara ketiga. Versinya memang beda-beda, namanya juga beda-beda, ada yang namanya legenda Devali di India Selatan dan Srilangka, ada yang namanya legenda chengken yang artinya sincere. Macam-macam! Tapi nyata!
Ini hari ketiga aku pindah ke kota pelajar penuh kendaraan dua roda ini. Kota ini sungguh sangat jauh berbeda dengan kotaku dulu, yang penuh keruwetan meropolitan.
Kata dokter aku depresi. Depresi abis. Sehingga aku dianjurkan pindah kuliah ke tempat yang lebih tenang, lebih dekat dengan masyarakat yang masih lebih sederhana dan tradisional.
Katanya, aku orang yang ga tahan tekanan, katanya aku terlalu baik untuk hidup di kota metropolitan. Katanya aku terlalu percaya ama orang. Katanya aku orang yang sangat gak ambisius. Katanya,katanya… entah alasan apalagi.
(Sebenarnya aku berterimakasih pada dokter, karena dalam analisa keahliannya membuat mama terbujuk juga untuk melepas aku sendiri di kota ini)
Mungkin aku memang sangat nggak ambisius. Mungkin aku memang orang yang sangat ga ber-rencana. Aku emang gak suka ama rencana, janji. Aku ga percaya masa depan. Padahal dari tes IQ waktu SMA aku termasuk lumayan cerdas, dan semua orang langsung kagum dan percaya kalo masa depanku pasti sangat cerah. Aneh! Semua orang kagum dengan semua yang aku punya. Tapi aku gak pernah ngerasa bangga ama semua yang udah kucapai. Karena aku ga pernah ngerasa punya sesuatu yang patut dikagumi. Aku punya banyak prestasi, itu wajar, karena aku mati-matian berusaha, karena ayah adalah orang sempurna di dunia. Mama juga gak pernah bilang aku sudah cukup berprestasi. Bisa dibilang, aku gak puas ama hidupku. Dan orang-orang terpenting dalam hidupku juga gak pernah puas. Puncaknya waktu aku gak tembus pilihan pertama UMPTN. Dunia runtuh! Padahal aku sangat suka pilihan keduaku itu. Sebenarnya aku bersyukur gajadi masuk FKUI. Aku lebih suka belajar Psikologi! Mendalami orang lain… tapi sangat jelas, pilihanku ga sesuai dengan harapan mama papa.
Aku anak tunggal, jadi aku gapunya role model, gapunya tempat curhat.
Teman-teman sekolah juga selalu melihatku sebagai sosok sempurna, sampai-sampai mereka takut untuk berteman denganku. Haaaaaa…. Aku capek! Aku capek hidup!
Kuliah dimulai empat hari lagi. Sekarang aku mengitari kota ini dengan kaki. Aku suka jalan kaki. Mungkin, darah pengembara kakek yang sering kujuluki eyang jipsi begitu kental dalam tubuh ini. bisa dibilang, dialah sumber kebahagiaanku selama hidup sampai saat ini. aku paling suka saat ia kembali dari perjalanan keliling dunia, kalau sudah begitu, aku langsung menantinya di teras belakang sambil membawa kue, teh hijau, dan tangan yang siap memijat. Kakek anti banget makan daging. Entah kenapa. Tapi kebiasaannya itu kutiru, karena kakek adalah pahlawanku sejak kecil. Lalu, sehabis kupijat, kakek kupaksa bercerita tentang pengembaraannya. Baru setelah beranjak dewasa aku baru tahu jelas apa pekerjaannya: arkeolog yang sekaligus fotografer berbagai media massa dunia. Kakekku, adalah indiana jones versi indonesia! Aku selalu kagum dengan cara hidupnya. Kalau bisa kuruntun, sepertinya masa-masa aku bercengkerama dengan kakek adalah masa terindah dalam hidup. Aku tertawa, bahagia, hidup, hanya saat itu. Saat-saat paling jujur dalam hidup. Sampai suatu hari di hari ulang tahunku ke duabelas tahun, kakek memberikan hadiah terakhir: Buku catatan perjalanannya yang terakhir. Kakek memang selalu memintaku untuk menjaga sepuluh lemari bukunya. Dan aku, belajar membaca dari buku catatannya.
Kakek meninggal dalam konflik dua suku masyarakat pedalaman di Irian. Katanya ada yang tidak suka dengan kehadiran kakek, karena dianggap membawa misi keagamaan yang mengancam sistem religi mereka. Katanya kakek ditusuk panah nyasar. Entah apalagi. Yang pasti, kakek meninggal.
Aku yang baru naik kelas 2 SMP, begitu hancur. Seandainya aku lebih besar mungkin aku nekat ke irian langsung. Tapi aku tak berdaya. Tubuh kakek ada di depan mataku waktu itu. Begitu hancur, sampai air mataku kering, begitu keringnya sampai aku tak bisa menangis lagi sampai saat ini. Sejak saat itu, aku tidak lagi hidup, karena mama makin memaksaku belajar,belajar, dan ngumpulin prestasi terus, dan terus.
Capek!
Cita-cita? Hm.. aku ga tauk. Dulu aku pernah pengen jadi kayak kakek. Tapi mama bilang, waktu umurku delapan taun, itu gak pantes, ketika kutanya kenapa, mama cuma bilang, kamu kan pengen jadi dokter! Jangan berubah lagi dong! Nanti nyesel kayak mama. Well, sejak saat itu kuyakinkan diri bahwa aku memang mau jadi dokter. Pasti keren. Mama juga seneng.
Mama memang ada sejarah nggak enak dengan perjalanan perkuliahannya. Mama gak bisa masuk kedokteran karena buta warna. Padahal sejak kecil ia sudah berusaha mati-matian (mungkin lebih gila dari yang kulakukan, karena ia melakukannya dengan kesadaran sendiri), mama ambisius, keras kepala, gak mau kalah. Suatu sifat yang sangat hebat, hanya saja terlalu hebat. Hingga mama pernah menipu waktu tes kesehatan, menukar data kesehatan mata dengan orang lain. Tapi ketahuan. Belum sampai satu semester, akhirnya ketahuan juga waktu ujian anatomi atau sesuatu semacam itu.(aku ga begitu tertarik untuk tau apa aja yang dipelajari. Buat aku, cukup ngeliat kodok dibetet waktu sma. Abis itu, nggak lagi deh!) Dan mama dipecat, di drop out tidak hormat. Sejak itu ia gak bisa kuliah lagi. Buat mama, kesempurnaan adalah hidup sewajarnya. Jadi nomor satu atau langsung mati aja. The best and the rest. Itu ideologi mama. Makanya, begitu jatuh, ia langsung jatuh. Susah bangkit lagi. Lalu, mama langsung nikah dengan orang yang dijodohkan oleh nenek, karena sama-sama orang Padang, katanya. Sudah cukup malu yang ditanggung karena tingkah mama, jadi mama harus menutup aib keluarga ini dengan menerima pinangan keluarga terhormat. Dan Papaku yang baru pulang belajar dari Boston dalam usia yang sudah terlalu cukup untuk punya dua anak-lah orang itu.
Lalu, enam tahun kemudian lahirlah aku. Tanpa adik tanpa kakak.
Saat ini, aku terus berjalan, jalan dan jalan. Hingga aku sampai ke suatu tempat yang namanya peziarahan Sendangsono, yang katanya dirancang oleh pengarang terbaik favoritku, Romo Mangun.
Disinilah aku bertemu legenda itu.
Begini ceritanya, waktu itu aku duduk termenung di sebuah bangku semen. Sangat sepi, dan saat itu menjelang malam, pukul tujuh malam. Aku disana sudah lima jam lebih, tak berpindah. Sambil mengisap lintingan berasap, merusak paru-paru, dan ngelamun.
Tiba-tiba saja telingaku menangkap sesuatu gelagat dan bunyi aneh, melengking, tapi sangat merdu. Tiba-tiba saja kusadari semuanya senyap. Tak ada kicau burung, tak ada derik jangkrik, bahkan udara seperti berhenti berhembus memainkan daun-daun rontok. Hanya satu suara yang terhembus, lengkingan merdu itu! Begitu penasaran, karena bunyi itu semakin tersusun menjadi harmoni, begitu bahagia… indah… mengharukan…
Aku mengelilingi tempat itu, sampai akhirnya aku menemukan sesosok tubuh yang bergoyang-goyang dibawah pohon beringin.
Aku terpana… hampir terbius, kalau bukan orang skeptis, aku mungkin sudah terbang. Tapi sekarang aku masih sadar, untuk memperhatikan bahwa aku ternyata tidak sendiri. Di sekitarku ada banyak orang yang juga menonton, dibalik persembunyiannya. Mereka takut, tapi juga ingin melihat. Bukan orang saja, ternyata burung-burung, jangkrik, angin, semuanya berkumpul disini. Bahkan burung pun terdiam tersaingi kicauannya. Jangkrik pun tak mau merusak suasana seindah itu. Hanya angin yang bekerja, mengipasi si empunya suara agar tidak kepanasan.
Semua orang terpaku. Semua kucing, anjing buduk, burung, terpaku… juga sosok-sosok tolol manusia yang ada disini.
Keremangan malam malah menerangkan suasana.
Dialah Ewa, sang legenda hidup.
Pertemuanku dengan legenda ini mempertemukan aku dengan ribuan kisah lain, kisah hidup dunia, yang membuat aku belajar hidup lebih banyak lagi.
Ini adalah kisah perjumpaanku dengan sang legenda.
Ternyata legenda hanyalah sebuah kisah biasa hidup seorang manusia biasa.
Sebuah kisah hidup biasa manusia biasa, yang membawa perubahan kehidupan manusia lain.
xxx
bocah pelintingan
“Nyuwun api, bos!” suara anak kecil itu menjawil bahuku dari belakang. Entah kenapa anak kecil maniak linting putih ini memanggilku bos, dan membuat kawan-kawan gerombolan nomadennya memanggilku dengan sebutan itu juga. Dan ini sudah hari kedua puluh dua mereka memanggilku dengan sebutan aneh itu.
Dulu, setauku di kotaku dulu sebutan ini cuma dipake para preman jalanan, tukang calo tiket jalanan, tukang palak kudisan… kupikir sebutan ini cuma ala jakarta aja. Ternyata, jalanan ya jalanan. Satu legenda jalanan aja bisa jadi legenda jalanan universal, seluruh dunia, apalagi cuma sebutan.
Anak ini langsung kusodorkan lintinganku yang masih menyala-nyala.
Aku sudah biasa dengan kebiasaan anak ini. hampir tiap malam sampai pagi aku ndhodhok alias jongkok di jalanan raya yang sangat sepi ini, ngelinting berdua, atau lebih, dengan kawan-kawannya, atau dengan rombongan pemuda jalanan sambil main gapleh atau catur.
Kadang cukup dalam diam saja, aku mengamati mereka. Kadang aku mengadu mereka gapleh atau catur, sampai mereka bosen karena penasaran, aku selalu menang. Mereka gak tau aku juga dah bosen menang terus, dengan mudah. Ingin sekali-kali aku mengalah, tapi mereka tau, dan menganggap aku licik, gak asik, gak jantan. Akhirnya, aku dengan cepat disingkirkan dari permainan. Dan kembali menjadi pengamat pasif, yang jongkok di pinggir jalan sambil ngasepin paru-paru.
Anak kecil ini yang menghibur. Walau cukup menemani dalam diam saja. Toh aku emang nyari ketenangan disini.
Awalnya aku gak peduli dengan keberadaannya. Namun setelah beberapa kali aku nongkrong berbagi lintingan plus api bersamanya, aku menemukan suatu kejutan menarik darinya. sangat menarik! Hal yang gak pernah aku duga.
Hari itu, aku pulang dari kerjaan ngajar privat biola. Dan bukannya langsung pulang ke rumah kontrakan, aku langsung main ke tongkrongan biasa. Waktu itu pukul sepuluh malam.
Begitu sampai, aku ngambil pojok yang biasa. Jongkok, lalu ngebakar batangan cengkeh, dan mulai memasukkan asapnya kedalam tubuh. Sejam kemudian jawilan itu datang. Spontan langsung kusodorkan lintingan.
“Biola to, bos?” bocah ini yang kali itu datang membawa dua bocah lain tiba-tiba bertanya.
Aku masih kaget, karena memang asik melamuni masa lalu. Kontan aja aku langsung noleh, ngeliat mereka bertiga. Dan baru kali itu kuperhatikan sosok bocah bandel ini.
Ia masih sepuluh tahunan, t-shirt lusuh, robek di beberapa tempat, dan celana sd yang tertutup t-shirt yang super XL itu.
“He-eh” dan aku masih memperhatikan mereka. “Siapa nih?” mataku menunjuk pada dua bocah ingusan lain, yang sama-sama plontos, ingusan, kira-kira 120 cm, yang satu cengar-cengir melulu, dan yang satu lagi sepertinya bocah yang agak kalem dan penakut.
“ aku bapak angkat mereka! Anak-anakku lo mereka ini!” ujarnya sangat bangga, sambil mengeplak kepala dua bocah itu.
“Ha?” hehe… kontan aku langsung ketawa, kaget! Hahaha…. Baru kali ini nih nemu yang kayak gini! Anak sepuluh taun berani-beraninya jadi bapak angkat dua bocah lain yang umurnya kira-kira sekitar lima sampai tujuh tahun. “Kok bisa? Kamu kan masih kecil banget!”
“Lha mesti bisa tho bos! Kalo nggak, bocah-bocah iki ora ono sing urus!”
“Loh, kamu sendiri? Yang ngurus siapa?”
“Aku? Ya… mas Kebo. Tapi mas kebo lagi gak disini, dia ke Jakarta, ora balik-balik.”
“Oh…”
lalu ia memperkenalkan dua ‘anaknya’: Joko dan Paijo. Ia sendiri mengaku sebagai Kasman, “tapi aku minta dipanggil Romo Ewa sama dua anakku.”
Ha? Apa dia bilang?
“Ewa?”
“Iya bos, wah bos sih dateng dari Jakarta, dadine ora ngerti Ewa.”
“Emang Ewa tuh siapa?”
“Wah, Ewa iku wong sakti, bos!”
Joko, yang kalem tiba-tiba berbicara: “Romo Ewa wong sakti, dolan rebab sing kayak gitar! Bapak kan ora sakti kayak Romo Ewa!”
“Weis! Ora sopan! Ojo nyela bapakmu!”
Sementara Paijo yang tampak bandel sebandel “bapak” -nya, dari tadi berjalan terus mengelilingi seputar jalan ini, mengganggu orang-orang yang lagi gapleh, catur, ngobrol sana-sini, gak bisa diam. Lalu ia menghampiri kami: “Romo, aku njaluk udhutte” (Bapak, aku minta rokoknya)
“Weh! Ora oleh! Iki rokok oleh kanggo wong dewasa, sing wis gede kayak romo. Kowe bocah cilik! Wes, ajak dolan adekmu iki!” (weh! Gak boleh! Ini rokok boleh buat orang dewasa, kayak bapak. Kamu anak kecil! Dah, ajak maen adikmu aja!)
“Ah, Romo pelit!”
“Heh! Tak ceples ya kupingmu!”
“Iya, iya Romo, aku tak dolan karo Joko!”
hihihi… aku nyengir-nyengir aja ngeliatnya. Yang barusan kulihat itu kayak lenong! Atau.. apa namanya? Ketoprak! (bukan toprak yang kutraktir buat tiga bocah ini)
“Ewa iku,bos..”
“eh, ntar, kenapa kamu panggil aku bos?”
“Lha, kan orang Jakarta yang gedean pasti dipanggil bos. Mas Kebo yang ngasihtau”
oh… aku merapatkan jaket jeans gede dan topiku.
“Yaudah, ewa tu siapa?”
“Dia itu bos, orang yang paling hebat deh!”
belum selesai ceritanya, tanpa sepengetahuanku, si Paijo membunyikan suatu alat musik. Bukan, bukan biolaku. Tapi rebab! Ah, rupanya di seberang kami ia menemukan kakek pengemis yang memakai rebab. Mungkin ia menawarkan diri untuk menggantikan tugas si kakek yang kini terduduk disebelahnya.
“Paijo emang jago ngerebab, bos. Tuh, si kakek yang ngajarin. Lagu-lagunya dia baru bisa tiga.”
Wah…
“Bos, boleh coba biolanya nggak?”
He? “coba aja.”
“JO! Paijo! Sini!” yang dipanggil pun langsung menghentikan kegiatannya dan berlari-lari ke tempat ini.
“Iki, coba!”
“Wah.ini,romo? Kok kayak rebabnya Romo Ewa? Tak coba ya?”
beberapa detik kemudian mengalunlah alunan harmoni macapat jawa dari biolaku. Hebat! Bocah jalanan ini bisa menguasai biolaku! Tapi kok bisa?
Penjelasan si Kasman itu kemudian menjawab semuanya. Dan aku sudah menduganya.
Jadi, kenapa?
“Dari Romo Ewa.”
Plung, lintingan berasap yang kupegang terjatuh ke selokan.
xxx
c a t a t a n e k s p e d i s i p e n e l u s u r a n k a u m j i p s i
10 Mei 1978, Mannheim, Republik Federal Jerman
peniup seruling dari hamlin
(der Rattenfanger von Hameln)
Alkisah, pada hari yohanes dan paulo tanggal 26 Juni 1284, sejumlah anak di kota Hamlin, dibawa alunan irama seruling seorang pengembara, menghilang ke arah timur.
The legend of the Pied Piper of Hamelin,
tulisan di gereja Mark…(yang bagian
ini ga jelas, udah lapuk kertasnya)
Tahun 1284, di kota hamlin muncul seorang laki-laki yang sangat tampan. Dia menyebut dirinya sebagai penangkap tikus yang terkenal.
Begitu dia meniup serulingnya, tikus-tikus dari seluruh penjuru kota berkumpul di sekelilingnya. Lalu laki-laki itu memimpin barisan besar pasukan tikus itu sampai ke sungai Weser, membuat tikus-tikus mati tenggelam.
Tetapi, penduduk kota mengingkari janjinya, mereka menolak untuk memberikan imbalan.
Tragisnya, itu terjadi pada hari Yohanes dan Paulus, yaitu tanggal 26 Juni.
Laki-laki itu datang kembali ke kota dan meniup serulingnya sehingga mengumpulkan anak laki-laki dan perempuan.
Untuk membalas dendam, dia membawa anak-anak dan menghilang ke guning Hovenberg.
Para orang tua di kota Hamelin sangat bersedih. Mereka mencari anak-anaknya. Namun tidak menemukannya.
Katanya, jumlah anak yang hilang saat itu ada 130 orang.
…………..
15 mei 1978, Heidelberg
catatan dari seorang anak buta yang berhasil lolos dari laki-laki penari seruling tersebut::
“Kalau ada yang memberitahukan tempat ini pada seseorang, tamnatlah riwayatku,” kata Laki-laki itu sambil naik ke puncak guning yang rimbun. Dia menemukan orang kedua dan orang kelima yang telah kabur.
“Kalian ingin tahu dimana ini? Disini bukan Hein yang ada di Rhein.”
……………..
21 mei 1978, Hameln, kota yang dilewati sungai Weser
Seorang penjual buku bangsa mesir di kota ini menunjukkan satu buku sangat tua,, bercerita tentang legenda-legenda Czecho-slovakia. Catatan seorang kepala biara dari Olomouc, a city in central Moravia.
Pada abad 13 warga desa menderita karena setan, tapi mereka tertolong oleh 130 malaikat.
Mereka berwajah buruk, jika dilihat dari luar, benar-benar mirip setan kecil”
(catatan sang cucu buat kakek: (yang ini ditulis di kertas lain)
buat kakek, aku nemuin cerita yang sangaaaat sama dengan catetan kakek. Beneran loh!
Ini ceritanya aku temuin di komik! Swear! Namanya, kek, komik Master Keaton, nomer lima. Katanya juga legenda ini nyata ya kek? Besok aku bacain buat kakek ya?
Dari Si cucu jipsi,
29 juni 1992)
……………………..
minggu terakhir Juni 1992 (aku masih tujuh taun), waktu itu masih pagi, jam lima subuh
Mister eyang jipsi, ceritain lagi dong yang kemarin, kan ceritanya belum selesai… ayo, katanya mau bagian yang paling seru, katanya mau cerita kalo itu cerita beneran…
Ayo dong kek…
“ Sabar anoman kecil, tuh muka kamu masih banyak pulaunya!”
huu…
“Kakek mau ketemu temen kakek, ga bisa cerita sekarang.”
“Ikut”
“dia orang Jepang, nanti kamu bingung lagi.”
“Ikut…”
“Nanti kamu bosen, pengen pulang”
“Nggak”
“Nonton kartun aja ya di rumah”
“Aku bawain dompet kakek, kutunggu di jip ya, kek” (waktu itu aku langsung lari-lari masuk jip dengan kacamata kakek, dompet, dan buku catatan kakek)
kakek gabisa nolak.
“aku bakal kalem deh kek. Suwer (swear)… janji!”
kalem? Hehe… waktu itu, awalnya sih emang kalem banget, tapi cuma sepuluh menitan. Kakiku langsung gatel, mataku gabisa diem, langsung lari-lari ngiterin rumah gede itu. Ya salah sendiri si orang jepang itu ternyata rumahnya sangat besar, banyak benda-benda aneh lagi! Lebih aneh dari yang punya kakek! Ada baju tentara yang kayak film samurai jepang. Ada dua kayu kecil, tipis, tapi yang satu ada senarnya. Katanya itu rebabnya orang Afrika. Dan banyaak benda-benda aneh lain. Sampe aku ngabisin belasan lembar di buku catatan penemuan harian yang kemudian kucatatkan malamnya sepulang dari rumah orang jepang ini.
dan untung aja, si orang Jepang gak marah dengan kelakuan si anoman cilik ini. malahan dia ngasih tau macem-macem. Huh, ternyata dia anoman juga, tapi dari Jepang.
Hehe… petakilannya sama!
Dan mau gak mau, kakek nimbrung, sambil ngejelasin tiap barang yang kutunjuk. Masalahnya si mister Jepang itu ga lancar bahasa Indonesianya.
Dan mereka nostalgia, bercerita waktu mereka mungut benda-benda aneh itu.
“O… jadi mister Jepang ini temen kerja kakek kalo ngegali tanah di mana-mana ya?”
“ya, kami.. e, sama-sama ya, waktu nelusuri legenda hamlin itu,ne.. kamu tahu, itu cerita benar ada!”
wah…
dan si mister jepang itu bercerita tentang pengalaman mereka.
--------------------------------cerita belum selesai, takut ilang kutaro sini aja------------------
MADRIM
ini salah satu hasil mimpi yang belum terselesaikan buatan gayuh, suatu masa, suatu senja...
Papa, mama, I have a confession. I believe that you will be shocked instead. But in sooth I knew, bahwa papa dan mama sudah terlalu sering menghadapi tingkah putra-putri keras kepalamu ini. Sehingga janganlah terlalu kaget atas apa yang akan saya ceritakan ini. Sebab sungguh tak ada niat putrimu yang nyeleneh dan mbalelo ini untuk durhaka pada papa dan mama. Sungguh putrimu ini hanya anak kecil yang tak kunjung puas, mengejar dunia yang tak nampak dalam mimpi sekalipun. Mengejar dunia yang tanpa batas. Mengejar dunia yang tak memuat kepicikan manusia.
Maafkan putri bandelmu ini papa, maafkan putrimu yang sakepenake dewe iki, ibu.
Sungguh semua yang kulakukan ini tak lain adalah untuk memahami apa yang telah papa dan mama ajarkan pada kami sejak kecil. Untuk memahami inti dari suatu ajaran indah yang mempertemukan berjuta-juta orang dari segala macam umur, ras, dan bahasa, menjadi saudara.
Pardonnez-moi, je ne peux pas prendre le meme route que ma soeur et mes freres ont pris (Maafin saya, ga bisa nempuh jalan yang sama seperti kakak-kakak saya). Mungkin, jalan hidup orang memang berbeda-beda. Tapi percayalah mama, aku juga meyakini hal yang sama.
Uffh, berat! Apa harus kulanjutkan? Padahal ini baru permulaan. Daguku gemetar, jari-jariku seolah menolak bersentuhan dengan tuts libretto 50ct diatas kasurku ini. Bahkan leherku yang tak ikut bekerja pun ikut menyumbangkan empati. Haus!
Haruskah kulanjutkan surat ini? Aku merasa surat ini akan membawaku pada suatu peristiwa besar yang akan mengubah hidupku. Takut! Tapi harus! Ah, tak pernah kubayangkan sang jago cerita ini begitu tercekatnya dan begitu gemetarannya hanya karena sebuah pengakuan, sebuah surat yang belum lagi selesai dibuat? Tapi mampu membuat jari-jariku impoten pada pensil ijo 2B tersayang.
Hm.. bagaimana aku bisa menulis sebuah kisah gila ini pada mereka ya? It’s a big disclosure untuk ukuran keluarga superku itu. Kalau kamu ada dalam posisi saya, aku pun gak yakin kalau kamu bisa menulis dengan lancar walau kamu penulis hebat! Walaupun kamu seorang… penulis. Man! This is my family! I feel like such a damn heathen in a saint family. But I love them. My family is my life.
Coba, bagaimana kau akan menulisnya? Ok, ada baiknya aku ceritakan dulu, sambil mencari kata2 tepat untuk kutulis pada papa mamaku.
Ceritanya berawal dari…
Saat ini…..
Tok… tok… tok… tok… tok… tok… tok…. Tok… tok… tok… tok… tok… tok….
Lima gender Bali mulai sahut menyahut. Ramai, energik. Masuklah dengan lompatan khas, ngangkang, sesosok bertopeng barong, kayak buta cakil. Mukanya merah, matanya besar, taringnya nongol, jenggot, rambutnya gondrong kemana-mana. Ada kemboja putih di pinggir rambutnya. Mengelilingi panggung, dengan kain bertumpuk-tumpuk kayak cewek korea, busana yang ramai: merah dan emas, celana tiga perempat, perabotan-perabotan lain di kaki, lengan. Ramai, energik.
Kisahnya: seorang batara yang memakan bulan.
Trak.. tak tak..tak…
Pernah jatuh cinta? Berapa kali? Apa? Belum pernah? Hm… kata temen-temen sih: kasiaan deh lo!
Kata orang jatuh cinta membuat hati berbunga-bunga jiwa melayang kaki serasa tak menapak tanah, mata tertancap hanya satu bayangan, bibirmu selalu tersenyum tanpa kau mau, dan ketika bertemu dengannya di dunia ini seperti tak ada orang lain di depanmu, hanya dia. Dan kau hanya ingin bersamanya. Karena kau merasa aman dan nyaman ketika bersamanya. Tak ada lagi yang kamu perlukan, semuanya sudah… lengkap!
Indah, ya? Aku pernah juga. Keindahannya dan kelezatannya lebih berbekas kuat daripada dark chocolate toblerone, atau lebih lembut daripada cokelat kinder bueno. Mmm.. there’s nothing you need more.
Dua kali aku merasakan itu. Mungkin memang telat, karena aku baru menemukannya pada usia 21 tahun. Padahal ibuku sudah hamil yang kedua kalinya pada usia ini.
ateis, yahudi, kejawen, dan hmi
mei 2002, kantin sastra, sore hari
“ Drim, kowe wis pernah nginep durung?”
Haa? Weis, Bayu. Tiba-tiba nanya begituan. Sok serius lagi. Gak kaget sih. Kami berempat memang lagi nongkrong gak jelas dan ngobrol ngalur ngidul. Dan, ngertilah kalo ama mereka-mereka, pasti ada aja jalan menuju masalah virginity. Wajar, mereka udah usianya nikah. Pria-pria mahasiswa tingkat akhir, bo!
Saat itu kami lagi membicarakan hubungan diluar nikah. Kebetulan kami berempat menganut agama yang melarang banget hubungan seperti itu. Wah, neraka jahanam, harus dirajam di muka umum! Seru Minang.
Kemudian Bayu kembali meneruskan: Minang, menurut kamu gimana kalo si Madrim ini pernah nginep ama seorang cowok?
Minang -yang baru saja curhat ketidakpuasannya atas perilaku sang pujaan yang telah ditembaknya hampir tujuh kali yang ternyata telah menerima orang lain dan diisukan sudah bergandengan tangan dan bersms ria-berskeptis ria. Wah jangan katanya. Jangan sampe deh! Itu majenun! Dan nggak, gue ga percaya kalo si madrim bisa. Walaupun suka absurd dan sok liar, nggak, ga percaya gue.-Minang emang yang paling based on the Book dibanding kami bertiga yang wild thinking abis-.
Aku tertawa. Putra cengar-cengir ga jelas- pasti dia lagi asik ngayal-. Kubilang: Wah Minang, lu ga tau aja. Dan setengah becanda dan tidak, “aku pernah, lagi.” Minang ga percaya. Putra masih cengar-cengir sok merhatiin. Cuma Bayu yang agak percaya. Dan aku gak peduli.
O ya? Ning ndi Drim? Karo sopo? Kapan? Bayu nanya.
Dengan gayaku yang gak bisa serius kubilang aja kenangan lama itu asal. “Di Bandung, taun lalu.”
Minang tetep menunjukkan muka: yeah, right. Putra masih sok meratiin padahal lagi ngayal sendiri. “Ha? Oh mungkin aja man, kenapa nggak? Hak pribadi lagi man!” cuma itu tanggepannya.
Hehe… aku cengar-cengir ga peduli.
“Kenapa di Bandung? Kenapa gak di Jakarta aja? Kan banyak tempat disini.”
Weis, ditanggepin. “Lo percaya, Bay?’” Yang ditanya bilang fifty-fifty, mungkin aja. Mmh, ciri khas anak sastra! “Walaupun gue begini?” sambil menunjuk kepalaku yang tertutup.
“mungkin aja,kok.”
Hmm..
“Sama yang dulu pernah kamu ceritain itu? Yang suka ngebasket di senayan?”
Hehe, bukan. Itu cerita lain lagi yang terpendam. Tapi kuiyain aja. Ntar dia tau lagi kalo ‘yang suka ngebasket’ itu temennya. Huh! Dia masih inget aja, padahal cuma 5 kalimat pendek dan sudah lebih dari setahun yang lalu! Kenapa? Bayu menuntut cerita.
“Abis dia ama aku beda agama. Di Bandung, karena kami harus berpisah saat itu.” Jawabku asal, gak peduli mereka percaya ato nggak. Putra dan Minang masih dengan reaksi yang sama, gak peduli dan gak percaya. Mereka ga percaya, dan nanggepin omonganku biasa aja. Kami sudah terbiasa dengan khayalan mesum teman-teman, kayak Putra yang ahli ngayal mesum seolah sudah ahli prakteknya. Padahal mereka masih virgin- paling parah cuma main sendiri abis nonton bokep bareng-.
Bayu masih menuntut cerita. Putra mulai tertarik. Minang mulai memikirkan yang lain.
Aku memuaskan pertanyaan mereka.
“iya, karena beda agama aku ngelakuinnya. Kalo sama, kan masih ada kemungkinan untuk saling having each other di dalam garis batas yang disahin masyarakat. Karena beda agama, kami sama-sama sadar kalo hubungan kami tuh gak realistis, bahasa Venanya sih nggak banget deh. Kami sama-sama tau kalo kami bakal pisah dan emang harus pisah. Dan gue gak nyesel, itu pilihan gue. I know it’s a sin, but I didn’t and don’t regret it.” Jelasku tanpa ekspresi.
Putra mulai agak percaya. Mereka terdiam. Aku senyum, meratiin mimik mereka. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam detik. Mimik reaksi sang ateis, kejawen, dan hmi. Ada yang berbinar, ndhelonghop, dan risau.
“wah gue mesti cabut nih ke fisip.”
“HMI, Nang?”
“Nggak, gue cuma bisa boker di fisip.” Jelasnya sambil mengelus perut buncitnya sambil menyomot irisan terakhir roti coklat Putra. “Yok, duluan ya”
Kami tinggal bertiga. Tiga orang tanpa batas. Walaupun yang satu berkerudung.
Lintasan kisah getir itu datang lagi. Aku, dan sang lentera. Tepat satu tahun enam bulan yang lalu. November 2000, ketika kampus lagi sibuk mau ujian akhir semesteran. Aku mulai kenal.
Tidak ada yang tahu dan boleh tahu kedekatan kami. Bahkan empat sobat gangku yang udah buka-bukaan banget deh mereka. Terlalu berat buat temen-temen untuk nerima kenyataan yang terlalu absurd, dan terlalu nyeleneh. Aku ga mau mereka terpukul, tahu si muka innocent itu tak berhasil mereka jaga.
Nggak juga dengan Bernadette, my dynamic duo sejak sma. Just me, and sang lentera. And God.
s a n g l e n t e r a
akhir desember 2000
Belum pernah aku setertarik ini sama orang. Kucari namanya kesana sini, nanya sana-sini, semua ensiklopedi kucari barisan ‘L’ nya. Bahkan the Book nya Bernadette juga kubongkar. Yang sempet ngebuat Adet –panggilan sayangnya- curiga,” Kamu mau pindah agama ya Drim?” Kujawab selalu dengan tawa. “Ngaco! Cuma pengen tau kok. You know me lah, Det!” lalu aku kembali membongkar.
“Dasar Gila!” Adet nyentil kepalaku. Ia khawatir: Madrim akhir-akhir ini ke kosnya langsung nyerbu Buku itu dan keep asking sebuah nama.
Emang kenapa dengan nama itu tanya adet. Kujawab sekenaku: Gatau, nama itu terus haunting my head, itu aja.
”Ckck, dasar gila. Terserah lo deh. Gue ngetik jangan diganggu ya! Siap-siap kompre besok nih.”
Fine.
Dari berbagai sumber, aku mengumpulkan data diantaranya:
Nama yang kucari menurut buku nama bayi di gramedia matraman artinya: sang penerang, atau sama dengan lentera.
Lalu menurut webster, an early Christian disciple and companion of Paul, a physician and probably a gentile: traditionally believed believed to be the author of the third gospel and the acts.
Dari buku Adet, nama itu tercantum sebagai nama surat- setidaknya itulah asumsiku, seperti al-baqarah-. Atau lebih tepatnya, suatu bagian besar dari a Big Book, which is Chapter.
Jadi bisa diasumsikan kenapa ia diberi nama itu. Aku mulai mereka-reka cerita. Dan aku mulai memanggil manusia itu dengan nama samaran: Sang lentera.
Sang Lentera. Aku berkenalan dengannya sebulan yang lalu. Di erasmus huis, resital biola seorang maestro belanda yang: Jago bangedh! Caprice 24 paganini mampu ia bawakan dengan menggelegar! Satanic banget deh! Aku ndhelonghop.
Ia fotografer. Setidaknya begitulah penampilannya waktu itu. Kemeja kotak-kotak biru muda, celana gunung khaki yang bersaku dimana-mana, sandal gunung yang suka dipake Age, Geni, Danang dan anak-anak mapala lainnya kalo mau naek gunung, atau ke baduy dua hari yang lalu. Yang lucu dari dia waktu itu: Lensa kameranya yang panjang banget. Sampe dua jengkalan tanganku deh.
“gile! Kayak mo motret demo aje.” Komentar item, temenku yang bisa megang kamera –fotografer majalah kampus-. Item ngiri, ga pernah megang kamera seoke itu.
Di tengah permainan sang maestro ia dengan cueknya melanglang buana. Jeprat jepret sana-sini. Aku masih ga peduli. cuma aku tau, item, putra, dan Yasa ga meratiin perrtunjukkannya. Tatapan mereka terpatok pada benda yang dipegang mahluk berkemeja kotak-kotak biru muda itu.
“Mupeng banget sih lo-lo pade!” bisik Age.
Hihi, kalo nggak lagi ada yang maen biola (caprice 24 paganini,lagi), dan nggak segelap ini, pasti keliatan jelas tampang ngiler tiga fotografer sampingku itu. Sementata tiga temenku itu asik ngiler ngayal mereka megang kamera sedahsyat itu –Item ngayal motret monyet di hutan sumatera, putra ngayal dapetin kado kamera itu sebagai ganti canonnya yang diembat seorang klepto tak dikenal, Yasa ngayal motret cewek bonges di Bromo-, Age asik nguap, aku asik tenggelem ngiler juga ngeliat si maestro itu maenin dengan DJUAGOnya lagu iblis karya Paganini itu. Waw! I wish that was me! Dan tanpa sadar- inilah titik awal perjumpaan benang merah kami- lensa dari kamera Leica itu membidik muka-muka ngiler kami. Satu-satu.
Lagu pun usai. Saatnya istirahat. Kami ke ruang bawah. Ada pameran anne frank. Semua asik muter. Aku terpisah. Tiba-tiba…
“Caprice nomer 24, caprice paling buncit buatan Niccolo Paganini. Ini caprice gabungan dari 23 caprice sebelumnya. Gabungan bagian dahsyat 23 caprice sebelumnya. Makanya sangat dahsyat, tres diable, iblis banget. Gakbisa dibawain ato dinikmati oleh seorang konservatif yang kalem yang hanya bisa menikmati karya semacem Air nya Bach. Caprice nomer 24 adalah kepingan untuk manusia ekspresif dan penuh kehidupan. Yang tersenyum dengan mata berbinar-binar sampe gak sadar ama sekitarnya cuma dengan ngeliat dan ngedengerin permainan seorang maestro membawa Caprice 24 itu. "
Aku bengong. Kenapa ni orang? Ngomong sendiri ngadep tembok. Aku menoleh, mendongak, ke atas. Ia begitu tinggi! Sebahunya pun aku gak sampe. Oh, fotografer itu. Kemudian sambil mencangkem Leicanya, ia menoleh dari poster di depan kami, menatap mataku, tersenyum. Aku masih menerka-nerka jalan pembicaraannya.
“Suka musik tadi? “ pancingnya lagi mencairkan kediaman tiga detik. Dan ia berhasil.
“Wah! Banget! Baru kali ini aku ngeliat Caprice 24 dimainin sejago itu!” Dan aku mulai nyerocos panjang lebar penuh api tentang Paganini, karya-karyanya, permainan bapak maestro berambut putih yang emang super iblis tadi. “Keren abis!” tutupku. Gantian dia yang melongo. Kami terdiam lagi. Aku kebanyakan ngomong absurd lagi nih! Mata tajamnya masih menatapku. Kami tersenyum.
“Maaf, kebanyakan ngomong.” Aku tertunduk malu. “Mm.. suka caprice 24 juga? “
“iya, saya selalu membayangkan mimik orang kalau mendengarkan lagu dahsyat itu. Lagu superhidup! Kayak teriak: come on! DO IT! Let’s get alive! .. Dan saya baru melihat mimik hidup itu tadi.”
Oh..(aku teringat komik Swan: ada tarian koreografi Bejart yang make lagu Bolero-nya Ravel, yang juga maenin emosi orang sedahsyat itu)
“Maaf, saya mengambil gambar kamu tanpa ijin tadi.”
Mukaku jadi panas, gatau kenapa. Lalu aku senyum aja.
Kami berkenalan. Namanya Lukas. Aku Madrim. Kami bertukar nomer HP. Alasannya: saling kabar tentang konser.
Waktu istirahat abis. Kami terpaku. Ia masih menatapku. Teman-teman memanggilku. Usai sudah perbincangan kami. Kami berpisah dengan sopan. Seperti orang Jepang bersayonara.
Sisa konser setelah istirahat, aku tak bisa lagi menikmati biola iblis maestro ini. Tanpa bisa kusetir, mataku berkelana mencari sosok tinggi berkemeja biru itu.
Jelas, I’ve got trapped. Aku tertarik. Sorot mata tajamnya bercokol di kepala. Pembicaraan yang belum selesai…
Aku ingin bertemu lagi… (padahal kami baru bertemu dan aku ga percaya ama love at the first sight)
Esok paginya aku sudah lupa.
Sampai dua minggu kemudian, di UN building depan sarinah. Aku datang jam 10 pagi, menunggu Pak Philippe untuk kuwawancarai tentang masalah budaya-untuk skripsiku satu semester lagi-. Tunggu ya dik, pak Philippe memang orang sibuk banget.” Jelas sekretarisnya. Huh, daripada bosen, aku jalan muterin gedung satu ini aja. Wah, ternyata UN building ga setertutup keliatannya dari luar. Memang, full of blue. Tapi ga seseram tampak luarnya. Ruangannya ga gitu gede. Dan semua tumplek blek disini. Ada WHO,FAO, UNESCO, dan, dan.. apa lagi ya? Tauk deh. Yang pasti ampir semuanya numpuk. Untung UNICEF dan UNIC ga ikutan disini. Kalo nggak, bisa ambruk ni gedung.
Lalu aku turun ke lantai dasar, ke perpustakaannya.Wah, tumben, banyak banget orang! Biasanya dua orang dateng aja dah banyak. Ternyata mereka kumpulan wartawan, dokter, dan aktivis HAM. Ada yang bule, ada yang lokal. Mereka berkerumun di sudut ruangan lain, yang ngebuat ga semua yang dateng bisa keliat.
Tiba-tiba mataku tercekat suatu benda diatas suatu makalah. Leica perak berlensa dua jengkal itu! Aku terssenyum. Ada ingatan menyenangkan disana. Berjingkat-jingkat kudatangi benda yang dijombloin ama yang punya. Iya, bener! Leica yang sama! Ada goresan satu di deket mereknya. Senyumku makin mengembang. Kuambil makalah dibawahnya. Ada emailnya: lucas@reuters.com
Oh, dia orang reuters ternyata. Ah, mereka datang! Aku pun bergegas menyelinap keluar perpustakaan kayak maling-padahal aku sama sekali gak perlu bersembunyi-. Abis gimana lagi, hati ini berdegup kencang sekali. Sampai di tingkat dua aku baru sadar kalau tanganku masih meremas erat sebuah makalah.
Aku tidak mengembalikannya.
Sepanjang perjalanan pulang dari Unesco, diatas Patas 43, makalahnya terus kupegang dan kupeluk erat. Senyumku terus mengambang. “ Dia pasti lagi kebingungan, makalahnya ketiup angin apaan. Hihi, aku jahat sih. Tapi biar ah.”
Kemudian aku mulai membacanya. Makalah setebal 98 halaman, 1.5 spasi, in english. Hm, jadi selain moto, dia bisa nulis juga. Jago juga tu orang. Isinya bukan sepenuhnya hal yang bisa kumengerti, sebab banyak istilah yang hanya dikenal di dunia medis dimana mercurochrom aja haram disebut obat merah. Garis besar isinya ya, hasil pengamatan dan analisa kesehatan di negara-negara asia Tengah dan Asia Barat. Diantaranya ada Pakistan, Afghanistan, Palestina, Israel, dan India. Pengamatan dilakukan di hampir setiap lokasi paling kumuh tiap negara. Leader team: Lukas. Fakta baru: Ia dokter, dan bekerjasama dengan WHO. Analisanya menarik! Sungguh suatu pemikiran global tanpa asumsi yang bisa dengan menyenangkannya membuat siapapun yang membaca bisa mengerti tahap kemajuan tingkat kesehatan di negara-negara yang ia teliti. Lengkap dengan sebab politik, ekonomi, budaya, dan ideologi. Pemikiran yang hebat, seperti Huntington menjelaskan Clash of Civilization. Sungguh suatu pemikiran yang sangat besar! Sayang aku sedang terbawa luapan bahagia. Sehingga aku tak bisa menceritakannya dengan lengkap apa pemikirannya. Cukup bahwa pemikirannya sangat global dan menarik (menurut saya).
To : lucas@reuters.com
Subject: anestesi di Afghanistan
Dear lucas,
Afghanistan termasuk salah satu negeri paling unik sejagat dalam abad ini. Mulai perlawanannya pada pendudukan komunisme rusia sampai the Taleban, anak-anak muda fundamentalis-kata orang barat- yang sangat erat mengikat bangsanya dengan syariat .
Opium dilarang, HARAM jaddah! Tapi opium menjadi pemasukan devisa paling tinggi bagi negara. Lalu opium pun tetap diproduksi. Walaupun mereka masih menganggap haram. “kan, bukan buat kami, tapi untuk dikirim.” Kilah mereka. Gimanapun haram ya haram.
Lalu apa hubungannya dengan anestesi?
Bagi seorang dokter, terutama dokter lulusan Belanda, anestesi adalah salah satu metode pengobatan pada pasien.
Menurut webster, anesthesia or anaesthesia adalah 1. general or localized insensibility, induced by drugs or other intervention and used in surgery or other painful procedures 2. General loss of the sense of feeling, as pain, temperature, or touch
Bisa dikatakan bahwa anestesi adalah suatu bentuk pembiusan, penyuntikan obat untuk menghilangkan rasa sakit dalam proses medis, biasanya dalam saat pembedahan. Bisa suatu tempat tertentu seperti hanya jempol kaki saja, atau seluruh tubuh. Tergantung dosisnya.
Lalu berkembang lagi, anestesi tidak hanya pembiusan sementara. Anestesi bisa ditingkatkan lagi dosisnya untuk benar-benar membius orang sampai seluruh organ tubuhnya tak bekerja lagi bukan untuk sementara. Mematikan orang dengan bukan ketidaksengajaan.
Lalu timbul perdebatan: bolehkah anestesi dosis tinggi yang mematikan disahkan sebagai pengobatan dalam dunia medis? Sebab pengobatan adalah suatu penyembuhan, membawa orang sakit menjadi sehat kembali, bukan mati. Itulah tujuan seorang ibu mengopnamekan suaminya yang kanker otak ke rumah sakit. Agar hidup lebih lama lagi, walau hanya satu minggu. Walau menguras tabungan tujuh turunan.
Di Jepang, Malaysia, dan negara-negara timur tengah, dokter yang menerapkan anestesi untuk mematikan seluruh organ tubuh manusia dihukum. Dipecat, atau lebih parah lagi ditarik ijin prakteknya. Sehingga bila ia memberi resep obat penisilin sekalipun, ia bisa dihukum. Hukuman kurungan, penjara atau dan denda.
Di negara-negara barat yang sudah mulai sekuler dan berbasis HAM, seperti Perancis dan Belanda, anestesi mematikan dibolehkan. Walau masih timbul perdebatan dimana-mana. Tentu tidak dengan mudahnya seorang dokter memutuskan pemberian dosis super tinggi. Tapi sudah dibolehkan.
Kenapa dibolehkan? Kenapa mematikan orang as Playing God di sahkan secara hukum? Bagaimanapun mematikan tetap mematikan. Seperti pasal 338 KUHP indonesia -yang isunya mau diganti sejak belasan tahun yang lalu-: barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Jadi membunuh ya membunuh.
Biasanya seorang penderita penyakit berat seperti kanker, aids, adalah orang-orang yang tahu usianya tak selama seharusnya. Dirawat sehebat seintensif apapun, penyakitnya tak akan hilang. Penyakit yang justru makin dikoyak makin tumbuh besar, mengakar. Mereka tahu, they will die soon. Kebanyakan dari mereka sudah pasrah, hidup dengan penyakit tanpa perlu dirawat. Mereka sudah siap mati, tapi keluarganya tidak.
Permintaan anestesi seringkali datang dari si penderita sakit. Alasannya: sudah tak ada harapan hidup, semakin lama hidup semakin besar beban keluarga, pemborosan, sudah tak tahan lagi sakitnya.
Sebenarnya anestesi sampai mati pun bisa menghemat budget negara. Beban manusia berkurang satu, obat-obatan tak terhabiskan dengan sia-sia.
Secara realistis, anestesi sampai mati cukup menguntungkan. Buat negara, buat keluarga, buat dunia. Karena beban dunia berkurang satu.
Tapi nyawa manusia begitu berharganya, sehingga orang bersedia mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya hanya untuk menambah umur satu hari saja.
Lalu, anestesi di Afghanisthan?
Afghanistan adalah negara Islam. Islam, apapun caranya melarang perampasan nyawa orang. Karena itu anestesi sampai mati adalah haram. Apalagi saat ini negara penghasil opium terbesar ini ada dalam kekuasaan rezim yang lumayan strict. Apalagi sebenarnya sungguh tidak diperlukan anestesi untuk mematikan orang disana. Karena kondisi perekonomian dan gizi bangsa yang sudah sedemikian parahnya. Tapi entah kenapa penduduk Afghanistan adalah penduduk yang sangat kuat, tidak mudah dilumpuhkan, bahkan oleh penyakit sekalipun. Ketahanan fisik mereka: two thumbs up! Karena fisik bertahan karena mental, tentu dapat dikatakan ketahanan dan kekuatan mental bangsa Afghanistan adalah: all thumbs up!
Mungkin bangsa Afghanistan adalah salah satu ras terbaik. Tapi kita tidak membicarakan ras, melainkan anestesi.
Anestesi adalah seperti opium. Dilarang tapi diselamatkan, walau bukan untuk masyarakat Afghanistan itu sendiri. Dokter Afghanistan mengabulkan anestesi sampai mati, tapi bukan untuk rakyatnya, melainkan untuk orang asing.
So, apakah anda termasuk pendukung anestesi sampai mati? Sebagai dokter, manusia, wartawan reuters, atau apa?
Sincerely,
Just my humble thought.
-from the person who’s got your paper, Great thought!-
psi-net, awal desember 2000
klik,klik.
Mail has been sent!
Dan aku keheranan di depan layar. Kenapa aku bisa setertarik ini untuk ngisengin orang? Niat banget! Madrim yang selalu gak pedulian sama orang lain! Maen ya maen aja. Not something to be involved busily. Apalagi kalo ga kenal. Apa yang menarik dari manusia satu itu yang sama sekali baru ketemu satu kali selama gak sampe sejam.
Cakep? Ga tau.
Aku coba mengingat detilnya. Tinggi (aku ga sampe sebahunya) –pasti dia sekitar enam kaki lebih-, kulitnya gosong merah terbakar gitu, mirip temen-temen yang suka ngebasket, rambutnya cepak gondrong kayak David Beckham di iklan Brylcreem sebelum nikah. Sisanya aku lupa. Yang paling kuinget ya sorot matanya yang tajam. Ia pasti orang yang keras, hardworker, gak bisa dimainin orang, tapi lembut. Terbukti dengan senyumnya waktu itu. Dan sinar matanya yang melunak waktu berbincang. Sorot mata yang membuat dua biji mataku tak bisa berpaling. Oh, Tuhan, apa yang merasuki diriku? Oke, dia menarik, punya bahan perbincangan menarik, punya pikiran menarik, sorot mata menarik, well that’s it! Cuma itu! Siapapun bisa kayak gitu. Oke, aku cuma tertarik sebagai teman berbincang. Itu saja! Damn! I gotta deny.
Setelah ini, ya udah. Gue gak peduli ama yang namanya Lucas! Cuma temen berbincang aja, kayak temen iseng di MIRC.
Gak peduli die mau ngebales ato nggak!
Aku membentak diri.
awal april 2002
“Drim, ke danau yuk! Temenin gue kontemplasi jam 12 malem nanti!”
Age. Dia ulang taun.
“Dasar! Gile lu! Kagak bisa lebih malem lagi? Apa imbalan buat gue? Mau rok gue sobek lagi manjat tembok?”
“Ya, lo kan biasa pulang pagi. Ayo dong, woi! Ntar gue bayarin ngenet paket di Pastel deh!”
“Oke! Jemput gue!”
Di danau, 00:01:09..
“Met ultah, Ge.”
Age diem. Ia meniup satu lilin. Yang satu lagi dibiarin nyala di atas bangku semen. Matanya menerawang ke danau. Melamunkan hidup.
“Gue selalu ke sini tiap ultah. Kontemplasi.”
Oh..
Age ngelamun lagi. Bujug! Gue dianggurin nih! Ikutan ngelamun? Pikirku sambil nendang-nendang angin. Bosen! Kuganggu aja lamunannya.
“Kado yang paling spesial buat lo apa, Ge?”
Mm..
Tali sepatu! Kenapa? Lalu ia bilang bahwa ia mendapat tali sepatu itu waktu kelas 2 SMU. Kenapa bisa spesial, karena yang ngadoin adalah cewek yang sampai sekarang belum mampu disingkirkan relung-relung jiwa Age. Cuma satu cewek di dunia ini buat Age. Yang laen.. emang ada ya cewek lain? Sial! Gue apaan dong! Lo kan anak kecil, Drim: bukan cewek. Damn you!
Kata Age, waktu SMU dia ikut paskibra. Pada suatu hari, tepat sehari sebelum tanggal ini, tali sepatu satu-satunya untuk paskibra, putus. Padahal besoknya mau dipake untuk lomba paskibra sejakarta.
Lalu tanpa disangka-sangka, esoknya, pas Hari-H, dia dateng, di depan sekolah dia ngasih sebuah bungkungan lucu. Ternyata isinya tali sepatu. Langsung aja kuganti rafia di sepatu jadi tali. Waktu itu gue bahagiaa banget Drim. Bayangin, dari cewek yang gue sayang, walaupun dia cuma nganggep gue sobat. Die merhatiin gue disaat kritis. Dan tali sepatu itu kupajang di kamar dengan aman sampe sekarang.
“Hihi, jadi lo jatuh cinta gara-gara tali sepatu? Keren amat! Haha, ancur lo man!”
“Terus, menang?”
Hehe.. nggak.
“Terus lo sendiri gimana? Yang paling spesial apa?”
Aku terdiam sebentar. Ada dua. Tapi hanya kusebut satu saja. “Buku dongeng. Biasa banget ya?” Lebih biasa tali sepatu, kata Age. Aku mulai cerita.
Buku itu spesial karena, ya sama, dikasih orang yang spesial banget buat gue. Nggak, bukan mantan gue. Ya kayak lo deh Ge, dia nganggep sobat doang. Buku itu dibuat sendiri. Cerita buatan dia, cover, setting, jilid, semuanya independen. Katanya buku itu sengaja dibuat buat aku. Gak disebarluasin. Cuma ada dua, di aku dan di komputernya. Ceritanya tentang aku, katanya. Cuma dijadiin cerita dongeng gaya andersen gitu.Tentang gadis kecil (kenapa sih gue selalu diidentikkan dengan anak kecil?) yang berputar-putar mengelilingi dunia mencari jati diri gitu. Ga setebel Para Priyayi sih, cuma lumayan. Walau cuma limapuluhdua halaman. Malah buku Pengantar Hukum Internasionalnya Mochtar Kusumaatmadja-buku tertipis yang jadi pedoman kuliah tapi sakti mandraguna- aja masih kalah tebel. Iya, aku juga bahagiaaaa banget waktu itu. Ceritanya bagus banget deh!
Walau itu bukan kado istimewa satu-satunya, batinku. Ada satu lagi yang super spesial, yang cuma dua orang yang tau. Cuma aku, ama .. dia.
Lalu kami bercerita tentang manusia yang kami sayang. Kami bicara tentang rasa jatuh cinta.
“Ih, lo ABG banget sih Drim!” komentar Age mendengar ceritaku.
“Yee, yang namanya falling itu ya pasti balik lagi kayak ABG! Coba tanya kakek-kakek kalo lagi jatuh cinta. Pasti balik lagi kayak ABG. Wajar lagi Ge! Kalo orang jadi speechless terpaku di depan orang yang dia faliing-in itu. Salting, blushing, malu tuk sekedar ngobrol, biasa lah!”
Ckckck, ABG lo!
Kutunggu dirimu, selalu kutunggu, walaupun kutahu kau jauh. Kutahu kau jauh.
Age nyanyi lagunya Cokelat. Duh! Sakit telinga gue! Daripada lo yang nyanyi Drim! Bisa tumbang nih pohon-pohon disini! Bete lo Ge!
Kami menatap danau lagi. Merenung, ngelamun. Senyum, kangen, sang lentera..
“Ge, cabut yok!”
“Ntar dulu, lilinnya belum abis!”
“Aduh, mau pipis nih!”
“Geblek! Ya udah, ke Pastel langsung ya!”
d e w I g a n g g a
awal desember 2000
To : dewigangga@hotmail.com
Subject: Re: anestesi afghanistan
Dear miss dewi gangga,
I suggest you as miss, kalau bukan seorang penyair feminin.
Opium dari afghanistan ditanam, dipupuk, dicabuti, dan diolah di negara itu sendiri. Tinggal dikirimkan begitu saja. Yang mengkonsumsi memang bukan mereka, tetapi tujuannya adalah orang barat yang menghancurkan negara mereka. Salah? Orang barat itu sendiri yang memesan. Kenapa mesti salah? Masyarakat afghanistan telah membantu juga pemerataan demografi dunia.
Sama dengan anestesi, mematikan orang dengan penuh kesadaran. Benteng HAM pun tak lagi mampu menghentikan anestesi sampai mati, bahkan untuk bunuh diri paling tradisional seperti gantung diri menggunakan sabuk pun tak bisa. Sebab lawan HAM adalah HAM juga. Adalah Hak Asasi Manusia untuk memilih caranya hidup, asal tidak mengganggu kehidupan orang lain. Begiru persepsi para penganut HAM.
Miss gangga, saya bukan orang yang menyetujui anestesi sampai mati. Saya seorang dokter. Sudah lebih dari cukup pengalaman seluruh indera saya untuk mengatakan: I believe in miracle. Saya mempercayai adanya keajaiban. Bagaimana jantung manusia mempunyai empat kantor, satu pasang untuk darah berwarna hitam, yang satu pasang lain merah segar karena penuh oksigen. Bagaimana organ tubuh manusia, mesin yang super rumit itu bisa bekerjasama perfectly smooth.
Tidak, anestesi adalah hanya untuk membius sementara, bukan membunuh!
Karena alasan apa?
Life itself is miracle. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada detik berikutnya.
Duit yang habis-habisan sampai tujuh turunan?
Itu cuma duit. Harta bisa dicari. Tidak dengan nyawa.
Sebagai dokter atau wartawan tanya anda?
Sebagai manusia. Sebagai bagian dari kehidupan.
Lagipula saya hanya salah satu mantan dokter. Salah satu dokter yang ditarik ijin prakteknya, seperti dalam tulisan anda sebelum ini.
Nona dewi gangga, semenarik itukah makalah kami sehingga anda mengambilnya dan tidak mengembalikannya? Apakah berguna buat penelitian anda di UNESCO? Jelas Monsieur Phillippe lebih membutuhkan bagian budayanya. Itu kalau anda memang hanya mewawancarai Monsieur Phillippe.
Apakah anda masih berniat menyimpannya? Sayang yang anda ambil adalah edisi aslinya yang cuma satu-satunya. Kalau saya punya copy-nya, dengan senang hati akan saya berikan pada anda. Sayang laptop yang menyimpan datanya telah hilang ditelan bumi timur tengah.
Jadi, berniat mengembalikannya nona dewi gangga? Or, should I call, Miss Madrim?
Faithfully yours,
-lucas-
nb. Anda ini rupanya maling intelek ya? Karena anda lebih tertarik pada kertas daripada penindih kertasnya. Hehe..
Madrim…
Siapa yang bisa melupakan sosok mungil bermata besar itu? You’re an eyecatching lady, do you realize it? Gadis mungil yang selalu memakai tangan, mengubah mimik muka dalam seperempat detik, menggerakkan leher 45 derajat ke kanan, ke kiri, mengaktifkan barisan bulu tebal di atas matanya, mengernyit, tertawa, kadang-kadang menutup muka dengan kedua tangannya, semua hanya untuk menemani bibir mungilnya berkata-kata. Bahkan a simple word kayak ‘iya’ pun bisa membuat semua bergerak. Dan uniknya, walaupun semua bekerja kemana-mana, dua hal yang gak berpindah: tatapannya yang tepat menghunjam mataku-dia terus ngeliat ke atas-, dan senyumnya yang ga ilang-ilang walaupun lagi ngomong.
Hmm…
Aku fotografer belasan taun. Gak perlu waktu lama untuk tahu menariknya seseorang.
Pria itu menarik dan terpaku pada selembar foto diantara tumpukan lembar yang tersebar tak beraturan di sekelilingnya. Tersenyum. Gambar hidup close-up seorang gadis bertutup kepala hitam, tersenyum lebar dengan mata yang membelalak, mimik yang tertarik banget pada sesuatu di depannya. Angle dan timing yang tepat, profesional! Saat ini ia duduk bersila diatas karpet apartemennya yang minimalis. Tinggal sendiri. Memang selalu sendiri. Apartemen pinjeman dari bos reutersnya yang ada di London. Cuma untuk tinggal di Indonesia, sampai tugas selesai. Ia menolak tinggal di Singapore, menolak tawaran menggantikan Samuel Li menjadi kepala cabang reuters South and Southeast Asia, rindu pada kampung halaman yang sekacau negara-negara Amerika Latin. Tertarik kinerjanya di Timur tengah menjadi leader team penelitian kesehatan tahun lalu, sebenarnya tim reuters pusat berniat merekrutnya ke jabatan lebih tinggi dari sekedar reporter (statusnya di proyek timur tengah itu cuma reporter tamu, malah!). Yang berarti more hardwork. More politics. Padahal, he hates politics. Lebih menarik menjadi orang bawah yang mengubah dunia daripada orang atas yang memanipulasi rakyat. Berhubungan langsung dengan manusia, itu yang dia suka dari profesi dokter dan fotografer. Juga wartawan.
Tapi ia bukan dokter lagi. Setelah empat tahun FKUI, dua tahun Harvard Medicine sah jadi dokter, satu setengah tahun berikutnya lagi spesialis anestesi dan bedah syaraf, dua puluh dua bulan kemudian ijinnya ditarik dewan dokter Harvard. Dengan alasan absurd: menolak anestesi (sewaktu bertugas di timur tengah). Ga adil memang. Tapi, lain rumput lain belalang. Lain tempat lain budaya. Heran. Udah sejauh itu jarak Boston ama Kandhahar, masih aja tau. Entah apa yang bisa membuat dokter-dokter Harvard yang dulu mengagumi –secara diam-diam- keras kepala, (manusia menyebalkan yang selalu melawan, dan selalu benar) kecerdasan, dan kesigapan kerjanya kemudian malah berbalik mematikan profesi dokternya. Mungkin mereka mendapat info bahwa kakeknya bernama Goldstein? Entahlah. Mungkin hanya korban konspirasi ga jelas orang-orang atas. Atau mungkin cuma karena alasan kecil seperti memilih profesi. Jadi dokter, atau wartawan! Atau mungkin memang kasus anestesi? Hanya karena menolak memberi obat bius dosis super tinggi pada seorang Kurdi yang koma dua minggu dan akhirnya –betapa ajaibnya dan hebatnya Pencipta kehidupan, alleluia! (subhanallah, kata orang-orang timur tengah itu)- memang hidup kembali dan berangsur pulih. Padahal justru tubuhnya berangsur pulih setelah tak disentuh dunia medis, dibiarin kayak orang mati suri. Dianggurin gitu aja dan malah sembuh! Puji Tuhan! Memang benar kata Romo Handoko, dosen kedokteran kehakiman tua yang sangat arif bijaksana dan penyabar itu. “Kadang alam punya caranya sendiri untuk menyembuhkan mahluknya. Kamu ga akan pernah tahu. Percayakanlah pada alam, bila kamu memang sudah tak bisa menemukan jalan lain lagi. Bukan salahmu bila sesosok mahluk mati, bila kamu sudah mengusahakan semampunya. Bila Tuhan berkehendak, tak ada lagi yang bisa kamu lakukan.” (Romo Handoko lebih cocok jadi messiah daripada dokter-begitu komentar jemaatnya tiap khotbah sabtu malam)
Menjadi dokter adalah impian Lukas sejak kecil. Sejak ibundanya yang rapuh, lembut, dan penuh kasih meninggal karena kanker rahim. Di Boromeus. Saat itu usianya beranjak duabelas tahun, baru ngerasain seragam putih biru pertama kalinya. Ia anak tunggal. Ibundanya terlalu ringkih untuk membesarkan embrio di tubuhnya. Bahkan sel telurnya pun tak mampu bertahan diserbu bahkan hanya dua pemenang sperma saja. Selalu keguguran. Paling lama empat bulan.
Tujuh bulan kemudian ikut ayahnya ditugaskan ke Moskwa, lalu New York, rindu Indonesia, Lukas memutuskan menghabiskan masa SMA di Bandung, jalan Belitung delapan. Ia kos di jalan Sabang dan berkreatif ngumpulin duit: mencatat rumus-rumus mudah mengerti fisika dengan judul Pola Pikir mister Duta , laku keras; reparasi komputer dan kongsian ama anak-anak ITB dan UNPAD yang dikenalnya dari tempat ngegame di Cilaki, bikin rental komputer; ngojek di Cilaki belakang SD Ciujung; pernah juga jadi tukang bangunan. Satu hobinya yang ga ilang sejak di Rusia: fotografi. Tentu ia cari duit dari fotografi juga! Malahan ia menjadi pendiri klub fotografi di sekolah yang study minded itu. Dan uang kiriman ayahnya, benar-benar tak tersentuh sedikitpun.
Sejak ibunya meninggal, ayahnya makin sibuk kerja. Saling cuek. Gajelas kerja apaan sang bokap. Yang jelas dia peneliti bioteknologi. Katanya sih dosen dimana-mana.
Keluarga? Lukas ga pernah kenal. Ibundanya belum sempat menjelaskan semuanya. Ia tak tahu kalau ibunya gadis sebatang kara yang ditinggal mati orangtuanya gara-gara suatu pembunuhan masal tersembunyi marga Goldstein di Siberia. Entah oleh kumpulan apa. Dan karena apa.
Ayahnya, hanya manusia jawa biasa yang belajar S2 bioteknologi di Rusia.
Liliana, ibunda Lukas. Menjadi tukang sapu restoran kecil di Kiev. Lalu terjadilah pertemuan itu. Saling tertarik, saling memperhatikan, melamar-diterima, menikahlah mereka.
Dan kisah jawa klasik terjadi. Ayahanda Lukas seorang putra keluarga ningrat Notodipuro yang selalu menjaga kemurnian turunan. -Kayak serial Harry Potter aja, ada darah kotor, darah murni!-(kakek Lucas adalah turunan ketujuh Panembahan Senopati) Secantik apapun, Liliana adalah gelandangan ga jelas titik
Permohonan nikah mereka tidak di acc. Senopati hengkang dari keluarga Notodipuronya.
“ Cah edan! Kuwalat kowe!”
Sejak itu Notodipuro ia coret dari semua identitasnya.
Dan Lukas tak pernah diberitahu.
Aku ingin mendengar suaranya!
Pria itu beranjak dari karpet aquamarine dan menyomot Siemens S35 di dekat laptop. Kemudian mencari lagu di MP3, lalu eroica Beethoven pun mengalun. Ia berjalan bolak-balik sambil memegang HP. Mengambil foto, tersenyum-senyum, berjalan bolak-balik lagi, melihat HP, sampai simfoni nomer 3 di Eflat op.55 bagian satu allegro con brio abis. 15 menit! Berganti lagu Tipe-X. (Kalau Madrim yang mendengar lagu ini, dia ngapain ya? Apa bakal dengan cueknya berpogo? Apa dia ga suka musik seperti ini? Kayaknya ga mungkin.)
Satu lagu habis, berganti lagu lain. Lukas menekan tombol. Niiiit…..niiiiit….niiiit, tiga kali deringan. Ah, akhirnya!
“Ya?” suara sopran kayak anak kecil itu menerima.
“Halo, dewi gangga?”
“mm.. (ia mengulum senyum!) halo juga lukas et reuters dot kom, atau.. dokter leica?”
“Apa kabar, Madrim?” duh, basa-basi banget sih!
“Hihi, baik. Kamu?” (Wah, ia mulai ber aku-kamu. Padahal katanya anak Jakarta hanya menggunakan aku-kamu pada orang yang spesial! Walaupun hasil investigasiku nyatet dia anak Bandung juga bahkan alumni sma yang sama-ternyata aku kenal kakaknya yang satu tahun dibawahku-, tetep aja ampir empat taun ini dia jadi anak Jakarta)
“Baik juga. Dah makan?”
Yang ditanya ketawa. Pertanyaan-pertanyaan lucu! Katanya. Dan kami tertawa canggung bareng.
Tiba-tiba Madrim terdiam, telinganya yang peka mendengar sesuatu. “Eh, lagu apa tuh? Kok Lucu kayanya?”
“Oh, Duke Ellington, judulnya It don’t Mean a thing if it ain’t got that swing.” Buru-buru kuset ulang maen lima kali, cuma satu lagu ini saja. “suka? Kamu suka jazz?”
“Wah, kalo bagus ya suka. Waah, lagunya asik banget ya! Ulang lagi dong..” (sudah..)
“Lukas, kamu tahu, saat ini aku lagi nulis reply-an buat email kamu. Ih, kebetulan banget ya! “
“Kamu ga kaget aku tau nama kamu?”
Banget! Katanya. Gila aja,aku pikir udah misterius abis gitu. Eh kok ketauan juga. Aduh, aku panik juga, tau! Emang gimana taunya?
Lalu kubilang kalo aku nangkep sosok dia sewaktu di perpustakaan UNESCO. Dan aku bertanya sama satpam ngeliat daftar pengunjung, well, kebetulan kerjaanku mengharuskan aku kenal beberapa orang disana. Kok inget nomer hp kata kamu? Hm.. mana mungkin lupa. Yang ini ga kubilang. Kujawab aja becanda, namanya juga wartawan, mbak! Dia tertawa lagi. Manis, renyah banget dering tawanya, seperti gerincing lonceng-lonceng kecil di sepeda seorang anak kecil di jalanan kecil Moskwa dulu. Membuatku ingin tersenyum juga.
“Lukas, ternyata itu sebabnya kamu gak nyodorin tangan waktu kenalan.”
“Kenapa?” aku minta penjelasan, walau aku dah ngerti arahnya.
“Ya, karena kamu kenal masyarakat Timur Tengah yang strict itu, kamu jadi ga nyodorin tangan untuk berjabat tangan sewaktu kenalan. Aku sempet kaget, lho! Seorang bernama Lukas dengan sengaja tidak menyodorkan tangan untuk berkenalan! Waw! Kupikir, mungkin karena sibuk megang Leica, walau ga mungkin karena cukup satu tangan aja. Ternyata..”
“Oh, itu. Hehe.. perhatian juga kamu!”
“Nggak, kayaknya kamu deh yang perhatian. Hm.. makasih ya. Jarang lho ada orang kenalan nerima aku cuma sungkem ala Sunda aja. Mereka suka tersinggung gitu. Tapi, gara-gara bajuku gini, mereka jadi ngerti sendiri akhirnya.”
“Kenyamanan anda adalah kebahagiaan kami”
ih, kayak iklan pesawat aja!
Lalu kami mulai berbincang tak kenal waktu. Duke Ellington yang kupasang lima kali ngulang udah berganti: Nat King Cole dua lagu, tipe-X 3 lagu, chopin nomer 2, bach, r.kelly, entah apa lagi. Sampai ke duke Ellington lagi.
Entah apa saja yang kami bincangkan, rasanya ga ada habisnya. Bahwa ia terlihat seperti anak kecil-lah (kirain anak SMP! Jawabnya: huh! menyebalkan, semua orang bilang gitu. Aku dah dewasa tau! Taun depan 21 taun!). Bahwa Lukas terlihat menyeramkan, bikin keder para preman perempatan Lebak Bulus. Ia menebak umurku dan benar pada tebakan kedua. Tentang namanya, namaku, reuters, kampusnya, unesco, bach, tipe-x, dan entah apa lagi. Sampai lupa alasan bikinan yang udah kusiapin lama. Akhirnya Madrim yang mengingatkan.
“Eh, penting banget ya makalahnya?”
“Oh, iya. (aku bohong. Aku masih punya kopinya. Mana mungkin ada peneliti atau wartawan yang seceroboh itu ga buat kopinya?) Banget!”
“Masak sih ga punya kopinya lagi! Kok ada wartawan seceroboh itu!” (ia membaca pikiranku!)
“Yah, malang tak dapat ditolak. Mujur tak dapat diraih. Apa boleh buat kalau diluar jangkauan.”
“Huh! Ceroboh! Bodoh! Katanya aja dokter, fotografer, wartawan reuters, eh cerobohnya minta ampun. Payah! Udah, keluar aja dari sono, Malu! Hehe…”
“iya, deh” aku nyerah.
“Kapan, dimana mesti kubalikin?” akhirnya…
“Secepatnya! Gimana kalo besok sore, jam empat?” (besok hari jum’at, weekend buat kebanyakan orang).
“Mm.. oke. Aku tentuin lokasinya ya! Di CCF Salemba, perpustakaannya. Aku sekalian ngembaliin buku. Kumaha? Eh, gimana?” Padahal aku bisa langsung menjemputnya, mengetuk kamar kosnya. Ia pasti kaget.
“Mangga atuh.” He? Dia kaget. Kuajak berbahasa Sunda, dia belepotan. “Ih, lemes banget sundanya!”Ckck, ternyata kamu cuma tampang doang yang sunda! Hehe.. Jawa Sunda, tauk!
Tapi setelah itu ikut aku ya sampe malem, kita ngobrol. Wah, ngajak nge-date nih? Tanyanya. Iya, sebagai hukuman maling makalah! Waaah.. ia ketawa lagi.
Baiklah, pak Lukas, Your wish is my command.
chaman, perbatasan afghanistan-pakistan, pertengahan 1999
Ia diserahi tanggung jawab jadi ketua tim proyek. WHO perlu data untuk bahan konvensi-prakarsa orang-orang Headquarters di New York. Lalu merekrut dokter-dokter dari lima perguruan terkemuka US, Swiss dan Inggris. Banyak tim yang terbentuk, dikirim ke Rusia, Timur tengah (ini tim Lukas), Asia Timur, dan Eropa Latin. Anggota tim adalah dokter, wartawan, aktivis LSM international, orang WHO papan atas yang punya track record mengagumkan. Big Money! Big risk!
Karena medan yang berat, semua dilatih seperti astronot mau ngangkasa. Treadmill, puasa, push-up dan sit-up 200 kali sehari, bela diri, menembak, dan bahasa Urdu. Yang ga kuat, mundur! Lebih mirip rekrutmen agen dinas rahasia daripada pasukan medis.
WHO butuh dokter. Dokter perlu orang lapangan. Terjadilah tripartit WHO- Harvard-Reuters.
Timur tengah! Sejak dulu Lukas selalu mendambakan berkelana di daerah penuh konflik menarik itu. Menurutnya, bangsa Timur tengah adalah keagungan, misterius, kuat, ada suatu kekuatan yang berasal dari kepasrahan mereka, kekeraskepalaan mereka, penghambaan mereka. Yang membuat tak terkalahkan. Suatu kekaguman yang tertumpuk dari rasa benci sejak SD.
I Have to got the job!
Dan disinilah ia. Di perbatasan dua negara timur tengah. Menjalankan mimpinya. Dari proyek inilah kemudian ia bersahabat dengan Chad, wartawan reuters turunan Tibet. Jenis manusia berhati emas, baik, sangat baik hati. Sampai banyak yang bertanya, bagaimana manusia seperti Chad bisa menjadi wartawan reuters (cabang Arab saudi), dan lebih parah dimasukkan dalam tim sesangar ini. Tapi ternyata Chad orang paling kuat yang pernah ia temui: memasuki daerah konflik, mengangkut semua korban, tak peduli tubuhnya jadi penuh luka, bercanda dengan anak-anak kecil setempat, tidak memberi umpatan balik walau diludahi pada masyarakat setempat, penuh sabar dan senyum. Sepertinya Chad tidak pernah kenal kata “hatred”. Manusia yang akhirnya selalu menjadi manusia paling diterima dan dihormati oleh warga setempat. Manusia hebat! Bahkan kematiannya pun untuk orang lain: menjatuhkan diri diatas granat yang dilempar ke tengah kota siang bolong. Para ibu yang mendekam di rumah hanya bisa mendengar, bersyukur, dan menunggu anak-anaknya pulang-para wanita tak boleh keluar-, puluhan anak-anak yang sedang belajar selamat, dan kehilangan teman sipit favorit yang menyenangkan. Dunia kehilangan permata, aku kehilangan sahabat.
Chad vegetarian, ia Budha. Kebiasaan yang berat di daerah timur tengah. Chad tidak mengeluh, walau hanya makan gandum.
Ia memang lebih cocok menjadi petugas Palang Merah daripada wartawan.
Sejak itu Lukas jadi terpana pada orang baik. Sebelumnya ia selalu berpikir semua manusia itu munafik, ular kepala dua, percaya orang berarti bunuh diri. Hidup selalu waspada sama orang di belakang, yang siap menusuk kapan saja.
Chad-lah orang pertama yang mengembalikan rasa percaya pada orang lain setelah kematian ibundanya.
Waktu bertugasnya tinggal beberapa minggu lagi. Sudah hampir sepuluh kota Timur tengah mereka kunjungi. Kerjaan hampir selesai. Di lehernya terbelit kalung giok –dari Chad- dan Leica yang tak pernah pisah dari lehernya. Penampilannya sudah tak ada bedanya dengan para pejuang berbahasa Urdu. Anggota tim menipis, dari sepuluh orang tersisa setengahnya- mati dengan berbagai cara sepanjang perjalanan dan pengumpulan data-. Satu dokter-dia-, satu wartawan AP, dua orang WHO dan satu orang Kurdi.
Saat itulah ia melakukan perbuatan baik yang pertama-karena hati-.
Di daerah perbatasan seperti Chaman ini, adalah salah satu tempat yang bisa sedikit ambil napas lega. Memang lucu, karena hidup orang lebih aman dibawah plototan senjata pasukan perbatasan.
Banyak didirikan kamp pengungsi. Dan justru dengan menjamurnya kamp pengungsi, gerakan bawah tanah menjadi subur. Tanpa bisa dicounter, pejuang-pejuang terbentuk.
Ada satu orang yang ketahuan, pura-pura luka, hanya untuk menjadi pembawa pesan. Ia pun ditembak pasukan perbatasan. Lukas mengangkutnya-ia punya status yang membuatnya tak bisa disentuh-, mengobatinya, berusaha menyembuhkannya. Lalu Lukas mendapat telegram: anestesi sampai mati, jangan buang obat. Dari dewan Harvard, dengan nomer Reuters Arab. Langsung ia jadikan tisu toilet.
Orang Kurdi bernama Hamid yang dirawat itu ternyata berangsur sembuh, tanpa perlu diobati. Padahal ia sudah sekarat. Lalu dengan kenekatannya, diselundupkan Hamid ke Pakistan. Terserah siapapun Hamid.
Lalu proyek dihentikan tiba-tiba. Padahal menurut kontrak masih ada dua bulan lagi.
Sesampainya kembali di Harvard, Lukas menerima surat penarikan ijin dokter. Ia tak peduli, (they’re suck!) sejuta cara untuk membantu kesembuhan orang.
Lalu ia pun menjadi wartawan.
januari 2001, taman suropati menteng
Madrim, aku bermimpi. Tentang seorang wanita agung, yang menyerahkan tujuh jabang bayinya untuk jiwa para begawan salah jalan yang ingin pulang ke kahyangan. Caranya memang gawat, semua ditenggelamkan ke sungai yang kemudian jadi sungai suci di India-aku pernah kesana-. Lalu jabang bayi ketujuh tak jadi ditenggelamkan, karena sang ayah memintanya untuk menjadi penerus tahtanya. Si bayi pun hidup dan kelak menjadi tonggak seribu bangsa. Namun sang ayah harus membayar mahal, wanita agung itu ternyata seorang dewi kahyangan yang menjalani hukuman. Digariskan hidupnya untuk bertemu seorang raja, bertemu para begawan yang terbujuk rayu istri mereka untuk memerah susu sapi suci, dan bisa kembali ke kahyangan bilakan sang raja bertanya mengenai asal-usulnya. Lalu sang dewi pun kembali ke kahyangan, meninggalkan seorang putera agung, di depan sungai suci. Entah apa peranku dalam mimpi itu, tapi di akhir mimpi aku selalu melihat sosok yang semakin jelas, muncul dari tengah sungai: Kamu.
Dan madrim, mimpi ini begitu seringnya datang tanpa alasan yang jelas, sejak kita bertemu.
Entah apa artinya. Mungkin segala yang melekat padamu begitu kuatnya sampai menyebar virus yang lebih kuat dari ebola dan langsung bercokol kuat di otak, mata yang melihat kamu bicara, telinga yang mendengar suara manjamu menerjemahkan dunia, mimpi akan kedamaian dunia yang tak habis-habisnya, senyumnya, semangatnya, amarahnya, bahkan sampai berantem pun ia masih menarik.. Berada di dekatnya, aku baru sadar dunia memang tak pernah berhenti berputar, walau bumi berhenti hanya untuk kita berdua. Setiap bertemu, ada saja pelajaran baru tentang dunia. Karena ia dari dunia peri dan aku dari tanah bumi yang penuh cacing. Madrim memang selalu bercerita tentang dunia yang ia terjemahkan dari sudut pandangnya yang penuh mimpi, percaya akan keajaiban, pada ukuran yang tidak terukur, menganggap teori eksak hanyalah salah satu kemungkinan jawaban, menerobos segala aturan demi apa yang dia percaya. Semakin banyak belajar tentang hal yang pasti, semakin besar kemampuan bermimpinya. Madrim, kupikir kamu cuma bakal jadi salah satu cewek yang kulewati begitu saja setelah kencan. Ternyata, aku ketagihan. Kamu benar-benar candu ! Padahal aku tak pernah menyentuhnya.
“Lukas, kamu tau, mimpi yang pernah kamu ceritain itu, itu kan kisah dewi gangga. Sang ayah adalah raja bijak dari Hastina yang belum punya permaisuri. Lalu, si putra agung yang gajadi ditenggelamin, ya Bisma. Yang kemudian mati di tangan seorang wanita ksatria.” Kok kamu bisa mimpiin kisah wayang itu sih? Abis ngeliput apa? Tau dari mana cerita itu?
Madrim, ayahku seorang jawa. Sewaktu aku kecil mama sering berdongeng tentang banyak kisah. Semuanya indah. Namun bagi jiwaku yang masih kecil, tak ada yang semenarik dongeng ayahku yang sangat sedikit itu. Mama berdongeng hampir setiap malam, dongeng nina bobo. Ayahku sangat jago mendongeng, setiap kali ia berdongeng segala cerita yang meluncuri lidahnya terasa nyata, kisah-kisah itu seperti menarik kita ke dalam dunia lain. Kalau sudah berdongeng, semua orang bisa terbius. Tapi ayah seperti berusaha menghilangkan kecintaannya pada cerita Jawa. Kalau berbincang mengenai budaya Jawa, matanya sayu. Padahal sering aku mendapatinya mengulum lagu jawa yang mendayu. Ia bermacapat seperti bernapas. Dan ia seperti berusaha mengganti udara yang ia perlukan untuk bernapas. Seringkali, pada malam hari ketika semua orang sudah tidur hanya tokek dan burung hantu yang meramaikan dunia, hening malam digusur dan disusupi suara lain, lengkingan indah yang membentuk suatu tatanan lagu. Begitu mendayu, membius jiwa. Baru kemudian aku tahu ketika bersembunyi di gudang bersama kawan bermain sembunyi, bahwa ayahku bermain rebab. Mama lalu mencoba menyanyikan macapat yang ia tau untukku, ketika ayah sedang pergi. Lagu yang dinyanyikan ayah untuk mama ketika berkenalan, katanya. “Ono kidung rumekso ing wengi…” Aneh bila mama yang bernyanyi. Lalu aku selalu bersegera memintanya mendengungkan Kalinka, musik dari masa kecil mama. Lalu mama meninggal, dan ayah tak pernah lagi berdongeng.
Semua kuceritakan pada Madrim. Masa lalu yang hampir kukubur habis. Dan aku memuntahkan semua begitu saja pada seorang gadis yang baru kukenal sebulan ini. Begitu percaya aku padanya.
Lalu kehadiranmu mengingatkan semua dongeng itu, seolah password suatu folder yang begitu lamanya disimpan namun tak bisa hilang, lalu folder itu kemudian muncul membludakkan isinya tanpa kendali, mengkontaminasi seluruh jaringan yang ada.
“oh jadi kamu ini indo, kok ga keliatan! Gosong gini! Hahaha…” aduh gadis kecil satu ini, sulit tau kapan dia serius kapan nggak. Malah becanda orang lagi serius gini! Baru saja aku memujinya dalam hati!
Tapi mimik nakalnya langsung melembut. Ia tersenyum dan menatapku. Dan pertama kalinya ia menyentuh wajahku. “Maaf, aku cuma gatau gimana bilang makasih, I’m flattered”
Ah… senangnya! Seketika tubuh ini seperti dibanjiri air sejuk di tengah gurun. Oh, mama, aku lemah di depan gadis kecil ini. Amarahku tersedot tokek. Aku hanya bisa tersenyum, walau disengat lebah. Betapa sebuah sentuhan kecil bisa menjadi puncak candu, yang menghentikan bumi berputar. Pengemis yang lalu lalang pun terlihat bahagia, anak-anak jalanan yang gosong dan ingusan, berubah menjadi ladang bunga, sosok polisi yang menjaga kedutaan sekitar berganti wujud menjadi gerbang pelangi yang melindungi kami, di tengah taman hijau di sore hari ini. Tempat aku hang-out dengan kawan-kawan semasa kuliah. Tidak tau lagi sudah berapa jam kita di taman ini, dan sudah jam berapa sekarang. Apalah artinya waktu, katamu. Toh yang membuat lama tidaknya satu detik ya kita sendiri. Apalah artinya berapa banyak kita sudah bertemu, katamu kemudian suatu saat. Toh suatu perkenalan jiwa tak bisa dihitung oleh teori matematika.
Lalu kita pun berbincang lagi. Sampai adzan memanggilmu.
“Lukas, anter aku ke sundakelapa di deket sini ya. Magrib nih.” Oke.
Dan tanpa sadar, aku menggamit tangan mungilnya yang penuh baret luka khas anak kos, menyusuri taman, menyeberangi Bappenas, hingga Sunda Kelapa. (Lukas, seharusnya kita ga pegangan. Ini dosa, walaupun kecil, tetap dosa.) (Madrim, maaf aku menyentuh tanganmu, tapi aku ga mau mikir apa-apa sekarang, aku hanya ingin menggamit tanganmu) kami berjalan dalam diam.
“Tunggu ya Lukas, sebentar aja. Aku sholat dulu.” Ia seperti meminta izin padaku, matanya manyelidik mencari butir-butir kebosanan di mukaku. Nampaknya ia khawatir aku tak akan merasa nyaman menunggunya di lokasi peribadatan ini. Tenanglah Madrim, tempat ini salah satu tempat mainku semasa kuliah dulu. Tempat aku dan teman-teman LBH juga teman-teman kampus berdiskusi tiap malam mengenai negara, menyusun rencana pergerakan kampus, menyusun demonstrasi kampus, sampai menyusun agenda pendidikan gratis untuk anak jalanan. Lumayan, mengobati kejenuhan mata kuliah yang begitu ketat, ujian setiap akhir pekan. Sebab istirahat adalah berganti kegiatan.
“iya, aku tunggu disini.”
Menunggu tak pernah menjadi kegiatan yang menyenangkan. Kecuali dalam kasus khusus seperti saat ini, menunggui orang tertentu. Terlebih, suasana di tempat peribadatan ini memang mendukung untuk disukai dan menyamankan siapa saja yang menduduki tanahnya. Suasana relijius dan damai di tengah hiruk pikuk kota yang penuh bangsat ini. Pengemis yang mendiami selasar mesjid ini pun seperti tidak begitu berniat menjalani operasinya, berada dibawah keteduhan atap selasar saja sudah cukup melenakan. Cukup untuk melupakan cambukan si bos pengemis yang akan menuntut kurangnya setoran untuk hari ini.
“Bang, kasian bang, buat makan bang” ah, aku tersentak dari lamunan. Bocah kecil ingusan menyodorkan gelas aqua begitu saja minta diisi dengan mimik memelas yang dibuat-buat. Kutatap matanya, lama. Ia risih, dan kembali merayu. “Kok belum pulang, dik, ini dah malem lho. Yang lain bukannya dah pada balik? Tuh, dah kosong, tinggal kamu aja.” Ia diam. Bocah ini masih sangat kecil, kira-kira 6 tahun. Tapi anak jalanan biasanya tumbuh lebih pintar daripada anak lain seusianya. Sayang, ia tak cukup pintar berakting. “Ngomong-ngomong bos kamu siapa sih? Gak dijemput?” ia masih diam sambil menyorongkan aqua gelas ke mukaku.mimik memelasnya sekarang berganti rupa menjadi mimik kesal seperti ingin bilang’aku hanya ingin uangmu, susah amat sih!’ Dan anak ini rupanya cukup gigih juga, ia tak beranjak setelah sekian lama kutanya-tanya. Sepertinya ia bukan anak jalanan asli yang lepas sendiri. Tapi ia anak jalanan yang jadi anggota grup ngemis. Bahkan ngamen pun ada organisasi mafianya. Makanya sulit memberantas pengamenan, malah kian merebak kian hari di Jakarta ini. Karena it is organized! Seperti Vatikan, seperti militer, semuanya organized!
Kalau anak kecil ini bukan bagian organisasi dan hanya hidup untuk dirinya sendiri, tentulah ia tak akan sekaku ini. Anak jalanan yang merdeka biasanya jauh lebih nakal dan seenaknya, diajak ngobrol pasti nyaut banyak, dan tidak akan segigih ini diam memaksa orang mengisi gelasnya dengan sekedar 200 perak. Biasanya anak jalanan yang merdeka langsung meninggalkan apa yang menurut mereka buang waktu, cari yang lain, bersenang-senang dengan teman-temannya, super enerjik!
Sekarang bocah ingusan-yang bener-bener ingusan- ini menatap mataku seperti nantang ingin mencoba mengalahkanku. Tidak dihiraukannya cairan yang sudah menguning keluar dari hidungnya dan meluncur seperti susu kental menuju bibirnya. Setelah cairan kuning pekat itu mengena bibir bawahnya, barulah ia memutuskan untuk menyudahi penyerangan. Lengan kecil kurusnya yang penuh borok menggosok hidungnya dengan keras. Seketika muka penuh tanah dan tak kalah sepinya dari jamur itu berpaling, berlari ke luar mesjid menuju sebuah mobil pick-up. Begitu sampai, seorang pria keluar dari kursi supir dan nampak membentak habis-habisan sambil menuding-nuding bocah kecil yang dengan sok berani menantang muka si pria itu. Hampir saja lukas bangkit, ingin meninju pemuda tanggung gangster pengemis itu sampai sesosok bayangan berkelebat sepuluh meter di depannya. Hanya melintas, dalam sorban, gamis dan jenggot. Yang semuanya tak dapat menyembunyikan bentuk muka kejamnya. Seserpih memori buruk mencuat-cuat. Mata biru sadis itu, tak pernah ia bisa lupakan. Gersang. Gurun. Perang. Panah baja. Bunuh, bunuh, bunuh. Bukankah ia sudah mati? Orang oportunis berdarah dingin itu, mata-mata semua badan spionase yang bersedia membayar tarif tinggi, yang punya kelebihan. Bonus, plus: to terminate.
“Lukas, kenapa? Ada apa? Kok kayak abis ngeliat kucing ngegondol tikus?” aduh madrim, bahkan candaanmu yang suka asal aja ga bisa ngilangin kekeluanku. ”Madrim!” aku menatapnya, dan menangkup kedua pipinya. Apa dia sempat ngeliat saya? Ngeliat gadis ini, bersamaku? Suatu kengerian mulai menyelusup. Gadis semungil ini, semanis ini, tinggal di kota besar yang mengerikan ini, seorang diri! Betapa jakarta penuh oleh bangsat. Betapa aku baru menyadari arti bangsat. Padahal aku sendiri bandit sejati. “Janji, kamu gak akan pernah keluar sendiri malem-malem! Janji juga, jangan ke tempat sepi sendirian siang ataupun malem! Jangan ngobrol sama orang gak dikenal!”
“Lukas, kenapa? Iya, iya, kok jadi parno –paranoid-gini sih? Lukas, pipiku sakit. Iya, aku janji.”
Kupeluk Madrim.
Lukas, kamu kenapa? Kenapa kamu setakut ini? Abis liat apa? Bisakah kubantu? Lukas, seharusnya aku bilang kamu ga boleh meluk aku, abis ini dilarang. Tapi saat ini aku tak ingin mengatakannya seperti banyak kesempatan selama ini. Lukas, aku ingin meredakan ketakutanmu.
Madrim balas memeluk Lukas, di parkiran mesjid.
Romantis banget ya Lukas… tapi nggak. Aku ama dia gak cuma bersayang-sayang ria. Kami sama-sama keras kepala, seringkali berantem, sejak pertama kencan, hanya karena hal kecil seperti who’s paying the bill. Malahan masalah kecil begitu jadi suatu perdebatan panjang buat kami. Heran, baru kali ini ada kaum adam yang super bandel, gak gentle, gak mau kalah ama cewek… (maksudnya aku).
Minggu kedua Desember 2000, gedung dewan pers jakarta
Hari senin, aku liputan lagi. Kali ini
S c r a b b l e
Agustus 2001
Empat bulan. Empat bulan Lukas pergi, ke timur tengah katanya. Lagi. Dan aku khawatir setiap harinya. Bagaimana tidak, ia pergi dengan janggal. Ada sesuatu yang merisaukannya. Entahlah, selama aku mengenalnya, walau cuma dua ratus hari saja, ia selalu menjadi sosok pemberani. Liar, ga kenal takut. Mungkin karena hidup sendiri, lukas tidak merasa bertanggung jawab pada apapun. Bukan orang yang terkagum akan mimpi, dan selalu menghampiri maut tanpa peduli mati. Setidaknya waktu baru mengenalnya ia seperti itu. Sama-sama ga mau kalah waktu debat yang selalu jadi makanan penutup tak diundang setiap kali bertemu. Yang akibatnya setiap kencan, pulang dalam kepala panas, karena sama-sama ga sudi dikalahkan. Kalah karena mengagumi. Marah karena harus mengakui ada orang hebat di depan mata, yang ingin menjatuhkanku, untuk mengakui kekagumanku pada lawan. Madrim yang selalu diberi kemenangan dan kebahagiaan dengan mudah karena sosok manisnya dan putri bungsu pula. Lukas yang selalu merasa menang karena memang selalu menang. Dan kami sama-sama mengaku kalah.
Beberapa waktu sebelum Lukas pergi, segala dirinya tak mencerminkan Lukas yang baru kukenal itu. Masih liar, tapi juga cemas. Mimik khawatir dan tercenung memikirkan sesuatu, makin sering ia pakai. Sering ia kudapati menatapku dengan begitu anehnya, lama. Lalu meluk. Tapi ia ga pernah mau cerita. Padahal lukas selalu cerita tentang apa saja. Seolah ia ingin memuntahkan seluruh kehidupannya padaku. Aku tahu sampai detil siklus hidupnya, kecuali keluarganya. Karena lukas juga ga tauk siapa keluarga ayah dan ibunya. Cuma Seno Pati dan Liliana Senopati.
Kamu kenapa, Lukas? Madrim, aku ditugaskan lagi ke Timur Tengah, mungkin juga ke salah satu negara Rusia. Ada tugas…penting.
Itu aja penjelasannya kenapa dia mesti ke timur tengah. Gak lebih ga kurang.
Suatu ketika kami pernah berbincang mengenai profesinya. Katanya, Lukas sangat menikmati menjadi wartawan, medan perang lagi. Dan lukas makin bersyukur dipertemukan dengan dunia timur tengah. Aku tak bisa tersenyum mendengarnya, walau ia mengatakan dengan bangga waktu itu. Mengapa? Mengapa kamu bangga, Lukas? Kenapa kamu nanya, Madrim?
Yaa, wartawan sih oke aja. Cuma, yang aku ga ngerti, kenapa medan perang menjadi suatu kebanggaan?
Kenapa? Karena pertama timur tengahnya. Bagian timur tengah ini kita dah puas ngebahas, kan? He eh.
Dan tidak benar kalau kamu sebut sebagai kebanggaan, madrim. Tapi berada di tanah itu, adalah suatu tugas berat. Kamu tau kan yang kubilang timur tengah adalah masa depan dunia? Walau kamu ngebantah terus, -abis kamu ngotot setiap pelosok dunia punya masa depan sendiri, mandiri, independen. Kayak jepang jaman shogun. Dan kubilang waktu itu kamu kuno, dan utopia!- Nah, karena akan menjadi salah satu poros kuat –yang terkuat, mungkin- masa depan dunia, maka seluruh dunia dan masyarakatnya wajib tahu akan apa yang terjadi di timur tengah. Dan sebisa mungkin wartawan menjalankan ‘tugas’nya. Tunggu, Madrim, aku belum selesai bicara. Tapi, yang kamu bilang tuh banyak kelemahannya! Timur tengah ga akan jadi poros terkuat, mungkin kuat iya tapi terkuat tidak mungkin! Terlalu ekstrim sistemnya, ntar kayak komunis sovyet. Nah, itu pertama. Terus..
‘Madrim, aku belum selesai, sayang!’ tugas wartawan yang kumaksud tuh apa? Ya, membuat trial by the press secara gamblang. Gampang, tinggal kumpulin fakta sebanyak-banyaknya dan diedit, disusun dan dipampang yang sesuai dengan misi kita aja sebagai wartawan. Kayak majalah sabili yang selalu nyuguhin berita menggemparkan. Mereka gak salah kan, toh ada fakta. 5W1H ada semua. Seperti main scrabble, jumlah huruf tak pernah berubah, tapi bisa diatur jadi seribu macam alternatif kata. ‘dan itu yang saya lakuin jadi wartawan.’ Kita ciptain perdamaian dengan pengadilan yang disuguhkan dalam media massa.
‘perdamaian? Kamu masih pengen perdamaian? Kukira kamu gila perang.’
Nggaklah. Dorongan biologis manusia menuntun setiap manusia se-narsis apapun untuk punya keluarga, pasangan hidup, anak. Kamu. (Hei! Jangan liat aku kayak gitu, Lukas)hehe.. dan semua itu memerlukan suatu keadaan damai.
Apa sekarang kamu ngerasa dalam keadaan damai?
Saat ini? Iya. Abis aku punya kamu. Huh, gombal!
‘Luk, walaupun banyak yang ga aku setuju dari ide kamu yang dangerous itu, mungkin aku emang kuno dan utopia. Tapi aku tau kamu. Aku yakin kegilaan kamu yang kedenger otoriter itu pasti ada maksud baiknya. Seotoriter apapun kamu, toh kamu ingin mewujudkan damai, dan keadilan. Aku yakin itu.’
‘Kadang tanpa kompromi adalah suatu cara yang paling ngena.’
‘uncompromised person selalu bisa lebih mudah untuk dikagumi. Itu unuk William Wallace, pejuang Scot-nya Mel Gibson.’ Kami tersenyum.
Lukas ini, benar-benar punya pendirian liar, dan sangat mandiri. Kalau diumpamakan tonggak, ia satu-satunya tonggak tertinggi dan terkokoh, yang tak mau kompromi menyeragamkan diri dengan tonggak-tonggak sekitarnya, (nggak kayak ajaran yang kuambil, kupelajari, dan yang paling kusetujui dari hukum internasional yang kupelajari: everything is just about to compromise. Hukum internasional adalah kumpulan dari kompromi. Dan orang satu ini oposisinya) tak masalah dimanapun tonggak itu dipancangkan, tengah-depan-belakang-utara-selatan, ia selalu melihat paling jauh dan beraura paling kuat. Seperti magnet, dan tonggak sekitarnya adalah seonggok besi saja. Aku makin tidak suka. Karena aku semakin kagum. Aku ga mau cuma jadi sesosok tonggak besi yang ada di dekatnya sehingga hanya mampu pasrah menanti medan magnetnya menarikku dari bumi. Aku harus jadi lawannya yang seimbang. Ia juga harus bisa melihat punggungku sesekali, saling menyusul.
‘kenapa ga jadi wartawan National Geographic aja?’ aku mengatakannya tanpa sadar waktu itu. Dan ia kaget. Aku juga kaget melihat ia kaget. Aku ngomong apa barusan? Aku lupa dia pernah nyumpah-nyumpah najis untuk gabung ama tempat satu ini, katanya dia punya sejuta alasan rasa gak sukanya ama tempat satu ini.
Maaf, Luk. Aku gatau kenapa ngomong gitu. Cuma, aku ngerasa yang kamu omongin tadi itu, bukan kamu. Not entirely you! Abis, kamu ini dokter, Luk. Walau kamu dah ga punya ijin jadi dokter, tapi jiwa kamu ga bisa bohong. Dimana-mana, tanpa sadar kamu selalu nyari orang sakit –bahkan binatang paling menjijikkan sekalipun- dan selalu nemu dan kamu sembuhin. Kalo nggak, kamu yang sakit. Aku tahu betapa cintanya kamu ama kehidupan. Kamu ini adalah seorang penyembuh. Bukan pengubah. Bukan pemusnah. (yang pemusnah itu aku. Semua yang kupegang sejak kecil dengan tangan ini, pasti rusak. Eksistensi Lukas yang mengubahnya menjadi tangan hijau. Buktinya, kamarku jadi rapih, ga banyak benda yang pecah, jarang reparasi, dan aku bisa BERKEBUN! Biasanya tanaman yang kurawat dengan senang selalu mati. Dan ya, aku pemusnah, seperti dewi madrim yang membuat Pandu suaminya mati melanggar sumpah dan tergoda oleh kemolekan tubuh perempuan lagi)
Kamu penyembuh, Luk. Walaupun kamu Keras, tapi kamu bukan dan ga bisa jadi orang munafik (aku yang bisa). Dan hei, ‘trial by the press’? C’mon! I know that wasn’t ‘you’ who talked!
‘hey! That was really me who talked. Beneran aku yang bilang ide yang kamu bilang gila dan munafik itu barusan.’
Tapi aku masih ngebayangin kamu sebagai wartawan national geographic, Luk. Keliling dunia juga, sambil nyembuhin orang sakit yang ga punya duit atau fobi rumah sakit dengan jarum suntiknya, nyebarin berita mengenai kehebatan suatu budaya, dan kekuatan budaya kan jauh lebih kuat dari politik. Dan kamu dilahirkan untuk sesuatu yang lebih besar daripada sekedar politik. Yaitu humankind.
Lukas diam waktu itu. Mungkin juga ia diam karena aku memegang mukanya dan mengarahkannya agar selalu melihatku. Aku juga diam (Berpikir betapa lucunya kami. Lukas, yang dari penampakannya, tulang-tulangnya, darahnya, dan pendidikan religinya pun made in west. Tapi ia begitu kagum dan menyanjung-nyanjung fundamentalis timur yang begitu ekstrimnya. Sedangkan aku, dari busana, tingkah laku, muka, hidung, agama, all asian, jawa sunda asli. Mendengungkan kitab suci pun logat sunda. Tapi, aku begitu mengagungkan yang namanya kebebasan individu dan kompromi sebagai solusi, didikan piagam PBB.)
‘Kamu tau kenapa aku diem? Hm.. I was thinking, that was really you! maksudku, satu-satunya orang yang bisa ngomong penuh kejutan kayak tadi ya cuma kamu. Maksudku, hm..hehe… kamu lucu! He..satu-satunya orang yang bisa ngomong dengan logika super gak logis ya cuma kamu. Pokoknya satu ciri khas logic pattern kamu: gak ber-pattern! Hahaha…’
‘ih, apa maksudnya tuh!’
‘maksudku… aku mau jadi partnermu’ lukas bilang. He? ‘Itu mimpi kamu kan? Indah. Kalau iya mimpi kamu, kalau kamu mau aku mau jadi partner kamu.’
Itu pembicaraan yang udah lama banget. Tapi rasanya, selalu seperti enam jam yang lalu. Abis itu pembicaraan serius terpanjang yang paling akhir sebelum ia pamit. ‘Kamu ga usah nganter. Aku dah ada yang jemput, temen bareng ampe sana. Dan ini misi ngelibatin orang-orang edan. Aku ga mau mereka liat kamu. Denger, aku ambil cincin ini dari kamar kamu. Aku tau, ini cincin warisan nenek kamu, sangat penting. Nanti aku kembaliin waktu pulang. Jaminan. I love you. I’ll see you Madrim, My dream.’ Dan kami berpisah di depan kosku. Setelah peluk, cium, sedikit airmata dan rasa marah juga takut, takut kehilangan. Jam 8 malam. April. Ia memberiku kunci apartemennya. Titip, katanya.
Aku tak diizinkannya bertanya. Bahkan tidak juga: ‘Kapan kamu pulang?’
Pertanyaanku ini akhirnya terjawab. Tuhan menjawab do’aku yang penuh makian. (Maaf ya Tuhan, aku memaki-makiMu)
Suatu ketika pertengahan bulan agustus ini, ia kembali. Dalam keadaan babak belur. Muka penuh luka, tangan, kaki, semuanya penuh goresan seperti garpu raksasa. Aku bisa menemuinya melalui seorang kakek yang sangat dipercayainya: Romo Handoko.
Begini ceritanya..
Hari jumat minggu kedua jam sembilan malam ada yang menghubungi ponselku. Nomer Bogor. Aku ga kenal. Tapi suaranya aku kenal: suara yang begitu aku rindukan. Lenteraku, penyembuhku. Lukasku. Singkat, ia bilang:’ikutin kata romo handoko ya’. Klik. Mati.
Lima belas menit kemudian, telpon kos berbunyi. Isinya mencari aku. ‘Gatau dari siapa, kakek lo katanya.’ He, aku nyengir. Lucu juga, dapet kakek lagi setelah pada mati. Dan ia memang romo Handoko. Ia memerintahkan aku untuk bersiap dijemput dua utusannya di depan BCA Margonda. Hanya itu. Oke, I’d take the risk.
Setelah berputar-putar ga keruan, aku dibawa ke suatu rumah kecil di Sirnagalih, yang kemudian aku tahu adalah bagian belakang yang agak tersembunyi kuil Budha sekte Jepang. Tempat yang sangat amat indah! Orang Jakarta mungkin akan menganggap tempat rindang dan penuh dengan aura persahabatan ini sebagai surga. Tapi aku datang waktu malam, dengan hanya satu gambar di mata: Lukas. Dua utusan ramah yang selalu bikin aku ketawa di kemudian hari -pendeta budha (funky berambut gondrong berkaos oblong hitam) dan yang satu lagi pendeta katolik (rapi kelimis pake sendal jepit)- itu pun tampak berhati-hati sekali, membuka gerbang pelan-pelan, memakaikanku jubah pendeta gregorian. ‘kenapa aku pakai jubah ini disini, padahal kalian yang pendeta aja nggak?’ yaa.. kami kan bukan suster, bukan biarawati. Mana ada biarawati kerudungnya kuning, bajunya merah.(ya..ini kan darurat, akhi..) Daripada nyolok banget, ya mesti ditutup jubah dong.
‘Ini tempatnya, nona. Masuklah, anda sudah ditunggu. Kami harus kembali ke kantor kami sekarang. Semua pertanyaan akan terjawab di dalam. Mari, nona.’
Aku masuk. Romo Handoko yang menyambut. Aku tahu dia, karena Lukas sering menunjukkan fotonya dan selalu bercerita tentang kakek tua satu ini. Baru kali ini kami bertatap muka. Tapi kami seperti sudah saling mengenal lama.
‘Madrim, masuklah ke ruang pojok kanan itu, kekasihmu menunggumu.’ Ujarnya dengan senyum yang sangat hangat. Namun juga sorot mata yang begitu sedih. ‘Ah, romo ini….’
Tanpa tedeng aling-aling, aku langsung mengeruyak kamar pojok kanan itu. Kutemukan Lukas disana, berdiri membelakangiku yang baru masuk pintu yang berat itu. Lima meter di depanku, menaruh sebelah tangannya ke sisi atas jendela selebar 50 x50 cm yang ia buka kacanya. Angin pun menerpa kamar petak 3x3meter ini, menyapukan kesejukan yang sedingin es menyapa pipi. Untung aku masih pakai jubah.
Lukas melamun, ia diam. Aku ga tau dia sadar aku ada di belakangnya atau nggak. Aku juga ga mau mengoyak suasana dingin ini. Sebagai gantinya, aku meneliti setiap detil pemilik bayangan di depanku ini. Sebelah tangannya terluka, ia harus menggendongnya. Kepalanya diperban, gundul. Ia semakin kurus. Tulang punggung, bahu, belikatnya yang tajam dan besar makin menonjol. Aku sedih. Entahlah, walaupun ia masih bisa berdiri gagah dan tak tersentuh -walau penuh luka bersimbah darah-, bayangannya mencerminkan penderitaan, suatu rasa sakit yang begitu kecut. Mukaku jadi panas, mataku me-lahar cepat. Untung aku bisa menahan diri untuk tidak membuat kawah. Kutarik kembali lahar yang hampir tumpah seperti orang menarik ingus ke dalam hidung. Aku beringsut maju. Selangkah, dua, tiga.
‘Madrim…’ ah, aku berhenti. Ia tau aku ada. ‘dengarlah madrim sebelum kau melanjutkan langkahmu.’ Aku diam. Ia pun tak berubah posisi.
‘aku ngerusak segalanya. Aku orang berbahaya, Madrim. Aku jadi buronan. Terutama aku berbahaya buat kamu.’
‘Lukas..’
‘Lupain aku Madrim. Aku berbahaya buat kamu. Kamu ga boleh ada deket aku. Aku ngebunuh orang, Madrim!’
Aku kaget, sejenak. Kalau aku ga kenal dia, mungkin aku bakal ketakutan. Tapi dia… orang ini sangat bertanggung jawab. Bahkan segala kenekatannya pun selalu ada dalam tabel perhitungan otaknya. Ia pasti punya alasan. Tapi.. tapi… kenapa saat ini segala kedigdayaan, kekuatannya seolah kempes? Seperti singa dicabut taringnya… seperti beo diputus suaranya, seperti merak digunduli bulunya. Aku ga rela! Aku ga suka ngeliat kondisinya yang seperti tikus terpojok ini.
‘Madrim, I screw out!’
‘Nggak..’ aku melanjutkan langkahku yang kupercepat. Kupeluk punggungnya. Hingga telingaku bisa mendengar degup jantungnya yang berirama pathetique symphony third movement Tchaikovsky.
‘Madrim, kamu ngerti kan betapa bahayanya jadi orang yang deket dengan buronan? Pergilah sayang. Kumohon, keberadaanku buat kamu cuma bakal ngancurin hidup kamu.’
‘Nggak, Lukas, nggak! Please, jangan ngomong gitu. Jadi kamu nyuruh aku kesini cuma untuk ini, Lukas? Nggak, Luk. Aku tau someday kita mesti over. Tapi ga sekarang! Nggak karena alasan ini, yang belum kamu jelasin semuanya.’
Apalagi kalo kamu bohong, Luk. Kamu bohong minta aku pergi. Aku tau kamu perlu aku. Kalo kamu emang ngebunuh orang, kenapa kamu balik kesini? Kamu yang dulu pasti akan terus disana nerima hukumannya. Tapi sekarang? Kamu ada disini! Dalam pelukanku!
‘Liat aku, Lukas!’ aku beringsut maju, menangkap muka kerasnya dengan kedua tanganku.
‘Apapun yang kamu lakuin, aku percaya pasti kamu punya alasan. Dan aku disini, I’m here to do some help. Apapun itu, aku akan ada terus di sisi kamu, terutama semakin besar masalahnya, maka aku akan membantu kamu lebih besar lagi. Sampai kamu bisa bahagia, ga susah lagi, pada saat itu kalo kamu ngelepas aku, aku siap.’ Karena kamu ga pernah keliatan bahagia.
‘Madrim, keluargamu, kehidupanmu..’
‘Ssh… sudahlah. Aku hidup sendiri sejak aku keluar dari rumah.’
‘Madrim..’ kearoganannya benar-benar hilang! Aku ga percaya. Seperti anak kecil….
Sering ia bermanja seperti anak kecil. Tapi ga separah ini! Tidak pernah selinglung ini!
Ia berbalik memelukku, erat. Sampai aku kesakitan. Padahal cuma satu tangan. Dan ia sedang penuh luka. Tapi cukup untuk membuatku lumer. Begitu eratnya sampai jantungnya seperti milikku dan jantungku seperti hilang. Atau bercampur. Entah. Rasa sakit akibat pelukannya yang begitu keras hilang, seperti suara kucing di luar. Kemudian kusadari, tubuhku menginginkan lebih. Lebih dari ini. Aku takut… karena dia juga begitu. Jantung kami yang dibatasi kulit, perban dan kain itu lalu mempercepat temponya. Aku semakin takut, jantung ini rasanya ingin pergi jauh dengan tempo yang sangat cepat yang tak kuasa kulakoni. Tapi aku menginginkannya. Lampu bohlam 15watt itu memperjelas matanya yang menatapku begitu dalam. ‘Madrim, Madrim..’ Seketika aku merasa dilindungi. Aman. Ketakutanku diserapnya, menjadi senyum. Wajahku didekap satu tangannya yang begitu besar-untung hanya satu. Kalau dua-duanya, bisa habis kepalaku.-. lalu untuk pertama kalinya bibirnya menyentuh bibirku…. Aku ingat masa kecil, ketika ibuku memberi eskrim yang kurengeki seharian di taman ria… Tanganku pun langsung menutup jendela kayu yang menempel di belakangku Aku tak bisa bergerak lagi. Nafas kami makin memburu seperti habis lari. Leherku yang kedinginan di balik kain digenggamnya, seperti syal. Kepalaku yang terlindung hampir telanjang. Ia masih mendesiskan namaku berulang-ulang setiap mengambil udara. Aku sangat menikmatinya, karena dengan begini Lukas yang tak tergoyahkan dan agak sadis itu seolah kembali. Kami hampir melanjutkan semua cerita dewasa itu yang tak sepatutnya diceritakan. Sampai Romo mengetuk pintu.
E m p a t s e n a r
N o v e m b e r 2 0 0 3
Tahun ini usianya 23 tahun. Ia baru saja lulus kuliah dari fakultas hukum ui. Setelah 2 tahun meninggalkan kampus, akhirnya kembali juga pada kampus, dengan sebulan skripsi hampir saja ia tidak kembali pada kampus dan memperoleh gelar sh. Setelah sekian lama bergelut pada rasa bencinya dan rasa tidak percayanya pada segala institusi pemerintah. Segala jaringan yang pernah ada. Any organized institution. Jaringan laba-laba yang begitu rekatnya, menyelusup sampai dunia pendidikan. Sejak penganiayaan lukas..
Dan karena lukas pulalah ia menyelesaikan kuliahnya. Selain untuk nama harum keluarganya yang dikenal sebagai keluarga intelek. Tidak mungkin ia meninggalkan noda begitu saja ga selesei s1. Dengan ini, hutangnya pada orangtuanya lunas. Ia telah mnyelesaikan kuliahnya. lalu ia lepas, terbang sendiri.
Sekarang madrim di amerika. Sendiri. Dengan pertentangan keluarganya.
Madrim sudah begitu muaknya pada bangsanya, pada norma. Pada keluarga sempurnanya. Pada kehidupannya yang seolah sudah diatur harus ngikuti suatu garis yang sudah dijalurkan pemerintah. Dan agama. Dan keluarga. Begitu lulus kuliah, punya gelar, jadi konsultan hukum, kerja di gedung mewah kuningan, suatu biro hukum, dapet duit gede, berkeluarga dgn pebisnis, bikin rumah, dan kehidupan berlanjut begitu dan begitu. Betapa bosannya. Tanpa ada penyimpangan. Hidup tenang banyak duit, mama pun bahagia. LSM? haha.. temenku yang super idealis dan cerdas semasa kuliahnya terjun ke dunia ini, dan.. end up still like fancy lawyers.
‘Idealis tu cuma suatu kata sifat, atau kata kerja, yang hanya timbul suatu ketika apabila diperlukan. Seperti, makan, atau senang. Lagian, idealis terhadap apa? Bukankah akhirnya idealis cuma kata lain bagi seorang pengkhayal? Tempat paling tepat buat orang idealis cuma kuburan! Tidur selamanya’.
Madrim bosan menjadi gadis baik-baik. Apalagi setelah peristiwa yang menimpa kekasih katoliknya, Lukas. ”Jadi orang lurus di negara bego keparat ini? Huh! Apa artinya orang lurus? Kalau jalurnya semrawut dan bengkok-bengkok ga jelas? Dan kotor? Siapakah orang yang benar itu? Apakah dia yang mengikuti jalur yang sudah disediakan negaranya? Seperti suatu jalan tol yang dibangun oleh bahan dasar norma agama, lalu nilai bangsa dari kesukuan lalu aturan pemerintah dan kepentingan-kepentingan politik bangsa penjajah kapitalis besar dunia. Dan pemerintah indonesia yang kian merunduk sampai jongkok, nggelesot, mencium-cium kaki penjajah yang superkaya, demi cucuran harta sekedarnya. Sekedar perut kenyang. Tak ada lagi harga diri. Tak ada lagi harga diri. Tak ada lagi harga diri. Tak ada! Negara yang memuakkan! Negara yang tak punya harga diri untuk diperjuangkan sehingga siap untuk menanggung penderitaan.”
Lukas, kekasihnya dulu adalah wartawan reuters. Jam terbang peliputannya sudah lumayan tinggi untuk jangka waktu empat tahun. Dan kebanyakan yang ia liput adalah politik internasional dan peperangan di garis depan terutama di wilayah timur tengah. Dua tahun lalu lukas diberi tugas meliput tentang pergerakan fundamentalisme radikal di timur tengah dan badan-badan intelijen besar dunia. Lalu, mata-mata dunia timur dan barat pun ia rangkul.
Dalam tugasnya, lukas pun menjadi tumbal. Dianggap mata-mata mossad yang menyelusup ke badan intelijen indonesia. Ternyata adalah prakarsa beberapa pejabat tinggi militer dan perpolitikan banyak negara. Ah, ruwet deh kalo diruntuinin satu satu! Lukas pun dihukum mati, sebagai penghianat bangsa indonesia. Dengan seribu keanehan Lukas dianggap mati, secara perdata dan publik. Identitas lukas dipalsukan dan dihapus dari arsip kependudukan negara, dianggap tak pernah lahir, setelah diberitakan meninggal dunia tanpa jejak yang jelas. Ada yang bilang Proses eksekusinya katanya diberikan pada pemerintah israel, karena lukas dianggap anggota mata-mata mereka yang berkhianat. Namun tubuhnya tak pernah kembali. Dan pemerintah indonesia cucitangan. Kasus mata-mata mossad wni ditutup. Begitu bisikan dubes amerika pada dewan eksekutif.
Lukas yang selalu hidup sendiri. Yang hanya tahu ia hanya punya ayah di seberang benua. Tak ada yang kehilangan. Semua orang lupa. Dan gak ada yang memikirkan dan mempertanyakan sejuta misteri raibnya lukas. Hanya para gadis yang menghamba peluknya. Dan madrim salah satunya. Satu-satunya gadis beruntung yang begitu dipuja Lukas. Madrim pula satu-satunya orang yang ngotot mempermasalahkan keanehan dan ketidakadilan besar kasus Lukas. Dan pertama kalinya bener-bener sadar ama yang namanya konspirasi, kejahatan yang terorganisasi, yang tertata rapih, sistematis. Betapa kuatnya dan kokohnya suatu institusi yang di-sistemkan. Apalagi kalo dalam kejahatan. Dan betapa rapuhnya hal baik yang membuat semua orang bahagia, suatu keadilan untuk dikokohkan dalam suatu sistem.
Kini gadis mungil itu di amerika. Melepas semua atributnya, memulai dari bawah, dari nol. Hanya berbekal gelar sh, leica, dan biola. Tulisannyalah yang ia gunakan untuk mencapai New York. Melalui headquarters un, yang mengadakan lomba penulisan humanisme. Tema yang umum, hak asasi manusia. Lalu madrim pun segera mengerahkan kelebihannya. Budaya timur, indonesia, islam, jilbabnya, apapun yang dinilainya menarik perhatian dunia barat. Madrim menyuguhkan kasus lukas, rekayasa spionase internasional yang menyangkut pemerintahnya. Dengan gamblang ia paparkan kebusukan dunia internasional dengan bahasa yang sangat halus, kekanakan, dan NAIF..
Madrim tidak menang. Tapi ia dipanggil secara khusus, tidak lagi oleh unesco yang menjadi pihak penyelenggara di paris, tapi langsung ke biro pusat pbb di New York. Siasat madrim berhasil, dengan keekstriman tulisannya, ia bisa ke amerika lebih mudah. Setidaknya, tiket dan akomodasi selama sebulan ditanggung penuh, plus duit jalan-jalan. Sayang, sepadat apapun kepala dan kecerdasan madrim, tetap ga bisa menutupi rentetan kenaifannya. Madrim gak berpikir lebih jauh sampai dampak tulisannya yang bisa membawa kesulitan di kemudian hari. Mungkin memang khas anak muda, grudakan. Spontan, ga liat kanan kiri, nganggep semua bisa diatasi kalo kita mau, selalu bilang: “I’ll think of it tomorrow” kayak Scarlett O’Hara. Kesalahan pemikiran naif akibat benci yang besar pada organized institution yang bikin organized crime universally-tapi juga rasa memaafkan segala sesuatu yang salah dan keyakinan akan berubahnya kebatilan pada kebaikan dan adanya kebaikan pada segala kejahatan-. Yang akhirnya pada suatu hari mampu mengubah haluan penilaiannya terhadap organized institution. We oughtta be part of some, because we were born so. Suatu hari madrim menyadari, bahwa membutakan diri pada something organized, means selfish, dan bisa jadi trigger kejahatan. And to beat organized crime, the only manjur’ way ya, dengan organized system juga. Entah apa itu. Madrim ga mau mengasosiasikannya dengan organized divination. Or even organized individualism.
M a d r i m n g a k u
Papa, mama, I have a confession. I believe that you will be shocked instead. But in sooth I knew, bahwa papa dan mama sudah terlalu sering menghadapi tingkah putra-putri keras kepalamu ini. Sehingga janganlah terlalu kaget atas apa yang akan saya ceritakan ini. Sebab sungguh tak ada niat putrimu yang nyeleneh dan mbalelo ini untuk durhaka pada papa dan mama. Sungguh putrimu ini hanya anak kecil yang tak kunjung puas, mengejar dunia yang tak nampak dalam mimpi sekalipun. Mengejar dunia yang tanpa batas. Mengejar dunia yang tak memuat kepicikan manusia.
Maafkan putri bandelmu ini papa, maafkan putrimu yang sakepenake dewe iki, ibu.
Sungguh semua yang kulakukan ini tak lain adalah untuk memahami apa yang telah papa dan mama ajarkan pada kami sejak kecil. Untuk memahami inti dari suatu ajaran indah yang mempertemukan berjuta-juta orang dari segala macam umur, ras, dan bahasa, menjadi saudara.
Pardonnez-moi, je ne peux pas prendre le meme route que ma soeur et mes freres ont pris (Maafin saya, ga bisa nempuh jalan yang sama seperti kakak-kakak saya). Mungkin, jalan hidup orang memang berbeda-beda. Tapi percayalah mama, aku juga meyakini hal yang sama.
Uffh, berat! Apa harus kulanjutkan? Padahal ini baru permulaan. Daguku gemetar, jari-jariku seolah menolak bersentuhan dengan tuts libretto 50ct diatas kasurku ini. Bahkan leherku yang tak ikut bekerja pun ikut menyumbangkan empati. Haus!
Haruskah kulanjutkan surat ini? Aku merasa surat ini akan membawaku pada suatu peristiwa besar yang akan mengubah hidupku. Takut! Tapi harus! Ah, tak pernah kubayangkan sang jago cerita ini begitu tercekatnya dan begitu gemetarannya hanya karena sebuah pengakuan, sebuah surat yang belum lagi selesai dibuat? Tapi mampu membuat jari-jariku impoten pada pensil ijo 2B tersayang.
Hm.. bagaimana aku bisa menulis sebuah kisah gila ini pada mereka ya? It’s a big disclosure untuk ukuran keluarga superku itu. Kalau kamu ada dalam posisi saya, aku pun gak yakin kalau kamu bisa menulis dengan lancar walau kamu penulis hebat! Walaupun kamu seorang… penulis. Man! This is my family! I feel like such a damn heathen in a saint family. But I love them. My family is my life.
Coba, bagaimana kau akan menulisnya? Ok, ada baiknya aku ceritakan dulu, sambil mencari kata2 tepat untuk kutulis pada papa mamaku.
Ceritanya berawal dari…
Saat ini…..
Tok… tok… tok… tok… tok… tok… tok…. Tok… tok… tok… tok… tok… tok….
Lima gender Bali mulai sahut menyahut. Ramai, energik. Masuklah dengan lompatan khas, ngangkang, sesosok bertopeng barong, kayak buta cakil. Mukanya merah, matanya besar, taringnya nongol, jenggot, rambutnya gondrong kemana-mana. Ada kemboja putih di pinggir rambutnya. Mengelilingi panggung, dengan kain bertumpuk-tumpuk kayak cewek korea, busana yang ramai: merah dan emas, celana tiga perempat, perabotan-perabotan lain di kaki, lengan. Ramai, energik.
Kisahnya: seorang batara yang memakan bulan.
Trak.. tak tak..tak…
Pernah jatuh cinta? Berapa kali? Apa? Belum pernah? Hm… kata temen-temen sih: kasiaan deh lo!
Kata orang jatuh cinta membuat hati berbunga-bunga jiwa melayang kaki serasa tak menapak tanah, mata tertancap hanya satu bayangan, bibirmu selalu tersenyum tanpa kau mau, dan ketika bertemu dengannya di dunia ini seperti tak ada orang lain di depanmu, hanya dia. Dan kau hanya ingin bersamanya. Karena kau merasa aman dan nyaman ketika bersamanya. Tak ada lagi yang kamu perlukan, semuanya sudah… lengkap!
Indah, ya? Aku pernah juga. Keindahannya dan kelezatannya lebih berbekas kuat daripada dark chocolate toblerone, atau lebih lembut daripada cokelat kinder bueno. Mmm.. there’s nothing you need more.
Dua kali aku merasakan itu. Mungkin memang telat, karena aku baru menemukannya pada usia 21 tahun. Padahal ibuku sudah hamil yang kedua kalinya pada usia ini.
ateis, yahudi, kejawen, dan hmi
mei 2002, kantin sastra, sore hari
“ Drim, kowe wis pernah nginep durung?”
Haa? Weis, Bayu. Tiba-tiba nanya begituan. Sok serius lagi. Gak kaget sih. Kami berempat memang lagi nongkrong gak jelas dan ngobrol ngalur ngidul. Dan, ngertilah kalo ama mereka-mereka, pasti ada aja jalan menuju masalah virginity. Wajar, mereka udah usianya nikah. Pria-pria mahasiswa tingkat akhir, bo!
Saat itu kami lagi membicarakan hubungan diluar nikah. Kebetulan kami berempat menganut agama yang melarang banget hubungan seperti itu. Wah, neraka jahanam, harus dirajam di muka umum! Seru Minang.
Kemudian Bayu kembali meneruskan: Minang, menurut kamu gimana kalo si Madrim ini pernah nginep ama seorang cowok?
Minang -yang baru saja curhat ketidakpuasannya atas perilaku sang pujaan yang telah ditembaknya hampir tujuh kali yang ternyata telah menerima orang lain dan diisukan sudah bergandengan tangan dan bersms ria-berskeptis ria. Wah jangan katanya. Jangan sampe deh! Itu majenun! Dan nggak, gue ga percaya kalo si madrim bisa. Walaupun suka absurd dan sok liar, nggak, ga percaya gue.-Minang emang yang paling based on the Book dibanding kami bertiga yang wild thinking abis-.
Aku tertawa. Putra cengar-cengir ga jelas- pasti dia lagi asik ngayal-. Kubilang: Wah Minang, lu ga tau aja. Dan setengah becanda dan tidak, “aku pernah, lagi.” Minang ga percaya. Putra masih cengar-cengir sok merhatiin. Cuma Bayu yang agak percaya. Dan aku gak peduli.
O ya? Ning ndi Drim? Karo sopo? Kapan? Bayu nanya.
Dengan gayaku yang gak bisa serius kubilang aja kenangan lama itu asal. “Di Bandung, taun lalu.”
Minang tetep menunjukkan muka: yeah, right. Putra masih sok meratiin padahal lagi ngayal sendiri. “Ha? Oh mungkin aja man, kenapa nggak? Hak pribadi lagi man!” cuma itu tanggepannya.
Hehe… aku cengar-cengir ga peduli.
“Kenapa di Bandung? Kenapa gak di Jakarta aja? Kan banyak tempat disini.”
Weis, ditanggepin. “Lo percaya, Bay?’” Yang ditanya bilang fifty-fifty, mungkin aja. Mmh, ciri khas anak sastra! “Walaupun gue begini?” sambil menunjuk kepalaku yang tertutup.
“mungkin aja,kok.”
Hmm..
“Sama yang dulu pernah kamu ceritain itu? Yang suka ngebasket di senayan?”
Hehe, bukan. Itu cerita lain lagi yang terpendam. Tapi kuiyain aja. Ntar dia tau lagi kalo ‘yang suka ngebasket’ itu temennya. Huh! Dia masih inget aja, padahal cuma 5 kalimat pendek dan sudah lebih dari setahun yang lalu! Kenapa? Bayu menuntut cerita.
“Abis dia ama aku beda agama. Di Bandung, karena kami harus berpisah saat itu.” Jawabku asal, gak peduli mereka percaya ato nggak. Putra dan Minang masih dengan reaksi yang sama, gak peduli dan gak percaya. Mereka ga percaya, dan nanggepin omonganku biasa aja. Kami sudah terbiasa dengan khayalan mesum teman-teman, kayak Putra yang ahli ngayal mesum seolah sudah ahli prakteknya. Padahal mereka masih virgin- paling parah cuma main sendiri abis nonton bokep bareng-.
Bayu masih menuntut cerita. Putra mulai tertarik. Minang mulai memikirkan yang lain.
Aku memuaskan pertanyaan mereka.
“iya, karena beda agama aku ngelakuinnya. Kalo sama, kan masih ada kemungkinan untuk saling having each other di dalam garis batas yang disahin masyarakat. Karena beda agama, kami sama-sama sadar kalo hubungan kami tuh gak realistis, bahasa Venanya sih nggak banget deh. Kami sama-sama tau kalo kami bakal pisah dan emang harus pisah. Dan gue gak nyesel, itu pilihan gue. I know it’s a sin, but I didn’t and don’t regret it.” Jelasku tanpa ekspresi.
Putra mulai agak percaya. Mereka terdiam. Aku senyum, meratiin mimik mereka. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam detik. Mimik reaksi sang ateis, kejawen, dan hmi. Ada yang berbinar, ndhelonghop, dan risau.
“wah gue mesti cabut nih ke fisip.”
“HMI, Nang?”
“Nggak, gue cuma bisa boker di fisip.” Jelasnya sambil mengelus perut buncitnya sambil menyomot irisan terakhir roti coklat Putra. “Yok, duluan ya”
Kami tinggal bertiga. Tiga orang tanpa batas. Walaupun yang satu berkerudung.
Lintasan kisah getir itu datang lagi. Aku, dan sang lentera. Tepat satu tahun enam bulan yang lalu. November 2000, ketika kampus lagi sibuk mau ujian akhir semesteran. Aku mulai kenal.
Tidak ada yang tahu dan boleh tahu kedekatan kami. Bahkan empat sobat gangku yang udah buka-bukaan banget deh mereka. Terlalu berat buat temen-temen untuk nerima kenyataan yang terlalu absurd, dan terlalu nyeleneh. Aku ga mau mereka terpukul, tahu si muka innocent itu tak berhasil mereka jaga.
Nggak juga dengan Bernadette, my dynamic duo sejak sma. Just me, and sang lentera. And God.
s a n g l e n t e r a
akhir desember 2000
Belum pernah aku setertarik ini sama orang. Kucari namanya kesana sini, nanya sana-sini, semua ensiklopedi kucari barisan ‘L’ nya. Bahkan the Book nya Bernadette juga kubongkar. Yang sempet ngebuat Adet –panggilan sayangnya- curiga,” Kamu mau pindah agama ya Drim?” Kujawab selalu dengan tawa. “Ngaco! Cuma pengen tau kok. You know me lah, Det!” lalu aku kembali membongkar.
“Dasar Gila!” Adet nyentil kepalaku. Ia khawatir: Madrim akhir-akhir ini ke kosnya langsung nyerbu Buku itu dan keep asking sebuah nama.
Emang kenapa dengan nama itu tanya adet. Kujawab sekenaku: Gatau, nama itu terus haunting my head, itu aja.
”Ckck, dasar gila. Terserah lo deh. Gue ngetik jangan diganggu ya! Siap-siap kompre besok nih.”
Fine.
Dari berbagai sumber, aku mengumpulkan data diantaranya:
Nama yang kucari menurut buku nama bayi di gramedia matraman artinya: sang penerang, atau sama dengan lentera.
Lalu menurut webster, an early Christian disciple and companion of Paul, a physician and probably a gentile: traditionally believed believed to be the author of the third gospel and the acts.
Dari buku Adet, nama itu tercantum sebagai nama surat- setidaknya itulah asumsiku, seperti al-baqarah-. Atau lebih tepatnya, suatu bagian besar dari a Big Book, which is Chapter.
Jadi bisa diasumsikan kenapa ia diberi nama itu. Aku mulai mereka-reka cerita. Dan aku mulai memanggil manusia itu dengan nama samaran: Sang lentera.
Sang Lentera. Aku berkenalan dengannya sebulan yang lalu. Di erasmus huis, resital biola seorang maestro belanda yang: Jago bangedh! Caprice 24 paganini mampu ia bawakan dengan menggelegar! Satanic banget deh! Aku ndhelonghop.
Ia fotografer. Setidaknya begitulah penampilannya waktu itu. Kemeja kotak-kotak biru muda, celana gunung khaki yang bersaku dimana-mana, sandal gunung yang suka dipake Age, Geni, Danang dan anak-anak mapala lainnya kalo mau naek gunung, atau ke baduy dua hari yang lalu. Yang lucu dari dia waktu itu: Lensa kameranya yang panjang banget. Sampe dua jengkalan tanganku deh.
“gile! Kayak mo motret demo aje.” Komentar item, temenku yang bisa megang kamera –fotografer majalah kampus-. Item ngiri, ga pernah megang kamera seoke itu.
Di tengah permainan sang maestro ia dengan cueknya melanglang buana. Jeprat jepret sana-sini. Aku masih ga peduli. cuma aku tau, item, putra, dan Yasa ga meratiin perrtunjukkannya. Tatapan mereka terpatok pada benda yang dipegang mahluk berkemeja kotak-kotak biru muda itu.
“Mupeng banget sih lo-lo pade!” bisik Age.
Hihi, kalo nggak lagi ada yang maen biola (caprice 24 paganini,lagi), dan nggak segelap ini, pasti keliatan jelas tampang ngiler tiga fotografer sampingku itu. Sementata tiga temenku itu asik ngiler ngayal mereka megang kamera sedahsyat itu –Item ngayal motret monyet di hutan sumatera, putra ngayal dapetin kado kamera itu sebagai ganti canonnya yang diembat seorang klepto tak dikenal, Yasa ngayal motret cewek bonges di Bromo-, Age asik nguap, aku asik tenggelem ngiler juga ngeliat si maestro itu maenin dengan DJUAGOnya lagu iblis karya Paganini itu. Waw! I wish that was me! Dan tanpa sadar- inilah titik awal perjumpaan benang merah kami- lensa dari kamera Leica itu membidik muka-muka ngiler kami. Satu-satu.
Lagu pun usai. Saatnya istirahat. Kami ke ruang bawah. Ada pameran anne frank. Semua asik muter. Aku terpisah. Tiba-tiba…
“Caprice nomer 24, caprice paling buncit buatan Niccolo Paganini. Ini caprice gabungan dari 23 caprice sebelumnya. Gabungan bagian dahsyat 23 caprice sebelumnya. Makanya sangat dahsyat, tres diable, iblis banget. Gakbisa dibawain ato dinikmati oleh seorang konservatif yang kalem yang hanya bisa menikmati karya semacem Air nya Bach. Caprice nomer 24 adalah kepingan untuk manusia ekspresif dan penuh kehidupan. Yang tersenyum dengan mata berbinar-binar sampe gak sadar ama sekitarnya cuma dengan ngeliat dan ngedengerin permainan seorang maestro membawa Caprice 24 itu. "
Aku bengong. Kenapa ni orang? Ngomong sendiri ngadep tembok. Aku menoleh, mendongak, ke atas. Ia begitu tinggi! Sebahunya pun aku gak sampe. Oh, fotografer itu. Kemudian sambil mencangkem Leicanya, ia menoleh dari poster di depan kami, menatap mataku, tersenyum. Aku masih menerka-nerka jalan pembicaraannya.
“Suka musik tadi? “ pancingnya lagi mencairkan kediaman tiga detik. Dan ia berhasil.
“Wah! Banget! Baru kali ini aku ngeliat Caprice 24 dimainin sejago itu!” Dan aku mulai nyerocos panjang lebar penuh api tentang Paganini, karya-karyanya, permainan bapak maestro berambut putih yang emang super iblis tadi. “Keren abis!” tutupku. Gantian dia yang melongo. Kami terdiam lagi. Aku kebanyakan ngomong absurd lagi nih! Mata tajamnya masih menatapku. Kami tersenyum.
“Maaf, kebanyakan ngomong.” Aku tertunduk malu. “Mm.. suka caprice 24 juga? “
“iya, saya selalu membayangkan mimik orang kalau mendengarkan lagu dahsyat itu. Lagu superhidup! Kayak teriak: come on! DO IT! Let’s get alive! .. Dan saya baru melihat mimik hidup itu tadi.”
Oh..(aku teringat komik Swan: ada tarian koreografi Bejart yang make lagu Bolero-nya Ravel, yang juga maenin emosi orang sedahsyat itu)
“Maaf, saya mengambil gambar kamu tanpa ijin tadi.”
Mukaku jadi panas, gatau kenapa. Lalu aku senyum aja.
Kami berkenalan. Namanya Lukas. Aku Madrim. Kami bertukar nomer HP. Alasannya: saling kabar tentang konser.
Waktu istirahat abis. Kami terpaku. Ia masih menatapku. Teman-teman memanggilku. Usai sudah perbincangan kami. Kami berpisah dengan sopan. Seperti orang Jepang bersayonara.
Sisa konser setelah istirahat, aku tak bisa lagi menikmati biola iblis maestro ini. Tanpa bisa kusetir, mataku berkelana mencari sosok tinggi berkemeja biru itu.
Jelas, I’ve got trapped. Aku tertarik. Sorot mata tajamnya bercokol di kepala. Pembicaraan yang belum selesai…
Aku ingin bertemu lagi… (padahal kami baru bertemu dan aku ga percaya ama love at the first sight)
Esok paginya aku sudah lupa.
Sampai dua minggu kemudian, di UN building depan sarinah. Aku datang jam 10 pagi, menunggu Pak Philippe untuk kuwawancarai tentang masalah budaya-untuk skripsiku satu semester lagi-. Tunggu ya dik, pak Philippe memang orang sibuk banget.” Jelas sekretarisnya. Huh, daripada bosen, aku jalan muterin gedung satu ini aja. Wah, ternyata UN building ga setertutup keliatannya dari luar. Memang, full of blue. Tapi ga seseram tampak luarnya. Ruangannya ga gitu gede. Dan semua tumplek blek disini. Ada WHO,FAO, UNESCO, dan, dan.. apa lagi ya? Tauk deh. Yang pasti ampir semuanya numpuk. Untung UNICEF dan UNIC ga ikutan disini. Kalo nggak, bisa ambruk ni gedung.
Lalu aku turun ke lantai dasar, ke perpustakaannya.Wah, tumben, banyak banget orang! Biasanya dua orang dateng aja dah banyak. Ternyata mereka kumpulan wartawan, dokter, dan aktivis HAM. Ada yang bule, ada yang lokal. Mereka berkerumun di sudut ruangan lain, yang ngebuat ga semua yang dateng bisa keliat.
Tiba-tiba mataku tercekat suatu benda diatas suatu makalah. Leica perak berlensa dua jengkal itu! Aku terssenyum. Ada ingatan menyenangkan disana. Berjingkat-jingkat kudatangi benda yang dijombloin ama yang punya. Iya, bener! Leica yang sama! Ada goresan satu di deket mereknya. Senyumku makin mengembang. Kuambil makalah dibawahnya. Ada emailnya: lucas@reuters.com
Oh, dia orang reuters ternyata. Ah, mereka datang! Aku pun bergegas menyelinap keluar perpustakaan kayak maling-padahal aku sama sekali gak perlu bersembunyi-. Abis gimana lagi, hati ini berdegup kencang sekali. Sampai di tingkat dua aku baru sadar kalau tanganku masih meremas erat sebuah makalah.
Aku tidak mengembalikannya.
Sepanjang perjalanan pulang dari Unesco, diatas Patas 43, makalahnya terus kupegang dan kupeluk erat. Senyumku terus mengambang. “ Dia pasti lagi kebingungan, makalahnya ketiup angin apaan. Hihi, aku jahat sih. Tapi biar ah.”
Kemudian aku mulai membacanya. Makalah setebal 98 halaman, 1.5 spasi, in english. Hm, jadi selain moto, dia bisa nulis juga. Jago juga tu orang. Isinya bukan sepenuhnya hal yang bisa kumengerti, sebab banyak istilah yang hanya dikenal di dunia medis dimana mercurochrom aja haram disebut obat merah. Garis besar isinya ya, hasil pengamatan dan analisa kesehatan di negara-negara asia Tengah dan Asia Barat. Diantaranya ada Pakistan, Afghanistan, Palestina, Israel, dan India. Pengamatan dilakukan di hampir setiap lokasi paling kumuh tiap negara. Leader team: Lukas. Fakta baru: Ia dokter, dan bekerjasama dengan WHO. Analisanya menarik! Sungguh suatu pemikiran global tanpa asumsi yang bisa dengan menyenangkannya membuat siapapun yang membaca bisa mengerti tahap kemajuan tingkat kesehatan di negara-negara yang ia teliti. Lengkap dengan sebab politik, ekonomi, budaya, dan ideologi. Pemikiran yang hebat, seperti Huntington menjelaskan Clash of Civilization. Sungguh suatu pemikiran yang sangat besar! Sayang aku sedang terbawa luapan bahagia. Sehingga aku tak bisa menceritakannya dengan lengkap apa pemikirannya. Cukup bahwa pemikirannya sangat global dan menarik (menurut saya).
To : lucas@reuters.com
Subject: anestesi di Afghanistan
Dear lucas,
Afghanistan termasuk salah satu negeri paling unik sejagat dalam abad ini. Mulai perlawanannya pada pendudukan komunisme rusia sampai the Taleban, anak-anak muda fundamentalis-kata orang barat- yang sangat erat mengikat bangsanya dengan syariat .
Opium dilarang, HARAM jaddah! Tapi opium menjadi pemasukan devisa paling tinggi bagi negara. Lalu opium pun tetap diproduksi. Walaupun mereka masih menganggap haram. “kan, bukan buat kami, tapi untuk dikirim.” Kilah mereka. Gimanapun haram ya haram.
Lalu apa hubungannya dengan anestesi?
Bagi seorang dokter, terutama dokter lulusan Belanda, anestesi adalah salah satu metode pengobatan pada pasien.
Menurut webster, anesthesia or anaesthesia adalah 1. general or localized insensibility, induced by drugs or other intervention and used in surgery or other painful procedures 2. General loss of the sense of feeling, as pain, temperature, or touch
Bisa dikatakan bahwa anestesi adalah suatu bentuk pembiusan, penyuntikan obat untuk menghilangkan rasa sakit dalam proses medis, biasanya dalam saat pembedahan. Bisa suatu tempat tertentu seperti hanya jempol kaki saja, atau seluruh tubuh. Tergantung dosisnya.
Lalu berkembang lagi, anestesi tidak hanya pembiusan sementara. Anestesi bisa ditingkatkan lagi dosisnya untuk benar-benar membius orang sampai seluruh organ tubuhnya tak bekerja lagi bukan untuk sementara. Mematikan orang dengan bukan ketidaksengajaan.
Lalu timbul perdebatan: bolehkah anestesi dosis tinggi yang mematikan disahkan sebagai pengobatan dalam dunia medis? Sebab pengobatan adalah suatu penyembuhan, membawa orang sakit menjadi sehat kembali, bukan mati. Itulah tujuan seorang ibu mengopnamekan suaminya yang kanker otak ke rumah sakit. Agar hidup lebih lama lagi, walau hanya satu minggu. Walau menguras tabungan tujuh turunan.
Di Jepang, Malaysia, dan negara-negara timur tengah, dokter yang menerapkan anestesi untuk mematikan seluruh organ tubuh manusia dihukum. Dipecat, atau lebih parah lagi ditarik ijin prakteknya. Sehingga bila ia memberi resep obat penisilin sekalipun, ia bisa dihukum. Hukuman kurungan, penjara atau dan denda.
Di negara-negara barat yang sudah mulai sekuler dan berbasis HAM, seperti Perancis dan Belanda, anestesi mematikan dibolehkan. Walau masih timbul perdebatan dimana-mana. Tentu tidak dengan mudahnya seorang dokter memutuskan pemberian dosis super tinggi. Tapi sudah dibolehkan.
Kenapa dibolehkan? Kenapa mematikan orang as Playing God di sahkan secara hukum? Bagaimanapun mematikan tetap mematikan. Seperti pasal 338 KUHP indonesia -yang isunya mau diganti sejak belasan tahun yang lalu-: barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Jadi membunuh ya membunuh.
Biasanya seorang penderita penyakit berat seperti kanker, aids, adalah orang-orang yang tahu usianya tak selama seharusnya. Dirawat sehebat seintensif apapun, penyakitnya tak akan hilang. Penyakit yang justru makin dikoyak makin tumbuh besar, mengakar. Mereka tahu, they will die soon. Kebanyakan dari mereka sudah pasrah, hidup dengan penyakit tanpa perlu dirawat. Mereka sudah siap mati, tapi keluarganya tidak.
Permintaan anestesi seringkali datang dari si penderita sakit. Alasannya: sudah tak ada harapan hidup, semakin lama hidup semakin besar beban keluarga, pemborosan, sudah tak tahan lagi sakitnya.
Sebenarnya anestesi sampai mati pun bisa menghemat budget negara. Beban manusia berkurang satu, obat-obatan tak terhabiskan dengan sia-sia.
Secara realistis, anestesi sampai mati cukup menguntungkan. Buat negara, buat keluarga, buat dunia. Karena beban dunia berkurang satu.
Tapi nyawa manusia begitu berharganya, sehingga orang bersedia mengeluarkan uang sebanyak-banyaknya hanya untuk menambah umur satu hari saja.
Lalu, anestesi di Afghanisthan?
Afghanistan adalah negara Islam. Islam, apapun caranya melarang perampasan nyawa orang. Karena itu anestesi sampai mati adalah haram. Apalagi saat ini negara penghasil opium terbesar ini ada dalam kekuasaan rezim yang lumayan strict. Apalagi sebenarnya sungguh tidak diperlukan anestesi untuk mematikan orang disana. Karena kondisi perekonomian dan gizi bangsa yang sudah sedemikian parahnya. Tapi entah kenapa penduduk Afghanistan adalah penduduk yang sangat kuat, tidak mudah dilumpuhkan, bahkan oleh penyakit sekalipun. Ketahanan fisik mereka: two thumbs up! Karena fisik bertahan karena mental, tentu dapat dikatakan ketahanan dan kekuatan mental bangsa Afghanistan adalah: all thumbs up!
Mungkin bangsa Afghanistan adalah salah satu ras terbaik. Tapi kita tidak membicarakan ras, melainkan anestesi.
Anestesi adalah seperti opium. Dilarang tapi diselamatkan, walau bukan untuk masyarakat Afghanistan itu sendiri. Dokter Afghanistan mengabulkan anestesi sampai mati, tapi bukan untuk rakyatnya, melainkan untuk orang asing.
So, apakah anda termasuk pendukung anestesi sampai mati? Sebagai dokter, manusia, wartawan reuters, atau apa?
Sincerely,
Just my humble thought.
-from the person who’s got your paper, Great thought!-
psi-net, awal desember 2000
klik,klik.
Mail has been sent!
Dan aku keheranan di depan layar. Kenapa aku bisa setertarik ini untuk ngisengin orang? Niat banget! Madrim yang selalu gak pedulian sama orang lain! Maen ya maen aja. Not something to be involved busily. Apalagi kalo ga kenal. Apa yang menarik dari manusia satu itu yang sama sekali baru ketemu satu kali selama gak sampe sejam.
Cakep? Ga tau.
Aku coba mengingat detilnya. Tinggi (aku ga sampe sebahunya) –pasti dia sekitar enam kaki lebih-, kulitnya gosong merah terbakar gitu, mirip temen-temen yang suka ngebasket, rambutnya cepak gondrong kayak David Beckham di iklan Brylcreem sebelum nikah. Sisanya aku lupa. Yang paling kuinget ya sorot matanya yang tajam. Ia pasti orang yang keras, hardworker, gak bisa dimainin orang, tapi lembut. Terbukti dengan senyumnya waktu itu. Dan sinar matanya yang melunak waktu berbincang. Sorot mata yang membuat dua biji mataku tak bisa berpaling. Oh, Tuhan, apa yang merasuki diriku? Oke, dia menarik, punya bahan perbincangan menarik, punya pikiran menarik, sorot mata menarik, well that’s it! Cuma itu! Siapapun bisa kayak gitu. Oke, aku cuma tertarik sebagai teman berbincang. Itu saja! Damn! I gotta deny.
Setelah ini, ya udah. Gue gak peduli ama yang namanya Lucas! Cuma temen berbincang aja, kayak temen iseng di MIRC.
Gak peduli die mau ngebales ato nggak!
Aku membentak diri.
awal april 2002
“Drim, ke danau yuk! Temenin gue kontemplasi jam 12 malem nanti!”
Age. Dia ulang taun.
“Dasar! Gile lu! Kagak bisa lebih malem lagi? Apa imbalan buat gue? Mau rok gue sobek lagi manjat tembok?”
“Ya, lo kan biasa pulang pagi. Ayo dong, woi! Ntar gue bayarin ngenet paket di Pastel deh!”
“Oke! Jemput gue!”
Di danau, 00:01:09..
“Met ultah, Ge.”
Age diem. Ia meniup satu lilin. Yang satu lagi dibiarin nyala di atas bangku semen. Matanya menerawang ke danau. Melamunkan hidup.
“Gue selalu ke sini tiap ultah. Kontemplasi.”
Oh..
Age ngelamun lagi. Bujug! Gue dianggurin nih! Ikutan ngelamun? Pikirku sambil nendang-nendang angin. Bosen! Kuganggu aja lamunannya.
“Kado yang paling spesial buat lo apa, Ge?”
Mm..
Tali sepatu! Kenapa? Lalu ia bilang bahwa ia mendapat tali sepatu itu waktu kelas 2 SMU. Kenapa bisa spesial, karena yang ngadoin adalah cewek yang sampai sekarang belum mampu disingkirkan relung-relung jiwa Age. Cuma satu cewek di dunia ini buat Age. Yang laen.. emang ada ya cewek lain? Sial! Gue apaan dong! Lo kan anak kecil, Drim: bukan cewek. Damn you!
Kata Age, waktu SMU dia ikut paskibra. Pada suatu hari, tepat sehari sebelum tanggal ini, tali sepatu satu-satunya untuk paskibra, putus. Padahal besoknya mau dipake untuk lomba paskibra sejakarta.
Lalu tanpa disangka-sangka, esoknya, pas Hari-H, dia dateng, di depan sekolah dia ngasih sebuah bungkungan lucu. Ternyata isinya tali sepatu. Langsung aja kuganti rafia di sepatu jadi tali. Waktu itu gue bahagiaa banget Drim. Bayangin, dari cewek yang gue sayang, walaupun dia cuma nganggep gue sobat. Die merhatiin gue disaat kritis. Dan tali sepatu itu kupajang di kamar dengan aman sampe sekarang.
“Hihi, jadi lo jatuh cinta gara-gara tali sepatu? Keren amat! Haha, ancur lo man!”
“Terus, menang?”
Hehe.. nggak.
“Terus lo sendiri gimana? Yang paling spesial apa?”
Aku terdiam sebentar. Ada dua. Tapi hanya kusebut satu saja. “Buku dongeng. Biasa banget ya?” Lebih biasa tali sepatu, kata Age. Aku mulai cerita.
Buku itu spesial karena, ya sama, dikasih orang yang spesial banget buat gue. Nggak, bukan mantan gue. Ya kayak lo deh Ge, dia nganggep sobat doang. Buku itu dibuat sendiri. Cerita buatan dia, cover, setting, jilid, semuanya independen. Katanya buku itu sengaja dibuat buat aku. Gak disebarluasin. Cuma ada dua, di aku dan di komputernya. Ceritanya tentang aku, katanya. Cuma dijadiin cerita dongeng gaya andersen gitu.Tentang gadis kecil (kenapa sih gue selalu diidentikkan dengan anak kecil?) yang berputar-putar mengelilingi dunia mencari jati diri gitu. Ga setebel Para Priyayi sih, cuma lumayan. Walau cuma limapuluhdua halaman. Malah buku Pengantar Hukum Internasionalnya Mochtar Kusumaatmadja-buku tertipis yang jadi pedoman kuliah tapi sakti mandraguna- aja masih kalah tebel. Iya, aku juga bahagiaaaa banget waktu itu. Ceritanya bagus banget deh!
Walau itu bukan kado istimewa satu-satunya, batinku. Ada satu lagi yang super spesial, yang cuma dua orang yang tau. Cuma aku, ama .. dia.
Lalu kami bercerita tentang manusia yang kami sayang. Kami bicara tentang rasa jatuh cinta.
“Ih, lo ABG banget sih Drim!” komentar Age mendengar ceritaku.
“Yee, yang namanya falling itu ya pasti balik lagi kayak ABG! Coba tanya kakek-kakek kalo lagi jatuh cinta. Pasti balik lagi kayak ABG. Wajar lagi Ge! Kalo orang jadi speechless terpaku di depan orang yang dia faliing-in itu. Salting, blushing, malu tuk sekedar ngobrol, biasa lah!”
Ckckck, ABG lo!
Kutunggu dirimu, selalu kutunggu, walaupun kutahu kau jauh. Kutahu kau jauh.
Age nyanyi lagunya Cokelat. Duh! Sakit telinga gue! Daripada lo yang nyanyi Drim! Bisa tumbang nih pohon-pohon disini! Bete lo Ge!
Kami menatap danau lagi. Merenung, ngelamun. Senyum, kangen, sang lentera..
“Ge, cabut yok!”
“Ntar dulu, lilinnya belum abis!”
“Aduh, mau pipis nih!”
“Geblek! Ya udah, ke Pastel langsung ya!”
d e w I g a n g g a
awal desember 2000
To : dewigangga@hotmail.com
Subject: Re: anestesi afghanistan
Dear miss dewi gangga,
I suggest you as miss, kalau bukan seorang penyair feminin.
Opium dari afghanistan ditanam, dipupuk, dicabuti, dan diolah di negara itu sendiri. Tinggal dikirimkan begitu saja. Yang mengkonsumsi memang bukan mereka, tetapi tujuannya adalah orang barat yang menghancurkan negara mereka. Salah? Orang barat itu sendiri yang memesan. Kenapa mesti salah? Masyarakat afghanistan telah membantu juga pemerataan demografi dunia.
Sama dengan anestesi, mematikan orang dengan penuh kesadaran. Benteng HAM pun tak lagi mampu menghentikan anestesi sampai mati, bahkan untuk bunuh diri paling tradisional seperti gantung diri menggunakan sabuk pun tak bisa. Sebab lawan HAM adalah HAM juga. Adalah Hak Asasi Manusia untuk memilih caranya hidup, asal tidak mengganggu kehidupan orang lain. Begiru persepsi para penganut HAM.
Miss gangga, saya bukan orang yang menyetujui anestesi sampai mati. Saya seorang dokter. Sudah lebih dari cukup pengalaman seluruh indera saya untuk mengatakan: I believe in miracle. Saya mempercayai adanya keajaiban. Bagaimana jantung manusia mempunyai empat kantor, satu pasang untuk darah berwarna hitam, yang satu pasang lain merah segar karena penuh oksigen. Bagaimana organ tubuh manusia, mesin yang super rumit itu bisa bekerjasama perfectly smooth.
Tidak, anestesi adalah hanya untuk membius sementara, bukan membunuh!
Karena alasan apa?
Life itself is miracle. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada detik berikutnya.
Duit yang habis-habisan sampai tujuh turunan?
Itu cuma duit. Harta bisa dicari. Tidak dengan nyawa.
Sebagai dokter atau wartawan tanya anda?
Sebagai manusia. Sebagai bagian dari kehidupan.
Lagipula saya hanya salah satu mantan dokter. Salah satu dokter yang ditarik ijin prakteknya, seperti dalam tulisan anda sebelum ini.
Nona dewi gangga, semenarik itukah makalah kami sehingga anda mengambilnya dan tidak mengembalikannya? Apakah berguna buat penelitian anda di UNESCO? Jelas Monsieur Phillippe lebih membutuhkan bagian budayanya. Itu kalau anda memang hanya mewawancarai Monsieur Phillippe.
Apakah anda masih berniat menyimpannya? Sayang yang anda ambil adalah edisi aslinya yang cuma satu-satunya. Kalau saya punya copy-nya, dengan senang hati akan saya berikan pada anda. Sayang laptop yang menyimpan datanya telah hilang ditelan bumi timur tengah.
Jadi, berniat mengembalikannya nona dewi gangga? Or, should I call, Miss Madrim?
Faithfully yours,
-lucas-
nb. Anda ini rupanya maling intelek ya? Karena anda lebih tertarik pada kertas daripada penindih kertasnya. Hehe..
Madrim…
Siapa yang bisa melupakan sosok mungil bermata besar itu? You’re an eyecatching lady, do you realize it? Gadis mungil yang selalu memakai tangan, mengubah mimik muka dalam seperempat detik, menggerakkan leher 45 derajat ke kanan, ke kiri, mengaktifkan barisan bulu tebal di atas matanya, mengernyit, tertawa, kadang-kadang menutup muka dengan kedua tangannya, semua hanya untuk menemani bibir mungilnya berkata-kata. Bahkan a simple word kayak ‘iya’ pun bisa membuat semua bergerak. Dan uniknya, walaupun semua bekerja kemana-mana, dua hal yang gak berpindah: tatapannya yang tepat menghunjam mataku-dia terus ngeliat ke atas-, dan senyumnya yang ga ilang-ilang walaupun lagi ngomong.
Hmm…
Aku fotografer belasan taun. Gak perlu waktu lama untuk tahu menariknya seseorang.
Pria itu menarik dan terpaku pada selembar foto diantara tumpukan lembar yang tersebar tak beraturan di sekelilingnya. Tersenyum. Gambar hidup close-up seorang gadis bertutup kepala hitam, tersenyum lebar dengan mata yang membelalak, mimik yang tertarik banget pada sesuatu di depannya. Angle dan timing yang tepat, profesional! Saat ini ia duduk bersila diatas karpet apartemennya yang minimalis. Tinggal sendiri. Memang selalu sendiri. Apartemen pinjeman dari bos reutersnya yang ada di London. Cuma untuk tinggal di Indonesia, sampai tugas selesai. Ia menolak tinggal di Singapore, menolak tawaran menggantikan Samuel Li menjadi kepala cabang reuters South and Southeast Asia, rindu pada kampung halaman yang sekacau negara-negara Amerika Latin. Tertarik kinerjanya di Timur tengah menjadi leader team penelitian kesehatan tahun lalu, sebenarnya tim reuters pusat berniat merekrutnya ke jabatan lebih tinggi dari sekedar reporter (statusnya di proyek timur tengah itu cuma reporter tamu, malah!). Yang berarti more hardwork. More politics. Padahal, he hates politics. Lebih menarik menjadi orang bawah yang mengubah dunia daripada orang atas yang memanipulasi rakyat. Berhubungan langsung dengan manusia, itu yang dia suka dari profesi dokter dan fotografer. Juga wartawan.
Tapi ia bukan dokter lagi. Setelah empat tahun FKUI, dua tahun Harvard Medicine sah jadi dokter, satu setengah tahun berikutnya lagi spesialis anestesi dan bedah syaraf, dua puluh dua bulan kemudian ijinnya ditarik dewan dokter Harvard. Dengan alasan absurd: menolak anestesi (sewaktu bertugas di timur tengah). Ga adil memang. Tapi, lain rumput lain belalang. Lain tempat lain budaya. Heran. Udah sejauh itu jarak Boston ama Kandhahar, masih aja tau. Entah apa yang bisa membuat dokter-dokter Harvard yang dulu mengagumi –secara diam-diam- keras kepala, (manusia menyebalkan yang selalu melawan, dan selalu benar) kecerdasan, dan kesigapan kerjanya kemudian malah berbalik mematikan profesi dokternya. Mungkin mereka mendapat info bahwa kakeknya bernama Goldstein? Entahlah. Mungkin hanya korban konspirasi ga jelas orang-orang atas. Atau mungkin cuma karena alasan kecil seperti memilih profesi. Jadi dokter, atau wartawan! Atau mungkin memang kasus anestesi? Hanya karena menolak memberi obat bius dosis super tinggi pada seorang Kurdi yang koma dua minggu dan akhirnya –betapa ajaibnya dan hebatnya Pencipta kehidupan, alleluia! (subhanallah, kata orang-orang timur tengah itu)- memang hidup kembali dan berangsur pulih. Padahal justru tubuhnya berangsur pulih setelah tak disentuh dunia medis, dibiarin kayak orang mati suri. Dianggurin gitu aja dan malah sembuh! Puji Tuhan! Memang benar kata Romo Handoko, dosen kedokteran kehakiman tua yang sangat arif bijaksana dan penyabar itu. “Kadang alam punya caranya sendiri untuk menyembuhkan mahluknya. Kamu ga akan pernah tahu. Percayakanlah pada alam, bila kamu memang sudah tak bisa menemukan jalan lain lagi. Bukan salahmu bila sesosok mahluk mati, bila kamu sudah mengusahakan semampunya. Bila Tuhan berkehendak, tak ada lagi yang bisa kamu lakukan.” (Romo Handoko lebih cocok jadi messiah daripada dokter-begitu komentar jemaatnya tiap khotbah sabtu malam)
Menjadi dokter adalah impian Lukas sejak kecil. Sejak ibundanya yang rapuh, lembut, dan penuh kasih meninggal karena kanker rahim. Di Boromeus. Saat itu usianya beranjak duabelas tahun, baru ngerasain seragam putih biru pertama kalinya. Ia anak tunggal. Ibundanya terlalu ringkih untuk membesarkan embrio di tubuhnya. Bahkan sel telurnya pun tak mampu bertahan diserbu bahkan hanya dua pemenang sperma saja. Selalu keguguran. Paling lama empat bulan.
Tujuh bulan kemudian ikut ayahnya ditugaskan ke Moskwa, lalu New York, rindu Indonesia, Lukas memutuskan menghabiskan masa SMA di Bandung, jalan Belitung delapan. Ia kos di jalan Sabang dan berkreatif ngumpulin duit: mencatat rumus-rumus mudah mengerti fisika dengan judul Pola Pikir mister Duta , laku keras; reparasi komputer dan kongsian ama anak-anak ITB dan UNPAD yang dikenalnya dari tempat ngegame di Cilaki, bikin rental komputer; ngojek di Cilaki belakang SD Ciujung; pernah juga jadi tukang bangunan. Satu hobinya yang ga ilang sejak di Rusia: fotografi. Tentu ia cari duit dari fotografi juga! Malahan ia menjadi pendiri klub fotografi di sekolah yang study minded itu. Dan uang kiriman ayahnya, benar-benar tak tersentuh sedikitpun.
Sejak ibunya meninggal, ayahnya makin sibuk kerja. Saling cuek. Gajelas kerja apaan sang bokap. Yang jelas dia peneliti bioteknologi. Katanya sih dosen dimana-mana.
Keluarga? Lukas ga pernah kenal. Ibundanya belum sempat menjelaskan semuanya. Ia tak tahu kalau ibunya gadis sebatang kara yang ditinggal mati orangtuanya gara-gara suatu pembunuhan masal tersembunyi marga Goldstein di Siberia. Entah oleh kumpulan apa. Dan karena apa.
Ayahnya, hanya manusia jawa biasa yang belajar S2 bioteknologi di Rusia.
Liliana, ibunda Lukas. Menjadi tukang sapu restoran kecil di Kiev. Lalu terjadilah pertemuan itu. Saling tertarik, saling memperhatikan, melamar-diterima, menikahlah mereka.
Dan kisah jawa klasik terjadi. Ayahanda Lukas seorang putra keluarga ningrat Notodipuro yang selalu menjaga kemurnian turunan. -Kayak serial Harry Potter aja, ada darah kotor, darah murni!-(kakek Lucas adalah turunan ketujuh Panembahan Senopati) Secantik apapun, Liliana adalah gelandangan ga jelas titik
Permohonan nikah mereka tidak di acc. Senopati hengkang dari keluarga Notodipuronya.
“ Cah edan! Kuwalat kowe!”
Sejak itu Notodipuro ia coret dari semua identitasnya.
Dan Lukas tak pernah diberitahu.
Aku ingin mendengar suaranya!
Pria itu beranjak dari karpet aquamarine dan menyomot Siemens S35 di dekat laptop. Kemudian mencari lagu di MP3, lalu eroica Beethoven pun mengalun. Ia berjalan bolak-balik sambil memegang HP. Mengambil foto, tersenyum-senyum, berjalan bolak-balik lagi, melihat HP, sampai simfoni nomer 3 di Eflat op.55 bagian satu allegro con brio abis. 15 menit! Berganti lagu Tipe-X. (Kalau Madrim yang mendengar lagu ini, dia ngapain ya? Apa bakal dengan cueknya berpogo? Apa dia ga suka musik seperti ini? Kayaknya ga mungkin.)
Satu lagu habis, berganti lagu lain. Lukas menekan tombol. Niiiit…..niiiiit….niiiit, tiga kali deringan. Ah, akhirnya!
“Ya?” suara sopran kayak anak kecil itu menerima.
“Halo, dewi gangga?”
“mm.. (ia mengulum senyum!) halo juga lukas et reuters dot kom, atau.. dokter leica?”
“Apa kabar, Madrim?” duh, basa-basi banget sih!
“Hihi, baik. Kamu?” (Wah, ia mulai ber aku-kamu. Padahal katanya anak Jakarta hanya menggunakan aku-kamu pada orang yang spesial! Walaupun hasil investigasiku nyatet dia anak Bandung juga bahkan alumni sma yang sama-ternyata aku kenal kakaknya yang satu tahun dibawahku-, tetep aja ampir empat taun ini dia jadi anak Jakarta)
“Baik juga. Dah makan?”
Yang ditanya ketawa. Pertanyaan-pertanyaan lucu! Katanya. Dan kami tertawa canggung bareng.
Tiba-tiba Madrim terdiam, telinganya yang peka mendengar sesuatu. “Eh, lagu apa tuh? Kok Lucu kayanya?”
“Oh, Duke Ellington, judulnya It don’t Mean a thing if it ain’t got that swing.” Buru-buru kuset ulang maen lima kali, cuma satu lagu ini saja. “suka? Kamu suka jazz?”
“Wah, kalo bagus ya suka. Waah, lagunya asik banget ya! Ulang lagi dong..” (sudah..)
“Lukas, kamu tahu, saat ini aku lagi nulis reply-an buat email kamu. Ih, kebetulan banget ya! “
“Kamu ga kaget aku tau nama kamu?”
Banget! Katanya. Gila aja,aku pikir udah misterius abis gitu. Eh kok ketauan juga. Aduh, aku panik juga, tau! Emang gimana taunya?
Lalu kubilang kalo aku nangkep sosok dia sewaktu di perpustakaan UNESCO. Dan aku bertanya sama satpam ngeliat daftar pengunjung, well, kebetulan kerjaanku mengharuskan aku kenal beberapa orang disana. Kok inget nomer hp kata kamu? Hm.. mana mungkin lupa. Yang ini ga kubilang. Kujawab aja becanda, namanya juga wartawan, mbak! Dia tertawa lagi. Manis, renyah banget dering tawanya, seperti gerincing lonceng-lonceng kecil di sepeda seorang anak kecil di jalanan kecil Moskwa dulu. Membuatku ingin tersenyum juga.
“Lukas, ternyata itu sebabnya kamu gak nyodorin tangan waktu kenalan.”
“Kenapa?” aku minta penjelasan, walau aku dah ngerti arahnya.
“Ya, karena kamu kenal masyarakat Timur Tengah yang strict itu, kamu jadi ga nyodorin tangan untuk berjabat tangan sewaktu kenalan. Aku sempet kaget, lho! Seorang bernama Lukas dengan sengaja tidak menyodorkan tangan untuk berkenalan! Waw! Kupikir, mungkin karena sibuk megang Leica, walau ga mungkin karena cukup satu tangan aja. Ternyata..”
“Oh, itu. Hehe.. perhatian juga kamu!”
“Nggak, kayaknya kamu deh yang perhatian. Hm.. makasih ya. Jarang lho ada orang kenalan nerima aku cuma sungkem ala Sunda aja. Mereka suka tersinggung gitu. Tapi, gara-gara bajuku gini, mereka jadi ngerti sendiri akhirnya.”
“Kenyamanan anda adalah kebahagiaan kami”
ih, kayak iklan pesawat aja!
Lalu kami mulai berbincang tak kenal waktu. Duke Ellington yang kupasang lima kali ngulang udah berganti: Nat King Cole dua lagu, tipe-X 3 lagu, chopin nomer 2, bach, r.kelly, entah apa lagi. Sampai ke duke Ellington lagi.
Entah apa saja yang kami bincangkan, rasanya ga ada habisnya. Bahwa ia terlihat seperti anak kecil-lah (kirain anak SMP! Jawabnya: huh! menyebalkan, semua orang bilang gitu. Aku dah dewasa tau! Taun depan 21 taun!). Bahwa Lukas terlihat menyeramkan, bikin keder para preman perempatan Lebak Bulus. Ia menebak umurku dan benar pada tebakan kedua. Tentang namanya, namaku, reuters, kampusnya, unesco, bach, tipe-x, dan entah apa lagi. Sampai lupa alasan bikinan yang udah kusiapin lama. Akhirnya Madrim yang mengingatkan.
“Eh, penting banget ya makalahnya?”
“Oh, iya. (aku bohong. Aku masih punya kopinya. Mana mungkin ada peneliti atau wartawan yang seceroboh itu ga buat kopinya?) Banget!”
“Masak sih ga punya kopinya lagi! Kok ada wartawan seceroboh itu!” (ia membaca pikiranku!)
“Yah, malang tak dapat ditolak. Mujur tak dapat diraih. Apa boleh buat kalau diluar jangkauan.”
“Huh! Ceroboh! Bodoh! Katanya aja dokter, fotografer, wartawan reuters, eh cerobohnya minta ampun. Payah! Udah, keluar aja dari sono, Malu! Hehe…”
“iya, deh” aku nyerah.
“Kapan, dimana mesti kubalikin?” akhirnya…
“Secepatnya! Gimana kalo besok sore, jam empat?” (besok hari jum’at, weekend buat kebanyakan orang).
“Mm.. oke. Aku tentuin lokasinya ya! Di CCF Salemba, perpustakaannya. Aku sekalian ngembaliin buku. Kumaha? Eh, gimana?” Padahal aku bisa langsung menjemputnya, mengetuk kamar kosnya. Ia pasti kaget.
“Mangga atuh.” He? Dia kaget. Kuajak berbahasa Sunda, dia belepotan. “Ih, lemes banget sundanya!”Ckck, ternyata kamu cuma tampang doang yang sunda! Hehe.. Jawa Sunda, tauk!
Tapi setelah itu ikut aku ya sampe malem, kita ngobrol. Wah, ngajak nge-date nih? Tanyanya. Iya, sebagai hukuman maling makalah! Waaah.. ia ketawa lagi.
Baiklah, pak Lukas, Your wish is my command.
chaman, perbatasan afghanistan-pakistan, pertengahan 1999
Ia diserahi tanggung jawab jadi ketua tim proyek. WHO perlu data untuk bahan konvensi-prakarsa orang-orang Headquarters di New York. Lalu merekrut dokter-dokter dari lima perguruan terkemuka US, Swiss dan Inggris. Banyak tim yang terbentuk, dikirim ke Rusia, Timur tengah (ini tim Lukas), Asia Timur, dan Eropa Latin. Anggota tim adalah dokter, wartawan, aktivis LSM international, orang WHO papan atas yang punya track record mengagumkan. Big Money! Big risk!
Karena medan yang berat, semua dilatih seperti astronot mau ngangkasa. Treadmill, puasa, push-up dan sit-up 200 kali sehari, bela diri, menembak, dan bahasa Urdu. Yang ga kuat, mundur! Lebih mirip rekrutmen agen dinas rahasia daripada pasukan medis.
WHO butuh dokter. Dokter perlu orang lapangan. Terjadilah tripartit WHO- Harvard-Reuters.
Timur tengah! Sejak dulu Lukas selalu mendambakan berkelana di daerah penuh konflik menarik itu. Menurutnya, bangsa Timur tengah adalah keagungan, misterius, kuat, ada suatu kekuatan yang berasal dari kepasrahan mereka, kekeraskepalaan mereka, penghambaan mereka. Yang membuat tak terkalahkan. Suatu kekaguman yang tertumpuk dari rasa benci sejak SD.
I Have to got the job!
Dan disinilah ia. Di perbatasan dua negara timur tengah. Menjalankan mimpinya. Dari proyek inilah kemudian ia bersahabat dengan Chad, wartawan reuters turunan Tibet. Jenis manusia berhati emas, baik, sangat baik hati. Sampai banyak yang bertanya, bagaimana manusia seperti Chad bisa menjadi wartawan reuters (cabang Arab saudi), dan lebih parah dimasukkan dalam tim sesangar ini. Tapi ternyata Chad orang paling kuat yang pernah ia temui: memasuki daerah konflik, mengangkut semua korban, tak peduli tubuhnya jadi penuh luka, bercanda dengan anak-anak kecil setempat, tidak memberi umpatan balik walau diludahi pada masyarakat setempat, penuh sabar dan senyum. Sepertinya Chad tidak pernah kenal kata “hatred”. Manusia yang akhirnya selalu menjadi manusia paling diterima dan dihormati oleh warga setempat. Manusia hebat! Bahkan kematiannya pun untuk orang lain: menjatuhkan diri diatas granat yang dilempar ke tengah kota siang bolong. Para ibu yang mendekam di rumah hanya bisa mendengar, bersyukur, dan menunggu anak-anaknya pulang-para wanita tak boleh keluar-, puluhan anak-anak yang sedang belajar selamat, dan kehilangan teman sipit favorit yang menyenangkan. Dunia kehilangan permata, aku kehilangan sahabat.
Chad vegetarian, ia Budha. Kebiasaan yang berat di daerah timur tengah. Chad tidak mengeluh, walau hanya makan gandum.
Ia memang lebih cocok menjadi petugas Palang Merah daripada wartawan.
Sejak itu Lukas jadi terpana pada orang baik. Sebelumnya ia selalu berpikir semua manusia itu munafik, ular kepala dua, percaya orang berarti bunuh diri. Hidup selalu waspada sama orang di belakang, yang siap menusuk kapan saja.
Chad-lah orang pertama yang mengembalikan rasa percaya pada orang lain setelah kematian ibundanya.
Waktu bertugasnya tinggal beberapa minggu lagi. Sudah hampir sepuluh kota Timur tengah mereka kunjungi. Kerjaan hampir selesai. Di lehernya terbelit kalung giok –dari Chad- dan Leica yang tak pernah pisah dari lehernya. Penampilannya sudah tak ada bedanya dengan para pejuang berbahasa Urdu. Anggota tim menipis, dari sepuluh orang tersisa setengahnya- mati dengan berbagai cara sepanjang perjalanan dan pengumpulan data-. Satu dokter-dia-, satu wartawan AP, dua orang WHO dan satu orang Kurdi.
Saat itulah ia melakukan perbuatan baik yang pertama-karena hati-.
Di daerah perbatasan seperti Chaman ini, adalah salah satu tempat yang bisa sedikit ambil napas lega. Memang lucu, karena hidup orang lebih aman dibawah plototan senjata pasukan perbatasan.
Banyak didirikan kamp pengungsi. Dan justru dengan menjamurnya kamp pengungsi, gerakan bawah tanah menjadi subur. Tanpa bisa dicounter, pejuang-pejuang terbentuk.
Ada satu orang yang ketahuan, pura-pura luka, hanya untuk menjadi pembawa pesan. Ia pun ditembak pasukan perbatasan. Lukas mengangkutnya-ia punya status yang membuatnya tak bisa disentuh-, mengobatinya, berusaha menyembuhkannya. Lalu Lukas mendapat telegram: anestesi sampai mati, jangan buang obat. Dari dewan Harvard, dengan nomer Reuters Arab. Langsung ia jadikan tisu toilet.
Orang Kurdi bernama Hamid yang dirawat itu ternyata berangsur sembuh, tanpa perlu diobati. Padahal ia sudah sekarat. Lalu dengan kenekatannya, diselundupkan Hamid ke Pakistan. Terserah siapapun Hamid.
Lalu proyek dihentikan tiba-tiba. Padahal menurut kontrak masih ada dua bulan lagi.
Sesampainya kembali di Harvard, Lukas menerima surat penarikan ijin dokter. Ia tak peduli, (they’re suck!) sejuta cara untuk membantu kesembuhan orang.
Lalu ia pun menjadi wartawan.
januari 2001, taman suropati menteng
Madrim, aku bermimpi. Tentang seorang wanita agung, yang menyerahkan tujuh jabang bayinya untuk jiwa para begawan salah jalan yang ingin pulang ke kahyangan. Caranya memang gawat, semua ditenggelamkan ke sungai yang kemudian jadi sungai suci di India-aku pernah kesana-. Lalu jabang bayi ketujuh tak jadi ditenggelamkan, karena sang ayah memintanya untuk menjadi penerus tahtanya. Si bayi pun hidup dan kelak menjadi tonggak seribu bangsa. Namun sang ayah harus membayar mahal, wanita agung itu ternyata seorang dewi kahyangan yang menjalani hukuman. Digariskan hidupnya untuk bertemu seorang raja, bertemu para begawan yang terbujuk rayu istri mereka untuk memerah susu sapi suci, dan bisa kembali ke kahyangan bilakan sang raja bertanya mengenai asal-usulnya. Lalu sang dewi pun kembali ke kahyangan, meninggalkan seorang putera agung, di depan sungai suci. Entah apa peranku dalam mimpi itu, tapi di akhir mimpi aku selalu melihat sosok yang semakin jelas, muncul dari tengah sungai: Kamu.
Dan madrim, mimpi ini begitu seringnya datang tanpa alasan yang jelas, sejak kita bertemu.
Entah apa artinya. Mungkin segala yang melekat padamu begitu kuatnya sampai menyebar virus yang lebih kuat dari ebola dan langsung bercokol kuat di otak, mata yang melihat kamu bicara, telinga yang mendengar suara manjamu menerjemahkan dunia, mimpi akan kedamaian dunia yang tak habis-habisnya, senyumnya, semangatnya, amarahnya, bahkan sampai berantem pun ia masih menarik.. Berada di dekatnya, aku baru sadar dunia memang tak pernah berhenti berputar, walau bumi berhenti hanya untuk kita berdua. Setiap bertemu, ada saja pelajaran baru tentang dunia. Karena ia dari dunia peri dan aku dari tanah bumi yang penuh cacing. Madrim memang selalu bercerita tentang dunia yang ia terjemahkan dari sudut pandangnya yang penuh mimpi, percaya akan keajaiban, pada ukuran yang tidak terukur, menganggap teori eksak hanyalah salah satu kemungkinan jawaban, menerobos segala aturan demi apa yang dia percaya. Semakin banyak belajar tentang hal yang pasti, semakin besar kemampuan bermimpinya. Madrim, kupikir kamu cuma bakal jadi salah satu cewek yang kulewati begitu saja setelah kencan. Ternyata, aku ketagihan. Kamu benar-benar candu ! Padahal aku tak pernah menyentuhnya.
“Lukas, kamu tau, mimpi yang pernah kamu ceritain itu, itu kan kisah dewi gangga. Sang ayah adalah raja bijak dari Hastina yang belum punya permaisuri. Lalu, si putra agung yang gajadi ditenggelamin, ya Bisma. Yang kemudian mati di tangan seorang wanita ksatria.” Kok kamu bisa mimpiin kisah wayang itu sih? Abis ngeliput apa? Tau dari mana cerita itu?
Madrim, ayahku seorang jawa. Sewaktu aku kecil mama sering berdongeng tentang banyak kisah. Semuanya indah. Namun bagi jiwaku yang masih kecil, tak ada yang semenarik dongeng ayahku yang sangat sedikit itu. Mama berdongeng hampir setiap malam, dongeng nina bobo. Ayahku sangat jago mendongeng, setiap kali ia berdongeng segala cerita yang meluncuri lidahnya terasa nyata, kisah-kisah itu seperti menarik kita ke dalam dunia lain. Kalau sudah berdongeng, semua orang bisa terbius. Tapi ayah seperti berusaha menghilangkan kecintaannya pada cerita Jawa. Kalau berbincang mengenai budaya Jawa, matanya sayu. Padahal sering aku mendapatinya mengulum lagu jawa yang mendayu. Ia bermacapat seperti bernapas. Dan ia seperti berusaha mengganti udara yang ia perlukan untuk bernapas. Seringkali, pada malam hari ketika semua orang sudah tidur hanya tokek dan burung hantu yang meramaikan dunia, hening malam digusur dan disusupi suara lain, lengkingan indah yang membentuk suatu tatanan lagu. Begitu mendayu, membius jiwa. Baru kemudian aku tahu ketika bersembunyi di gudang bersama kawan bermain sembunyi, bahwa ayahku bermain rebab. Mama lalu mencoba menyanyikan macapat yang ia tau untukku, ketika ayah sedang pergi. Lagu yang dinyanyikan ayah untuk mama ketika berkenalan, katanya. “Ono kidung rumekso ing wengi…” Aneh bila mama yang bernyanyi. Lalu aku selalu bersegera memintanya mendengungkan Kalinka, musik dari masa kecil mama. Lalu mama meninggal, dan ayah tak pernah lagi berdongeng.
Semua kuceritakan pada Madrim. Masa lalu yang hampir kukubur habis. Dan aku memuntahkan semua begitu saja pada seorang gadis yang baru kukenal sebulan ini. Begitu percaya aku padanya.
Lalu kehadiranmu mengingatkan semua dongeng itu, seolah password suatu folder yang begitu lamanya disimpan namun tak bisa hilang, lalu folder itu kemudian muncul membludakkan isinya tanpa kendali, mengkontaminasi seluruh jaringan yang ada.
“oh jadi kamu ini indo, kok ga keliatan! Gosong gini! Hahaha…” aduh gadis kecil satu ini, sulit tau kapan dia serius kapan nggak. Malah becanda orang lagi serius gini! Baru saja aku memujinya dalam hati!
Tapi mimik nakalnya langsung melembut. Ia tersenyum dan menatapku. Dan pertama kalinya ia menyentuh wajahku. “Maaf, aku cuma gatau gimana bilang makasih, I’m flattered”
Ah… senangnya! Seketika tubuh ini seperti dibanjiri air sejuk di tengah gurun. Oh, mama, aku lemah di depan gadis kecil ini. Amarahku tersedot tokek. Aku hanya bisa tersenyum, walau disengat lebah. Betapa sebuah sentuhan kecil bisa menjadi puncak candu, yang menghentikan bumi berputar. Pengemis yang lalu lalang pun terlihat bahagia, anak-anak jalanan yang gosong dan ingusan, berubah menjadi ladang bunga, sosok polisi yang menjaga kedutaan sekitar berganti wujud menjadi gerbang pelangi yang melindungi kami, di tengah taman hijau di sore hari ini. Tempat aku hang-out dengan kawan-kawan semasa kuliah. Tidak tau lagi sudah berapa jam kita di taman ini, dan sudah jam berapa sekarang. Apalah artinya waktu, katamu. Toh yang membuat lama tidaknya satu detik ya kita sendiri. Apalah artinya berapa banyak kita sudah bertemu, katamu kemudian suatu saat. Toh suatu perkenalan jiwa tak bisa dihitung oleh teori matematika.
Lalu kita pun berbincang lagi. Sampai adzan memanggilmu.
“Lukas, anter aku ke sundakelapa di deket sini ya. Magrib nih.” Oke.
Dan tanpa sadar, aku menggamit tangan mungilnya yang penuh baret luka khas anak kos, menyusuri taman, menyeberangi Bappenas, hingga Sunda Kelapa. (Lukas, seharusnya kita ga pegangan. Ini dosa, walaupun kecil, tetap dosa.) (Madrim, maaf aku menyentuh tanganmu, tapi aku ga mau mikir apa-apa sekarang, aku hanya ingin menggamit tanganmu) kami berjalan dalam diam.
“Tunggu ya Lukas, sebentar aja. Aku sholat dulu.” Ia seperti meminta izin padaku, matanya manyelidik mencari butir-butir kebosanan di mukaku. Nampaknya ia khawatir aku tak akan merasa nyaman menunggunya di lokasi peribadatan ini. Tenanglah Madrim, tempat ini salah satu tempat mainku semasa kuliah dulu. Tempat aku dan teman-teman LBH juga teman-teman kampus berdiskusi tiap malam mengenai negara, menyusun rencana pergerakan kampus, menyusun demonstrasi kampus, sampai menyusun agenda pendidikan gratis untuk anak jalanan. Lumayan, mengobati kejenuhan mata kuliah yang begitu ketat, ujian setiap akhir pekan. Sebab istirahat adalah berganti kegiatan.
“iya, aku tunggu disini.”
Menunggu tak pernah menjadi kegiatan yang menyenangkan. Kecuali dalam kasus khusus seperti saat ini, menunggui orang tertentu. Terlebih, suasana di tempat peribadatan ini memang mendukung untuk disukai dan menyamankan siapa saja yang menduduki tanahnya. Suasana relijius dan damai di tengah hiruk pikuk kota yang penuh bangsat ini. Pengemis yang mendiami selasar mesjid ini pun seperti tidak begitu berniat menjalani operasinya, berada dibawah keteduhan atap selasar saja sudah cukup melenakan. Cukup untuk melupakan cambukan si bos pengemis yang akan menuntut kurangnya setoran untuk hari ini.
“Bang, kasian bang, buat makan bang” ah, aku tersentak dari lamunan. Bocah kecil ingusan menyodorkan gelas aqua begitu saja minta diisi dengan mimik memelas yang dibuat-buat. Kutatap matanya, lama. Ia risih, dan kembali merayu. “Kok belum pulang, dik, ini dah malem lho. Yang lain bukannya dah pada balik? Tuh, dah kosong, tinggal kamu aja.” Ia diam. Bocah ini masih sangat kecil, kira-kira 6 tahun. Tapi anak jalanan biasanya tumbuh lebih pintar daripada anak lain seusianya. Sayang, ia tak cukup pintar berakting. “Ngomong-ngomong bos kamu siapa sih? Gak dijemput?” ia masih diam sambil menyorongkan aqua gelas ke mukaku.mimik memelasnya sekarang berganti rupa menjadi mimik kesal seperti ingin bilang’aku hanya ingin uangmu, susah amat sih!’ Dan anak ini rupanya cukup gigih juga, ia tak beranjak setelah sekian lama kutanya-tanya. Sepertinya ia bukan anak jalanan asli yang lepas sendiri. Tapi ia anak jalanan yang jadi anggota grup ngemis. Bahkan ngamen pun ada organisasi mafianya. Makanya sulit memberantas pengamenan, malah kian merebak kian hari di Jakarta ini. Karena it is organized! Seperti Vatikan, seperti militer, semuanya organized!
Kalau anak kecil ini bukan bagian organisasi dan hanya hidup untuk dirinya sendiri, tentulah ia tak akan sekaku ini. Anak jalanan yang merdeka biasanya jauh lebih nakal dan seenaknya, diajak ngobrol pasti nyaut banyak, dan tidak akan segigih ini diam memaksa orang mengisi gelasnya dengan sekedar 200 perak. Biasanya anak jalanan yang merdeka langsung meninggalkan apa yang menurut mereka buang waktu, cari yang lain, bersenang-senang dengan teman-temannya, super enerjik!
Sekarang bocah ingusan-yang bener-bener ingusan- ini menatap mataku seperti nantang ingin mencoba mengalahkanku. Tidak dihiraukannya cairan yang sudah menguning keluar dari hidungnya dan meluncur seperti susu kental menuju bibirnya. Setelah cairan kuning pekat itu mengena bibir bawahnya, barulah ia memutuskan untuk menyudahi penyerangan. Lengan kecil kurusnya yang penuh borok menggosok hidungnya dengan keras. Seketika muka penuh tanah dan tak kalah sepinya dari jamur itu berpaling, berlari ke luar mesjid menuju sebuah mobil pick-up. Begitu sampai, seorang pria keluar dari kursi supir dan nampak membentak habis-habisan sambil menuding-nuding bocah kecil yang dengan sok berani menantang muka si pria itu. Hampir saja lukas bangkit, ingin meninju pemuda tanggung gangster pengemis itu sampai sesosok bayangan berkelebat sepuluh meter di depannya. Hanya melintas, dalam sorban, gamis dan jenggot. Yang semuanya tak dapat menyembunyikan bentuk muka kejamnya. Seserpih memori buruk mencuat-cuat. Mata biru sadis itu, tak pernah ia bisa lupakan. Gersang. Gurun. Perang. Panah baja. Bunuh, bunuh, bunuh. Bukankah ia sudah mati? Orang oportunis berdarah dingin itu, mata-mata semua badan spionase yang bersedia membayar tarif tinggi, yang punya kelebihan. Bonus, plus: to terminate.
“Lukas, kenapa? Ada apa? Kok kayak abis ngeliat kucing ngegondol tikus?” aduh madrim, bahkan candaanmu yang suka asal aja ga bisa ngilangin kekeluanku. ”Madrim!” aku menatapnya, dan menangkup kedua pipinya. Apa dia sempat ngeliat saya? Ngeliat gadis ini, bersamaku? Suatu kengerian mulai menyelusup. Gadis semungil ini, semanis ini, tinggal di kota besar yang mengerikan ini, seorang diri! Betapa jakarta penuh oleh bangsat. Betapa aku baru menyadari arti bangsat. Padahal aku sendiri bandit sejati. “Janji, kamu gak akan pernah keluar sendiri malem-malem! Janji juga, jangan ke tempat sepi sendirian siang ataupun malem! Jangan ngobrol sama orang gak dikenal!”
“Lukas, kenapa? Iya, iya, kok jadi parno –paranoid-gini sih? Lukas, pipiku sakit. Iya, aku janji.”
Kupeluk Madrim.
Lukas, kamu kenapa? Kenapa kamu setakut ini? Abis liat apa? Bisakah kubantu? Lukas, seharusnya aku bilang kamu ga boleh meluk aku, abis ini dilarang. Tapi saat ini aku tak ingin mengatakannya seperti banyak kesempatan selama ini. Lukas, aku ingin meredakan ketakutanmu.
Madrim balas memeluk Lukas, di parkiran mesjid.
Romantis banget ya Lukas… tapi nggak. Aku ama dia gak cuma bersayang-sayang ria. Kami sama-sama keras kepala, seringkali berantem, sejak pertama kencan, hanya karena hal kecil seperti who’s paying the bill. Malahan masalah kecil begitu jadi suatu perdebatan panjang buat kami. Heran, baru kali ini ada kaum adam yang super bandel, gak gentle, gak mau kalah ama cewek… (maksudnya aku).
Minggu kedua Desember 2000, gedung dewan pers jakarta
Hari senin, aku liputan lagi. Kali ini
S c r a b b l e
Agustus 2001
Empat bulan. Empat bulan Lukas pergi, ke timur tengah katanya. Lagi. Dan aku khawatir setiap harinya. Bagaimana tidak, ia pergi dengan janggal. Ada sesuatu yang merisaukannya. Entahlah, selama aku mengenalnya, walau cuma dua ratus hari saja, ia selalu menjadi sosok pemberani. Liar, ga kenal takut. Mungkin karena hidup sendiri, lukas tidak merasa bertanggung jawab pada apapun. Bukan orang yang terkagum akan mimpi, dan selalu menghampiri maut tanpa peduli mati. Setidaknya waktu baru mengenalnya ia seperti itu. Sama-sama ga mau kalah waktu debat yang selalu jadi makanan penutup tak diundang setiap kali bertemu. Yang akibatnya setiap kencan, pulang dalam kepala panas, karena sama-sama ga sudi dikalahkan. Kalah karena mengagumi. Marah karena harus mengakui ada orang hebat di depan mata, yang ingin menjatuhkanku, untuk mengakui kekagumanku pada lawan. Madrim yang selalu diberi kemenangan dan kebahagiaan dengan mudah karena sosok manisnya dan putri bungsu pula. Lukas yang selalu merasa menang karena memang selalu menang. Dan kami sama-sama mengaku kalah.
Beberapa waktu sebelum Lukas pergi, segala dirinya tak mencerminkan Lukas yang baru kukenal itu. Masih liar, tapi juga cemas. Mimik khawatir dan tercenung memikirkan sesuatu, makin sering ia pakai. Sering ia kudapati menatapku dengan begitu anehnya, lama. Lalu meluk. Tapi ia ga pernah mau cerita. Padahal lukas selalu cerita tentang apa saja. Seolah ia ingin memuntahkan seluruh kehidupannya padaku. Aku tahu sampai detil siklus hidupnya, kecuali keluarganya. Karena lukas juga ga tauk siapa keluarga ayah dan ibunya. Cuma Seno Pati dan Liliana Senopati.
Kamu kenapa, Lukas? Madrim, aku ditugaskan lagi ke Timur Tengah, mungkin juga ke salah satu negara Rusia. Ada tugas…penting.
Itu aja penjelasannya kenapa dia mesti ke timur tengah. Gak lebih ga kurang.
Suatu ketika kami pernah berbincang mengenai profesinya. Katanya, Lukas sangat menikmati menjadi wartawan, medan perang lagi. Dan lukas makin bersyukur dipertemukan dengan dunia timur tengah. Aku tak bisa tersenyum mendengarnya, walau ia mengatakan dengan bangga waktu itu. Mengapa? Mengapa kamu bangga, Lukas? Kenapa kamu nanya, Madrim?
Yaa, wartawan sih oke aja. Cuma, yang aku ga ngerti, kenapa medan perang menjadi suatu kebanggaan?
Kenapa? Karena pertama timur tengahnya. Bagian timur tengah ini kita dah puas ngebahas, kan? He eh.
Dan tidak benar kalau kamu sebut sebagai kebanggaan, madrim. Tapi berada di tanah itu, adalah suatu tugas berat. Kamu tau kan yang kubilang timur tengah adalah masa depan dunia? Walau kamu ngebantah terus, -abis kamu ngotot setiap pelosok dunia punya masa depan sendiri, mandiri, independen. Kayak jepang jaman shogun. Dan kubilang waktu itu kamu kuno, dan utopia!- Nah, karena akan menjadi salah satu poros kuat –yang terkuat, mungkin- masa depan dunia, maka seluruh dunia dan masyarakatnya wajib tahu akan apa yang terjadi di timur tengah. Dan sebisa mungkin wartawan menjalankan ‘tugas’nya. Tunggu, Madrim, aku belum selesai bicara. Tapi, yang kamu bilang tuh banyak kelemahannya! Timur tengah ga akan jadi poros terkuat, mungkin kuat iya tapi terkuat tidak mungkin! Terlalu ekstrim sistemnya, ntar kayak komunis sovyet. Nah, itu pertama. Terus..
‘Madrim, aku belum selesai, sayang!’ tugas wartawan yang kumaksud tuh apa? Ya, membuat trial by the press secara gamblang. Gampang, tinggal kumpulin fakta sebanyak-banyaknya dan diedit, disusun dan dipampang yang sesuai dengan misi kita aja sebagai wartawan. Kayak majalah sabili yang selalu nyuguhin berita menggemparkan. Mereka gak salah kan, toh ada fakta. 5W1H ada semua. Seperti main scrabble, jumlah huruf tak pernah berubah, tapi bisa diatur jadi seribu macam alternatif kata. ‘dan itu yang saya lakuin jadi wartawan.’ Kita ciptain perdamaian dengan pengadilan yang disuguhkan dalam media massa.
‘perdamaian? Kamu masih pengen perdamaian? Kukira kamu gila perang.’
Nggaklah. Dorongan biologis manusia menuntun setiap manusia se-narsis apapun untuk punya keluarga, pasangan hidup, anak. Kamu. (Hei! Jangan liat aku kayak gitu, Lukas)hehe.. dan semua itu memerlukan suatu keadaan damai.
Apa sekarang kamu ngerasa dalam keadaan damai?
Saat ini? Iya. Abis aku punya kamu. Huh, gombal!
‘Luk, walaupun banyak yang ga aku setuju dari ide kamu yang dangerous itu, mungkin aku emang kuno dan utopia. Tapi aku tau kamu. Aku yakin kegilaan kamu yang kedenger otoriter itu pasti ada maksud baiknya. Seotoriter apapun kamu, toh kamu ingin mewujudkan damai, dan keadilan. Aku yakin itu.’
‘Kadang tanpa kompromi adalah suatu cara yang paling ngena.’
‘uncompromised person selalu bisa lebih mudah untuk dikagumi. Itu unuk William Wallace, pejuang Scot-nya Mel Gibson.’ Kami tersenyum.
Lukas ini, benar-benar punya pendirian liar, dan sangat mandiri. Kalau diumpamakan tonggak, ia satu-satunya tonggak tertinggi dan terkokoh, yang tak mau kompromi menyeragamkan diri dengan tonggak-tonggak sekitarnya, (nggak kayak ajaran yang kuambil, kupelajari, dan yang paling kusetujui dari hukum internasional yang kupelajari: everything is just about to compromise. Hukum internasional adalah kumpulan dari kompromi. Dan orang satu ini oposisinya) tak masalah dimanapun tonggak itu dipancangkan, tengah-depan-belakang-utara-selatan, ia selalu melihat paling jauh dan beraura paling kuat. Seperti magnet, dan tonggak sekitarnya adalah seonggok besi saja. Aku makin tidak suka. Karena aku semakin kagum. Aku ga mau cuma jadi sesosok tonggak besi yang ada di dekatnya sehingga hanya mampu pasrah menanti medan magnetnya menarikku dari bumi. Aku harus jadi lawannya yang seimbang. Ia juga harus bisa melihat punggungku sesekali, saling menyusul.
‘kenapa ga jadi wartawan National Geographic aja?’ aku mengatakannya tanpa sadar waktu itu. Dan ia kaget. Aku juga kaget melihat ia kaget. Aku ngomong apa barusan? Aku lupa dia pernah nyumpah-nyumpah najis untuk gabung ama tempat satu ini, katanya dia punya sejuta alasan rasa gak sukanya ama tempat satu ini.
Maaf, Luk. Aku gatau kenapa ngomong gitu. Cuma, aku ngerasa yang kamu omongin tadi itu, bukan kamu. Not entirely you! Abis, kamu ini dokter, Luk. Walau kamu dah ga punya ijin jadi dokter, tapi jiwa kamu ga bisa bohong. Dimana-mana, tanpa sadar kamu selalu nyari orang sakit –bahkan binatang paling menjijikkan sekalipun- dan selalu nemu dan kamu sembuhin. Kalo nggak, kamu yang sakit. Aku tahu betapa cintanya kamu ama kehidupan. Kamu ini adalah seorang penyembuh. Bukan pengubah. Bukan pemusnah. (yang pemusnah itu aku. Semua yang kupegang sejak kecil dengan tangan ini, pasti rusak. Eksistensi Lukas yang mengubahnya menjadi tangan hijau. Buktinya, kamarku jadi rapih, ga banyak benda yang pecah, jarang reparasi, dan aku bisa BERKEBUN! Biasanya tanaman yang kurawat dengan senang selalu mati. Dan ya, aku pemusnah, seperti dewi madrim yang membuat Pandu suaminya mati melanggar sumpah dan tergoda oleh kemolekan tubuh perempuan lagi)
Kamu penyembuh, Luk. Walaupun kamu Keras, tapi kamu bukan dan ga bisa jadi orang munafik (aku yang bisa). Dan hei, ‘trial by the press’? C’mon! I know that wasn’t ‘you’ who talked!
‘hey! That was really me who talked. Beneran aku yang bilang ide yang kamu bilang gila dan munafik itu barusan.’
Tapi aku masih ngebayangin kamu sebagai wartawan national geographic, Luk. Keliling dunia juga, sambil nyembuhin orang sakit yang ga punya duit atau fobi rumah sakit dengan jarum suntiknya, nyebarin berita mengenai kehebatan suatu budaya, dan kekuatan budaya kan jauh lebih kuat dari politik. Dan kamu dilahirkan untuk sesuatu yang lebih besar daripada sekedar politik. Yaitu humankind.
Lukas diam waktu itu. Mungkin juga ia diam karena aku memegang mukanya dan mengarahkannya agar selalu melihatku. Aku juga diam (Berpikir betapa lucunya kami. Lukas, yang dari penampakannya, tulang-tulangnya, darahnya, dan pendidikan religinya pun made in west. Tapi ia begitu kagum dan menyanjung-nyanjung fundamentalis timur yang begitu ekstrimnya. Sedangkan aku, dari busana, tingkah laku, muka, hidung, agama, all asian, jawa sunda asli. Mendengungkan kitab suci pun logat sunda. Tapi, aku begitu mengagungkan yang namanya kebebasan individu dan kompromi sebagai solusi, didikan piagam PBB.)
‘Kamu tau kenapa aku diem? Hm.. I was thinking, that was really you! maksudku, satu-satunya orang yang bisa ngomong penuh kejutan kayak tadi ya cuma kamu. Maksudku, hm..hehe… kamu lucu! He..satu-satunya orang yang bisa ngomong dengan logika super gak logis ya cuma kamu. Pokoknya satu ciri khas logic pattern kamu: gak ber-pattern! Hahaha…’
‘ih, apa maksudnya tuh!’
‘maksudku… aku mau jadi partnermu’ lukas bilang. He? ‘Itu mimpi kamu kan? Indah. Kalau iya mimpi kamu, kalau kamu mau aku mau jadi partner kamu.’
Itu pembicaraan yang udah lama banget. Tapi rasanya, selalu seperti enam jam yang lalu. Abis itu pembicaraan serius terpanjang yang paling akhir sebelum ia pamit. ‘Kamu ga usah nganter. Aku dah ada yang jemput, temen bareng ampe sana. Dan ini misi ngelibatin orang-orang edan. Aku ga mau mereka liat kamu. Denger, aku ambil cincin ini dari kamar kamu. Aku tau, ini cincin warisan nenek kamu, sangat penting. Nanti aku kembaliin waktu pulang. Jaminan. I love you. I’ll see you Madrim, My dream.’ Dan kami berpisah di depan kosku. Setelah peluk, cium, sedikit airmata dan rasa marah juga takut, takut kehilangan. Jam 8 malam. April. Ia memberiku kunci apartemennya. Titip, katanya.
Aku tak diizinkannya bertanya. Bahkan tidak juga: ‘Kapan kamu pulang?’
Pertanyaanku ini akhirnya terjawab. Tuhan menjawab do’aku yang penuh makian. (Maaf ya Tuhan, aku memaki-makiMu)
Suatu ketika pertengahan bulan agustus ini, ia kembali. Dalam keadaan babak belur. Muka penuh luka, tangan, kaki, semuanya penuh goresan seperti garpu raksasa. Aku bisa menemuinya melalui seorang kakek yang sangat dipercayainya: Romo Handoko.
Begini ceritanya..
Hari jumat minggu kedua jam sembilan malam ada yang menghubungi ponselku. Nomer Bogor. Aku ga kenal. Tapi suaranya aku kenal: suara yang begitu aku rindukan. Lenteraku, penyembuhku. Lukasku. Singkat, ia bilang:’ikutin kata romo handoko ya’. Klik. Mati.
Lima belas menit kemudian, telpon kos berbunyi. Isinya mencari aku. ‘Gatau dari siapa, kakek lo katanya.’ He, aku nyengir. Lucu juga, dapet kakek lagi setelah pada mati. Dan ia memang romo Handoko. Ia memerintahkan aku untuk bersiap dijemput dua utusannya di depan BCA Margonda. Hanya itu. Oke, I’d take the risk.
Setelah berputar-putar ga keruan, aku dibawa ke suatu rumah kecil di Sirnagalih, yang kemudian aku tahu adalah bagian belakang yang agak tersembunyi kuil Budha sekte Jepang. Tempat yang sangat amat indah! Orang Jakarta mungkin akan menganggap tempat rindang dan penuh dengan aura persahabatan ini sebagai surga. Tapi aku datang waktu malam, dengan hanya satu gambar di mata: Lukas. Dua utusan ramah yang selalu bikin aku ketawa di kemudian hari -pendeta budha (funky berambut gondrong berkaos oblong hitam) dan yang satu lagi pendeta katolik (rapi kelimis pake sendal jepit)- itu pun tampak berhati-hati sekali, membuka gerbang pelan-pelan, memakaikanku jubah pendeta gregorian. ‘kenapa aku pakai jubah ini disini, padahal kalian yang pendeta aja nggak?’ yaa.. kami kan bukan suster, bukan biarawati. Mana ada biarawati kerudungnya kuning, bajunya merah.(ya..ini kan darurat, akhi..) Daripada nyolok banget, ya mesti ditutup jubah dong.
‘Ini tempatnya, nona. Masuklah, anda sudah ditunggu. Kami harus kembali ke kantor kami sekarang. Semua pertanyaan akan terjawab di dalam. Mari, nona.’
Aku masuk. Romo Handoko yang menyambut. Aku tahu dia, karena Lukas sering menunjukkan fotonya dan selalu bercerita tentang kakek tua satu ini. Baru kali ini kami bertatap muka. Tapi kami seperti sudah saling mengenal lama.
‘Madrim, masuklah ke ruang pojok kanan itu, kekasihmu menunggumu.’ Ujarnya dengan senyum yang sangat hangat. Namun juga sorot mata yang begitu sedih. ‘Ah, romo ini….’
Tanpa tedeng aling-aling, aku langsung mengeruyak kamar pojok kanan itu. Kutemukan Lukas disana, berdiri membelakangiku yang baru masuk pintu yang berat itu. Lima meter di depanku, menaruh sebelah tangannya ke sisi atas jendela selebar 50 x50 cm yang ia buka kacanya. Angin pun menerpa kamar petak 3x3meter ini, menyapukan kesejukan yang sedingin es menyapa pipi. Untung aku masih pakai jubah.
Lukas melamun, ia diam. Aku ga tau dia sadar aku ada di belakangnya atau nggak. Aku juga ga mau mengoyak suasana dingin ini. Sebagai gantinya, aku meneliti setiap detil pemilik bayangan di depanku ini. Sebelah tangannya terluka, ia harus menggendongnya. Kepalanya diperban, gundul. Ia semakin kurus. Tulang punggung, bahu, belikatnya yang tajam dan besar makin menonjol. Aku sedih. Entahlah, walaupun ia masih bisa berdiri gagah dan tak tersentuh -walau penuh luka bersimbah darah-, bayangannya mencerminkan penderitaan, suatu rasa sakit yang begitu kecut. Mukaku jadi panas, mataku me-lahar cepat. Untung aku bisa menahan diri untuk tidak membuat kawah. Kutarik kembali lahar yang hampir tumpah seperti orang menarik ingus ke dalam hidung. Aku beringsut maju. Selangkah, dua, tiga.
‘Madrim…’ ah, aku berhenti. Ia tau aku ada. ‘dengarlah madrim sebelum kau melanjutkan langkahmu.’ Aku diam. Ia pun tak berubah posisi.
‘aku ngerusak segalanya. Aku orang berbahaya, Madrim. Aku jadi buronan. Terutama aku berbahaya buat kamu.’
‘Lukas..’
‘Lupain aku Madrim. Aku berbahaya buat kamu. Kamu ga boleh ada deket aku. Aku ngebunuh orang, Madrim!’
Aku kaget, sejenak. Kalau aku ga kenal dia, mungkin aku bakal ketakutan. Tapi dia… orang ini sangat bertanggung jawab. Bahkan segala kenekatannya pun selalu ada dalam tabel perhitungan otaknya. Ia pasti punya alasan. Tapi.. tapi… kenapa saat ini segala kedigdayaan, kekuatannya seolah kempes? Seperti singa dicabut taringnya… seperti beo diputus suaranya, seperti merak digunduli bulunya. Aku ga rela! Aku ga suka ngeliat kondisinya yang seperti tikus terpojok ini.
‘Madrim, I screw out!’
‘Nggak..’ aku melanjutkan langkahku yang kupercepat. Kupeluk punggungnya. Hingga telingaku bisa mendengar degup jantungnya yang berirama pathetique symphony third movement Tchaikovsky.
‘Madrim, kamu ngerti kan betapa bahayanya jadi orang yang deket dengan buronan? Pergilah sayang. Kumohon, keberadaanku buat kamu cuma bakal ngancurin hidup kamu.’
‘Nggak, Lukas, nggak! Please, jangan ngomong gitu. Jadi kamu nyuruh aku kesini cuma untuk ini, Lukas? Nggak, Luk. Aku tau someday kita mesti over. Tapi ga sekarang! Nggak karena alasan ini, yang belum kamu jelasin semuanya.’
Apalagi kalo kamu bohong, Luk. Kamu bohong minta aku pergi. Aku tau kamu perlu aku. Kalo kamu emang ngebunuh orang, kenapa kamu balik kesini? Kamu yang dulu pasti akan terus disana nerima hukumannya. Tapi sekarang? Kamu ada disini! Dalam pelukanku!
‘Liat aku, Lukas!’ aku beringsut maju, menangkap muka kerasnya dengan kedua tanganku.
‘Apapun yang kamu lakuin, aku percaya pasti kamu punya alasan. Dan aku disini, I’m here to do some help. Apapun itu, aku akan ada terus di sisi kamu, terutama semakin besar masalahnya, maka aku akan membantu kamu lebih besar lagi. Sampai kamu bisa bahagia, ga susah lagi, pada saat itu kalo kamu ngelepas aku, aku siap.’ Karena kamu ga pernah keliatan bahagia.
‘Madrim, keluargamu, kehidupanmu..’
‘Ssh… sudahlah. Aku hidup sendiri sejak aku keluar dari rumah.’
‘Madrim..’ kearoganannya benar-benar hilang! Aku ga percaya. Seperti anak kecil….
Sering ia bermanja seperti anak kecil. Tapi ga separah ini! Tidak pernah selinglung ini!
Ia berbalik memelukku, erat. Sampai aku kesakitan. Padahal cuma satu tangan. Dan ia sedang penuh luka. Tapi cukup untuk membuatku lumer. Begitu eratnya sampai jantungnya seperti milikku dan jantungku seperti hilang. Atau bercampur. Entah. Rasa sakit akibat pelukannya yang begitu keras hilang, seperti suara kucing di luar. Kemudian kusadari, tubuhku menginginkan lebih. Lebih dari ini. Aku takut… karena dia juga begitu. Jantung kami yang dibatasi kulit, perban dan kain itu lalu mempercepat temponya. Aku semakin takut, jantung ini rasanya ingin pergi jauh dengan tempo yang sangat cepat yang tak kuasa kulakoni. Tapi aku menginginkannya. Lampu bohlam 15watt itu memperjelas matanya yang menatapku begitu dalam. ‘Madrim, Madrim..’ Seketika aku merasa dilindungi. Aman. Ketakutanku diserapnya, menjadi senyum. Wajahku didekap satu tangannya yang begitu besar-untung hanya satu. Kalau dua-duanya, bisa habis kepalaku.-. lalu untuk pertama kalinya bibirnya menyentuh bibirku…. Aku ingat masa kecil, ketika ibuku memberi eskrim yang kurengeki seharian di taman ria… Tanganku pun langsung menutup jendela kayu yang menempel di belakangku Aku tak bisa bergerak lagi. Nafas kami makin memburu seperti habis lari. Leherku yang kedinginan di balik kain digenggamnya, seperti syal. Kepalaku yang terlindung hampir telanjang. Ia masih mendesiskan namaku berulang-ulang setiap mengambil udara. Aku sangat menikmatinya, karena dengan begini Lukas yang tak tergoyahkan dan agak sadis itu seolah kembali. Kami hampir melanjutkan semua cerita dewasa itu yang tak sepatutnya diceritakan. Sampai Romo mengetuk pintu.
E m p a t s e n a r
N o v e m b e r 2 0 0 3
Tahun ini usianya 23 tahun. Ia baru saja lulus kuliah dari fakultas hukum ui. Setelah 2 tahun meninggalkan kampus, akhirnya kembali juga pada kampus, dengan sebulan skripsi hampir saja ia tidak kembali pada kampus dan memperoleh gelar sh. Setelah sekian lama bergelut pada rasa bencinya dan rasa tidak percayanya pada segala institusi pemerintah. Segala jaringan yang pernah ada. Any organized institution. Jaringan laba-laba yang begitu rekatnya, menyelusup sampai dunia pendidikan. Sejak penganiayaan lukas..
Dan karena lukas pulalah ia menyelesaikan kuliahnya. Selain untuk nama harum keluarganya yang dikenal sebagai keluarga intelek. Tidak mungkin ia meninggalkan noda begitu saja ga selesei s1. Dengan ini, hutangnya pada orangtuanya lunas. Ia telah mnyelesaikan kuliahnya. lalu ia lepas, terbang sendiri.
Sekarang madrim di amerika. Sendiri. Dengan pertentangan keluarganya.
Madrim sudah begitu muaknya pada bangsanya, pada norma. Pada keluarga sempurnanya. Pada kehidupannya yang seolah sudah diatur harus ngikuti suatu garis yang sudah dijalurkan pemerintah. Dan agama. Dan keluarga. Begitu lulus kuliah, punya gelar, jadi konsultan hukum, kerja di gedung mewah kuningan, suatu biro hukum, dapet duit gede, berkeluarga dgn pebisnis, bikin rumah, dan kehidupan berlanjut begitu dan begitu. Betapa bosannya. Tanpa ada penyimpangan. Hidup tenang banyak duit, mama pun bahagia. LSM? haha.. temenku yang super idealis dan cerdas semasa kuliahnya terjun ke dunia ini, dan.. end up still like fancy lawyers.
‘Idealis tu cuma suatu kata sifat, atau kata kerja, yang hanya timbul suatu ketika apabila diperlukan. Seperti, makan, atau senang. Lagian, idealis terhadap apa? Bukankah akhirnya idealis cuma kata lain bagi seorang pengkhayal? Tempat paling tepat buat orang idealis cuma kuburan! Tidur selamanya’.
Madrim bosan menjadi gadis baik-baik. Apalagi setelah peristiwa yang menimpa kekasih katoliknya, Lukas. ”Jadi orang lurus di negara bego keparat ini? Huh! Apa artinya orang lurus? Kalau jalurnya semrawut dan bengkok-bengkok ga jelas? Dan kotor? Siapakah orang yang benar itu? Apakah dia yang mengikuti jalur yang sudah disediakan negaranya? Seperti suatu jalan tol yang dibangun oleh bahan dasar norma agama, lalu nilai bangsa dari kesukuan lalu aturan pemerintah dan kepentingan-kepentingan politik bangsa penjajah kapitalis besar dunia. Dan pemerintah indonesia yang kian merunduk sampai jongkok, nggelesot, mencium-cium kaki penjajah yang superkaya, demi cucuran harta sekedarnya. Sekedar perut kenyang. Tak ada lagi harga diri. Tak ada lagi harga diri. Tak ada lagi harga diri. Tak ada! Negara yang memuakkan! Negara yang tak punya harga diri untuk diperjuangkan sehingga siap untuk menanggung penderitaan.”
Lukas, kekasihnya dulu adalah wartawan reuters. Jam terbang peliputannya sudah lumayan tinggi untuk jangka waktu empat tahun. Dan kebanyakan yang ia liput adalah politik internasional dan peperangan di garis depan terutama di wilayah timur tengah. Dua tahun lalu lukas diberi tugas meliput tentang pergerakan fundamentalisme radikal di timur tengah dan badan-badan intelijen besar dunia. Lalu, mata-mata dunia timur dan barat pun ia rangkul.
Dalam tugasnya, lukas pun menjadi tumbal. Dianggap mata-mata mossad yang menyelusup ke badan intelijen indonesia. Ternyata adalah prakarsa beberapa pejabat tinggi militer dan perpolitikan banyak negara. Ah, ruwet deh kalo diruntuinin satu satu! Lukas pun dihukum mati, sebagai penghianat bangsa indonesia. Dengan seribu keanehan Lukas dianggap mati, secara perdata dan publik. Identitas lukas dipalsukan dan dihapus dari arsip kependudukan negara, dianggap tak pernah lahir, setelah diberitakan meninggal dunia tanpa jejak yang jelas. Ada yang bilang Proses eksekusinya katanya diberikan pada pemerintah israel, karena lukas dianggap anggota mata-mata mereka yang berkhianat. Namun tubuhnya tak pernah kembali. Dan pemerintah indonesia cucitangan. Kasus mata-mata mossad wni ditutup. Begitu bisikan dubes amerika pada dewan eksekutif.
Lukas yang selalu hidup sendiri. Yang hanya tahu ia hanya punya ayah di seberang benua. Tak ada yang kehilangan. Semua orang lupa. Dan gak ada yang memikirkan dan mempertanyakan sejuta misteri raibnya lukas. Hanya para gadis yang menghamba peluknya. Dan madrim salah satunya. Satu-satunya gadis beruntung yang begitu dipuja Lukas. Madrim pula satu-satunya orang yang ngotot mempermasalahkan keanehan dan ketidakadilan besar kasus Lukas. Dan pertama kalinya bener-bener sadar ama yang namanya konspirasi, kejahatan yang terorganisasi, yang tertata rapih, sistematis. Betapa kuatnya dan kokohnya suatu institusi yang di-sistemkan. Apalagi kalo dalam kejahatan. Dan betapa rapuhnya hal baik yang membuat semua orang bahagia, suatu keadilan untuk dikokohkan dalam suatu sistem.
Kini gadis mungil itu di amerika. Melepas semua atributnya, memulai dari bawah, dari nol. Hanya berbekal gelar sh, leica, dan biola. Tulisannyalah yang ia gunakan untuk mencapai New York. Melalui headquarters un, yang mengadakan lomba penulisan humanisme. Tema yang umum, hak asasi manusia. Lalu madrim pun segera mengerahkan kelebihannya. Budaya timur, indonesia, islam, jilbabnya, apapun yang dinilainya menarik perhatian dunia barat. Madrim menyuguhkan kasus lukas, rekayasa spionase internasional yang menyangkut pemerintahnya. Dengan gamblang ia paparkan kebusukan dunia internasional dengan bahasa yang sangat halus, kekanakan, dan NAIF..
Madrim tidak menang. Tapi ia dipanggil secara khusus, tidak lagi oleh unesco yang menjadi pihak penyelenggara di paris, tapi langsung ke biro pusat pbb di New York. Siasat madrim berhasil, dengan keekstriman tulisannya, ia bisa ke amerika lebih mudah. Setidaknya, tiket dan akomodasi selama sebulan ditanggung penuh, plus duit jalan-jalan. Sayang, sepadat apapun kepala dan kecerdasan madrim, tetap ga bisa menutupi rentetan kenaifannya. Madrim gak berpikir lebih jauh sampai dampak tulisannya yang bisa membawa kesulitan di kemudian hari. Mungkin memang khas anak muda, grudakan. Spontan, ga liat kanan kiri, nganggep semua bisa diatasi kalo kita mau, selalu bilang: “I’ll think of it tomorrow” kayak Scarlett O’Hara. Kesalahan pemikiran naif akibat benci yang besar pada organized institution yang bikin organized crime universally-tapi juga rasa memaafkan segala sesuatu yang salah dan keyakinan akan berubahnya kebatilan pada kebaikan dan adanya kebaikan pada segala kejahatan-. Yang akhirnya pada suatu hari mampu mengubah haluan penilaiannya terhadap organized institution. We oughtta be part of some, because we were born so. Suatu hari madrim menyadari, bahwa membutakan diri pada something organized, means selfish, dan bisa jadi trigger kejahatan. And to beat organized crime, the only manjur’ way ya, dengan organized system juga. Entah apa itu. Madrim ga mau mengasosiasikannya dengan organized divination. Or even organized individualism.
